oleh

Sejarawan santri mengajak umat Islam Indonesia teladani Sunan Giri

Sejarawan Santri Zainul Milal Bizawi saat mengisi acara Ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI Perjuangan, di Jakarta, Selasa (4/5/2021). ANTARA/HO-PDIP.

…dirangkul pelan-pelan, kemudian disisipi nilai-nilai keislamanJakarta (ANTARA) – Sejarawan Santri Zainul Milal Bizawi mengajak umat Islam Indonesia untuk belajar dari keteladanan Sunan Giri yg berdakwah dengan cara merangkul & bukan memukul. Zainul menyampaikan ajakan itu saat mengisi acara Ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI Perjuangan, di Jakarta, Selasa. Acara yg ditayangkan jelang berbuka puasa itu mengambil tema “Dakwah Kultural Sunan Giri, Merangkul Bukan Memukul”. Host acara ini adalah Rano Karno, Sekretaris BKNP PDIP & juga anggota DPR RI. Sebagai seorang sejarawan, Zainul menjelaskan Sunan Giri memiliki peranan penting dalam pengembangan dakwah Islam di Nusantara, dengan memanfaatkan kekuasaan & jalur perniagaan. “Ketika Walisongo yg lain tidak dekat dengan kekuasaan, kondisi berbeda pada Sunan Giri. Sebab beliau adalah keturunan trah Brawijaya,” mengatakan Zainul dalam siaran persnya itu. Meski memiliki akses pada kekuasaan, namun Sunan Giri justru tak memanfaatkan kondisi tersebut untuk menghilangkan tradisi Hindu pada masa itu. “Tapi justru beliau biarkan saja, dirangkul pelan-pelan, kemudian disisipi nilai-nilai keislaman,” ujar Zainul. Kedudukannya sebagai penguasa menjadikannya begitu mudah dalam merangkul semua kalangan. Sunan Giri dapat memahami kondisi sosial politik saat itu, & dipakai untuk mengerjakan dakwah. Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, meskipun Sunan Giri berdomisili di daerah Gini, namun pengaruhnya merambah hingga ke Madura, Kalimantan, Sulawesi, & Lombok. “Sunan Giri ini sangat cerdas, meskipun secara kedudukan ia berdomisili di Giri, tetapi penyebarannya begitu luas, hingga Lombok, Kalimantan, & bahkan hingga ke Minangkabau,” ujarnya pula. Sunan Giri juga mengembangkan sistem pendidikan berbasis pesantren pada masanya. Dalam dakwahnya, Sunan Giri mengpakai pendekatan kultural, seperti menciptakan beberapa tembang & permainan untuk anak-anak. Salah satu yg cukup diketahui adalah cublak-cublak suweng.

beincash

Permainan itu pun diyakini memiliki makna & pesan filosofis yg cukup mendalam, yaitu mengajarkan supaya manusia tidak menuruti hawa nafsu & keserakahan dalam mencari harta atau kebahagiaan. Namun, pakai hati nurani & tetap rendah hati, supaya harta atau kebahagiaan yg diperolehnya mengandung berkah untuk diri sendiri & orang lain. “Sunan Giri mengpakai model akulturasi dengan memanfaatkan kekuasaannya yg juga merangkul masyarakat biasa dengan kesenian,” mengatakan dia pula. Baginya, kisah Sunan Giri ini juga menyiratkan betapa pentingnya untuk membuka lagi buku-buku sejarah yg bercerita tentang budaya yg sudah ada & berkembang, sehingga kelestarian budaya Nusantara tetap terjaga. Karena itu, ujarnya lagi, jangan hingga anak-anak bangsa saat ini menghancurkan kebudayaan, karena sejarah Nusantara adalah sejarah dari para Wali Songo, seperti yg dilakukan oleh Sunan Giri. “Tradisi yg sudah ada sebaiknya dijaga. Tradisi atau budaya bukanlah syirik melainkan terdapat nilai-nilai yg positif termasuk dengan nilai untuk menjaga alam. Bung Karno pernah mengatakan untuk ber-Tuhan dengan kebudayaan. Yang artinya kita harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan & juga toleransi,” ujar Zainul. Program Ngabuburit BKNP PDIP dengan tema akbar ‘Mata Air Kearifan Wali Songo’ hadir setiap hari pada bulan Ramadhan pukul 17.00 WIB. BKNP juga menggelar kegiatan yg sama sebelum sahur.
Baca juga: Ketua DPD RI: Pondok pesantren “Prototipe Civil Society”
Baca juga: MPR: Sikap toleransi Wali Songo teladan penerapan nilai kebangsaan

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2138902/sejarawan-santri-mengajak-umat-islam-indonesia-teladani-sunan-giri

ligafox

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *