oleh

Wapres: Ketidaktahanan pangan keluarga tak identik dengan kemiskinan

Tangkapan layar Wakil Presiden Ma’ruf Amin memberikan sambutan pada Seminar Nasional Ketahanan Pangan Keluarga & Amaliyah Ramadhan 1442 Hijriah, yg diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara daring, Senin (3/5/2021). ANTARA/Fransiska Ninditya

Sedangkan di tahun 2021, untuk bidang proteksi sosial, Pemerintah memiliki alokasi Rp110,2 triliunJakarta (ANTARA) – Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan ketidaktahanan pangan keluarga di Indonesia tidak berkaitan dengan tingkat kemiskinan suatu rumah tangga, melainkan dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan masyarakat akan gizi pangan.

“Ketidaktahanan pangan dalam keluarga tidak sering identik dengan kemiskinan; tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan tentang pangan & gizi, perilaku & pola konsumsi pangan, serta opsi diet masing-masing orang,” mengatakan Wapres Ma’ruf Amin saat membuka Seminar Nasional Ketahanan Pangan Keluarga & Amaliyah Ramadhan 1442 Hijriah secara daring, Senin.

Merujuk pada riset Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI), Wapres menyebutkan ada empat kategori ketahanan pangan di tingkat keluarga, yakni tahan pangan atau food secure, rawan pangan tanpa kelaparan, rawan pangan kelaparan moderat & rawan pangan kelaparan akut.

“Sebagian akbar rumah tangga responden (64 persen) berada dalam kategori tahan pangan & sisanya adalah kelompok rentan yg berada dalam kategori rawan pangan, yaitu rawan pangan tanpa kelaparan (28,84 persen), rawan pangan kelaparan moderat (10,14 persen) & rawan pangan kelaparan akut (1,95 persen),” ucap-nya menjelaskan.

Baca juga: Wapres: Ketahanan pangan berpengaruh pada stabilitas politik negara

Baca juga: Wapres: Perwujudan ketahanan pangan masih jadi pekerjaan rumah

Wapres mengatakan kepada kelompok rentan, Pemerintah sudah mengerjakan program jaring pengaman sosial khususnya di masa pandemik COVID-19.

Bagi mereka yg bekerja di sektor informal, berpendapatan tidak tetap & termasuk kelompok rumah tangga miskin, lanjutnya, Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp230,21 triliun di tahun 2020.

“Sedangkan di tahun 2021, untuk bidang proteksi sosial, Pemerintah memiliki alokasi Rp110,2 triliun,” tutur-nya.

Untuk meningkatkan ketahanan pangan di tingkat keluarga, Wapres mengatakan Pemerintah memiliki program pemberdayaan bagi masyarakat yg dijalankan di Kementerian Pertanian.

Beberapa program untuk peningkatan ketahanan pangan tersebut antara lain Lumbung Pangan Masyarakat, Pengembangan Pertanian Keluarga (Family Farming), Pekarangan Pangan Lestari & Pekarangan Pangan Lestari Stunting.

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2135702/wapres-ketidaktahanan-pangan-keluarga-tak-identik-dengan-kemiskinan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *