oleh

SEJARAH AGNOSTIK

SEJARAH SINGKAT

Kata Agnostik ini baru pertama kali dipopulerkan secara terbuka pada tahun 1869 dalam sebuah pertemuan Masyarakat Metafisik di London. Pencetusnya adalah ahli biologi asal Inggris dan juara kompetisi kajian teori evolusi Darwin, T.H. Huxley.

Agnostisisme berasal dari perkataan Yunani gnostein (artinya “tahu; mengetahui”) dan a (artinya “tidak”). Arti harfiahnya “seseorang yang tidak mengetahui”. Agnostisisme bukan sinonim dari ateisme.

Thomas Henry Huxley, seorang ahli biologi Inggris, mencetuskan kata “agnostik” pada tahun 1869 Namun, pemikir sebelumnya dan karya tulisnya telah mempromosikan poin pandangan agnostik. Mereka yang lainnya termasuk Sanjaya Belatthaputta, abad-5 SM filsuf India yang menyatakan agnostisisme tentang akhirat apapun, Protagoras, abad-5 SM filsuf Yunani yang agnostik tentang dewa/Tuhan/Allah, dan Nasadiyasukta dalam Regweda yang agnostik tentang asal usul alam semesta.

“Istilah itu muncul di kepala saya sebagai sugestif yang bertentangan dengan ‘Gnostik’ (percaya kekuatan tak terlihat) sejarah Gereja yang mengaku tahu begitu banyak tentang hal-hal yang saya tidak tahu,” kata Huxley Selanjutnya setelah tahun itu, paham agnostik terus berkembang. Orang-orang yang kerap menyangsikan konsep agama dan keberadaan Tuhan pun akhirnya banyak yang mengikuti paham ini.

JENIS AGNOSTISISME

Agnostisisme dapat dibagi menjadi beberapa kategori, beberapa di antaranya dapat diperdebatkan. Variasinya termasuk:

Agnostik ateisme

Pandangan mereka yang tidak percaya pada keberadaan dewa/Tuhan apapun, tetapi tidak mengklaim tahu apakah dewa itu ada atau tidak ada.

Agnostik teisme

Pandangan mereka yang tidak mengaku tahu konsep keberadaan dewa/Tuhan apapun, tetapi masih percaya pada keberadaan tersebut.

 

Apatis atau agnostisisme pragmatis

Pandangan bahwa tidak ada bukti baik ada atau tidaknya dewa/Tuhan apapun, tetapi karena setiap dewa yang mungkin saja ada itu dapat bersikap tidak peduli kepada alam semesta atau kesejahteraan penghuninya, pertanyaan ini lebih bersifat akademik.

Agnostisisme kuat (juga disebut “keras”, “tertutup”, “ketat”, atau “agnostisisme permanen”)

Pandangan bahwa pertanyaan tentang ada atau tidak adanya dewa/Tuhan, dan sifat realitas tidak dapat diketahui dengan alasan ketidakmampuan alamiah kita untuk memverifikasi pengalaman dengan apapun selain pengalaman subyektif lain. Seorang penganut agnostik kuat akan mengatakan, “Saya tidak bisa tahu apakah dewa itu ada atau tidak, begitu juga kamu.”

Agnostisisme lemah (juga disebut “lunak”, “terbuka”, “empiris”, atau “agnostisisme duniawi”)

Pandangan bahwa ada atau tidaknya setiap dewa saat ini tidak diketahui, tetapi belum tentu untuk kemudian hari, sehingga orang akan menahan penilaian sampai muncul bukti yang menurutnya bisa menjadi alasan untuk percaya. Seorang penganut agnostik lemah akan berkata, “Saya tidak tahu apakah ada dewa ada atau tidak, tetapi mungkin suatu hari, jika ada bukti, kita dapat menemukan sesuatu.”

Sekian Pengetahuan singkat tentang agnostik.

Writen by: Dooomy untuk Simaknews.com

14/7/2020

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *