Ferdi Tanoni -
in

Tim advokasi rakyat: Kasus Montara sengaja ditutupi selama 11 tahun

Senator Rachel Siewert (kiri) dari Parliement House of Canberra, Australia, bersama Ketua Yayasan Peduli Timor Barat Ferdi Tanoni (kanan) mendengar keluhan petani rumput laut & nelayan di Desa Tablolong, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Turunnya produktivitas hasil rumput laut setelah wilayah perairan Laut Timor tercemar akibat meledaknya kilang minyak Montara di Blok Atlas Barat Laut Timor pada tanggal 21 Agustus 2009. ANTARA/Laurensius Molan

Meskipun tidak ada minyak yg hanyut ke pantai Australia, seperti yg pernah ditakutkan, beberapa minyak mencapai pantai selatan Timor Barat, Indonesia.Kupang (ANTARA) – Ketua Tim Advokasi Rakyat Korban Montara, Ferdi Tanoni, menduga pemerintah Australia & perusahaan PTTEP Australasia sengaja menutupi kasus tumpahan minyak Montara di Laut Timor, Nusa Tenggara Timur, selama 11 tahun.

Advertisements

“Pada tanggal 21 Agustus 2020 tepat 11 tahun petaka tumpahan minyak Montara di Laut Timor terjadi. Pemerintah Australia & PTTEP Australasia yg bertanggung jawab sengaja menutup-nutupinya,” mengatakan Ferdi Tanoni kepada ANTARA di Kupang, Sabtu.

Kasus ini sudah muncul dari kesaksian & kiriman untuk penyelidikan resmi pada tahun 2009 untuk tumpahan minyak & gas di lapangan Montara, lepas pantai utara Australia Barat, yg lokasinya lebih dekat ke Pulau Rote Indonesia.

Ladang minyak Montara bocor & berlangsung selama 10 pekan sebelum akhirnya ditutup. Namun, mengatakan dia, sudah memberikan akibat kerugian akbar bagi lingkungan laut & rakyat Indonesia di NTT.

“Perusahaan PTTEP Australasia & pemerintah Australia yg terlibat berusaha menyembunyikan skala & penyebab bencana ini dari pandangan publik,” katanya.

Baca juga: YPTB:11 tahun kasus pencemaran Laut Timor belum ada tindak lanjut

Selama ledakan di letak pengeboran minyak terjadi, mengatakan Ferdi, Menteri Sumber Daya & Energi Martis Ferguson & Menteri Lingkungan Peter Garrett di Australia meremehkan ukuran tumpahan & akibat lingkungan.

Mereka mengutip perkiraan yg tidak berdasar dari pemilik lapangan, yakni konglomerat Thailand PTTEP (PTT Exploration and Production Public Company Limited) bahwa sekitar 300 hingga 400 barel minyak bocor setiap hari.

Namun, bukti yg diajukan atas penyelidikan pemerintah yg dipimpin oleh mantan pegawai negeri senior David Borthwick disebutkan bahwa tumpahan minyak mencapai 3.000—4.000 barel per hari. Tumpahan minyak ini diperkirakan sudah meluas hingga 90.000 kilometer persegi.

Kasus tumpahan minyak Montara 1598090685 -Tumpahan minyak Montara per 17 September 2019 di posisi sekitar 50 km dari Pulau Roti, Nusa Tenggara Timur. ANTARA/HO-Tim Advokasi Rakyat Peduli MontaraPengajuan oleh Yayasan Konservasi Australia & kelompok lingkungan lainnya juga sudah menunjukkan kerusakan pada ekosistem lepas pantai & pesisir yg merupakan rumah bagi beragam spesies ular laut, burung, ikan, penyu, paus, lumba-lumba, & duyung.

Kerusakan jangka panjang kepada habitat tropis yg sebelumnya masih alami, menurut dia, masih belum diketahui. Demikian pula dampaknya pada industri perikanan, mutiara, & pariwisata.

“Meskipun tidak ada minyak yg hanyut ke pantai Australia, seperti yg pernah ditakutkan, beberapa minyak mencapai pantai selatan Timor Barat, Indonesia,” katanya.

Baca juga: Kasus Montara diharapkan jadi perhatian serius pemerintah

Ferdi menyebutkan terdapat bukti yg terdokumentasi dalam pengajuan Yayasan Peduli Timor Barat, sebuah LSM Indonesia, tentang bahaya kepada mata pencaharian & kesehatan hingga 300.000 orang di pesisir, termasuk di Pulau Roti & Sabu .

Pengajuan tersebut menunjuk pada minyak bersumber dari Montara & polusi timbal di air laut lokal & di antara tanaman rumput laut, katanya.

Untuk itu, pihaknya menuntut supaya pemerintah Australia segera membayarkan kompensasi kepada lebih dari 100.000 jiwa rakyat yg sudah menderita, bahkan sudah banyak yg meninggal.

“Kepada pemerintah Indonesia kami mendesak supaya surat yg direncanakan oleh Presiden Joko Widodo yg ditujukan kepada Perdana Menteri Australia segera diterbitkan,” katanya.

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/1681814/tim-advokasi-rakyat-kasus-montara-sengaja-ditutupi-selama-11-tahun

Report

What do you think?

888 points
Upvote Downvote

Written by dono

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0