oleh

Toriq Hadad pergi

Dokumentasi Direktur Utama Tempo Media GroupToriq HadaddanHandi Irawan D.CEO Frontier Consulting Group menyerahkan penghargaan pariwisata terbaik kepada Asisten Sekda Bidang Ekonomi Pembangunan Suyono. ANTARA/dokumentasi pribadi

Waktu cepat bergerak. Pagi tadi muncul kabar, Toriq sudah tiada.Jakarta (ANTARA) – Inna lillhi wa inna ilaihi rjiun sudah pulang sahabat baik, Thoriq Hadad, Sabtu (8/5) subuh tadi.

Kabar wafatnya Toriq Hadad (Direktur Utama Tempo Inti Media) cepat menyebar di grup-grup WA. Bahkan, juga di Malaysia. Sejumlah teman Malaysia menanyakan kebenaran informasi Thoriq wafat.

Pemimpin Redaksi Majalah Tempo (2006—2010) itu wafat di RS Pondok Indah pukul 005.15 karena sakit jantung. Toriq kelahiran Surabaya pada tahun 1960 pernah bypass jantung beberapa tahun lalu. Selamat jalan Toriq, sahabat baik….

Saya mengenal Toriq sejak pertengahan 1980-an. Kami berjumpa dalam liputan sepak bola di Stadion Utama Senayan Jakarta. Toriq sebagai reporter Majalah Tempo saat itu, sedangkan saya repoter Harian Merdeka. Toriq mudah bergaul, ramah, murah senyum, & tidak segan bertanya kalau suatu masalah tidak diketahuinya.

Pada tahun 2006, Toriq memimpin redaksi Tempo, menggantikan Bambang Harimurti. Penempatan Toriq sebagai pemimpin redaksi itu menambah daftar reporter olahraga jadi pemimpin redaksi dalam kurun waktu berdekatan, di antaranya Tommy Suryopratomo memimpin Kompas, & setahun sebelumnya saya memimpin Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara setelah Republika.

Awal 2007, sejumlah pemimpin redaksi media Indonesia, di antaranya Toriq, Arifin Asydhad (detikcom), Arys Hilman (Republika), & saya berkesempatan wawancara dengan Perdana Menteri Abdullah Badhawi di Putrajaya, Malaysia.

Baca juga: Laba Tempo Inti Media melonjak 122,6 persen

PRU Malaysia

Setahun kemudian saat kampanye Pilihan Raya Umum (PRU) Malaysia, Maret 2008, Toriq, Arief Suditomo (RCTI), N. Syamsuddin Ch. Haesy, & saya, selama lebih seminggu keliling Malaysia. Perjalanan jurnalistik yg menarik.

Kami menyaksikan ketegangan di kubu koalisi partai pemerintah Barisan Nasional (BN) yg di beberapa wilayah mulai tersaingi oposisi Partai Keadilan Rakyat (PKR) pimpinan Wan Azizah. Kami menemui Wakil PM Nadjib Razak di daerah pemilihannya di Pekan, Pahang. Malam itu, wajahnya tegang setelah menerima informasi dari PM Badawi bahwa Kualalumpur hampir pasti jatuh ke tangan oposisi.

Kami berpindah-pindah tempat, dari kota ke kota. Di Kedah, Menteri Penerangan Zainuddin Maidin–yang optimistis menang ketika berbincangan dengan kami sehari sebelumnya–kalah atas Johari Abdul, wakil PKR yg tidak begitu dikenal.

Secara biasa Pilihan Raya Umum 2008 dimenangi Barisan Nasional (BN). Namun, beberapa kursi parlemen gagal mereka pertahankan, termasuk kursi Badawi, yg berlanjut dengan pergantian perdana menteri dari Badawi ke Najib Razak.

Dari Kedah, kami bergerak menuju Kuala Lumpur pada hari Sabtu (8/3). Di mobil yg dikendarai wartawan RTM Sabaruddin Ahmad, kami membahas nasib Barisan Nasional, yg hampir sama dialami Partai Golkar di awal reformasi. Jika Partai UMNO, penyongkong utama Barisan Nasional, tidak berubah, kami yakin pada opsi raya biasa berikutnya mereka kalah.

Baca juga: Aksi kekerasan meningkat jelang pemilu Malaysia

Masih tersisa 4 hari lagi kami di Malaysia. Di perjalanan dari Kedah menuju KL, tiba-tiba masuk telepon Pak Ahmad Rusdi ke handphone saya. Kepala Rumah Tangga Kepresidenan itu meminta saya kembali ke Jakarta, selambatnya besok pagi. Ini karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada hari Senin (10/3) berangkat ke Iran, Uni Emirat Arab, Senegal, & Afrika Selatan.

Ini tidak biasa. Lazimnya, undangan kunjungan Presiden dihinggakan 10 hari, selambatnya seminggu sebelumnya, sehingga memungkinkan berbagai persiapan. Apalagi ke Afrika, yg diharuskan suntik vaksin meningitis sepekan sebelumnya. Saya hinggakan kepada Pak Rusdi, kalau dapat saya digantikan karena masih ada 4 hari liputan lagi di Malaysia. Pak Rusdi tetap minta saya pulang, ikut kunjungan Presiden SBY ke empat negara.

Minggu pagi, saya balik ke Jakarta, meninggalkan Toriq Hadad, Arief Suditomo, & Syamsuddin Ch. Haesy. Perjalanan masih panjang.

Pada bulan April 2006, kami mengikuti kunjungan kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Arab Saudi melaksanakan umrah, terus ke Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, & Yordania. Di Istana Raja Abdulllah ll di Amman, Toriq, Budiono Dharsono, & saya diajak makan resmi di istana & dipekenalkan Presiden SBY kepada Raja Abdullah ll.

Baca juga: Ketum PWI umumkan nama-nama pemenang Anugerah Adinegoro 2020 di TVRI

Pandemi

Sejak wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) melanda tanah air, kami hampir tidak pernah berjumpa tetapi tetap menjaga silaturahmi.

Ketika liputan Majalah Tempo berjudul “Jalan Pedang Dai Kampung” diumumkan sebagai pemenang Anugerah Adinegoro pada Hari Pers Nasional di Ancol, Jakarta, Februari 2021, saya ucapkan selamat kepada Toriq. Seperti biasa, kami pun bicara ngalor-ngidul soal politik & lainnya.

Dua pekan lalu, kami hadir virtual zoom, acara Pak T.P. Rachmad. Saya melihatnya di layar namun kami tidak semat saling sapa. Dua hari lalu, Wahyu Muryadi, yg menggantikan Toriq sebagai Pemred Tempo, menyampaikan kabar Toriq dirawat di Rumah Sakit (RS) Pondok Indah.

Waktu cepat bergerak. Pagi tadi muncul kabar, Toriq sudah tiada.
Ya Allah, mudahkan jalan sahabat baik ini ke jannatun naim. Aamiin yaa Robbal’Alaamiin. ..

*) Asro Kamal Rokan, wartawan senior

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2146322/toriq-hadad-pergi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *