oleh

Siswa SMA Polisikan Pendiri Sekolah Kompak Ngaku Korban Seksual di Kapal Pesiar & Bak Mandi

Slot SimakNews.com

Siswa SMA Polisikan Pendiri Sekolah Kompak Ngaku Korban Seksual di Kapal Pesiar & Bak Mandi

,

Online – Kasus dugaan kekerasan seksual, fisik & ekonomi di SMA Selamat Pagi Indonesia Kota Batu, Jawa Timur (Jatim) memasuki babak baru.

Penyidik Polda Jatim melanjutkan perkara ini, meski sebelumnya pihak sekolah & terlapor membantah kejadian yg dilaporkan para alumni.

Sejumlah alumni SMA SPI sebelumnya melapor ke Polda Jatim, karena sudah jadi korban dugaan kekerasan saat masih berstatus siswa.

Terlapor adalah JE yg merupakan pendiri sekolah tersebut.

Dalam konferensi pers yg dilaksanakan di SMA SPI pada Kamis (10/6/2021), pihak sekolah & terlapor menyebut kasus yg dilaporkan para alumni tidak benar & tak dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mengungkapkan, kekerasan seksual yg diduga dilakukan oleh JE, pendiri sekolah tersebut dilakukan di berbagai tempat.

Pernyataan itu dihinggakan Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait mengutip pernyataan salah satu korban yg menyampaikan itu kepada penyidik polisi.

Ia menyatakan kekerasan seksual yg dialaku korban terjadi di lingkungan sekolah, rumah pribadi bahkan di luar negeri.

Di luar negeri, kekerasan seksual itu ada yg dilakukan di kapal pesiar.

“Selain lingkungan SPI, di luar SPI bahkan ada yg di luar negeri.

Anda dapat bayangkan bahwa di luar negeri juga mereka lakukan itu di kapal-kapal pesiar jadi memang terencana,” mengatakan Arist saat mendampingi korban di Kota Batu, Sabtu (19/6/2021).

Tidak cuma itu, korban juga ada yg mengalami kekerasan seksual di bathtub atau bak mandi.

Arist mengatakan, kekerasan seksual berupa persetubuhan itu dilakukan secara terencana.

Untuk kasus kekerasan seksual yg dilakukan di rumah pribadi terlapor, yakni di Surabaya, korban diajak dengan alasan training.

Di rumah itu, korban dipanggil secara perorangan & saat itulah korban mengalami kekerasan seksual.

“Di tempat kejadian yg baru itu (rumah pribadi di Surabaya) justru anak-anak ini atau peserta didik dipanggil untuk alasan training tetapi sebenarnya di balik itu mereka satu per satu dipanggil & di situlah praktik-praktik kejahatan seksual dilakukan oleh JE,” jelas Arist.

“(Dilakukan) di rumah pribadi & di ruang-ruang privasi, lalu hingga pada tempat-tempat yg dipaksakan seperti bathup, seperti tempat-tempat yg dia harapkan.

Jadi ini tempat kejadian perkara yg baru yg patut & harus diselidiki oleh Polda Jatim,” terangnya.

Menurutnya, kekerasan seksual seperti itu tidak cuma dilakukan sekali tetapi berulang kali.

“Karena dilakukan berulang-ulang & bukan sekali.

Dan dilakukan berencana, karena apa, dipanggil satu-satu,” katanya diberitakan dari Kompas.com.

Sementara itu, Arist mengatakan, JE selaku terlapor dalam dugaan kasus itu akan diperiksa oleh penyidik Polda Jatim pada Selasa (22/6/2021) pekan depan.

“Kemarin saya diberitahu oleh Kabid Renakta Polda Jatim bahwa Hari Selasa ini, dari hasil pengembangan penyidikan terduga pelaku JE itu segera dipanggil untuk dimintai keterangan,” katanya. (tribunnews.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *