oleh

SAS Institute: Pemerintah waspadai mafia obat di tengah COVID-19

Slot SimakNews.com – SAS Institute: Pemerintah waspadai mafia obat di tengah COVID-19,

Ilustrasi- Obat COVID-19 (pixabay)

Jakarta (ANTARA) – Deputi Kampanye Publik Said Aqil Siroj (SAS) Institute Endang Tirtana mengingatkan kepada pemerintah untuk mewaspadai adanya mafia obat di tengah pandemi COVID-19.

Endang mengatakan hal itu, di Jakarta, Selasa, menanggapi PT Indofarma Tbk yg merilis obat terapi pasien COVID-19, Ivermectin & sudah mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat & Makanan (BPOM).

Baca juga: Anggota DPR sebut Ivermectin bagus untuk terapi pasien COVID-19

Menurut dia, perlu supervisi ketat dalam distribusi Ivermectin tersebut.

Jangan hingga nantinya obat terapi COVID-19 tersebut tidak hingga kepada mereka yg membutuhkan.

“Pihak kepolisian harus memastikan distribusi obat murah ini hingga ke tingkat terkecil, Puskesmas. Bukan nanti malah obat ini sulit dicari & dijual mahal oleh pihak tertentu,” katanya dalam keterangan tertulisnya.

Dia mengungkapkan, hilangnya masker, APD hingga hand sanitizer di awal pandemi COVID-19 harus jadi pembelajaran penting.

“Jangan hingga nantinya obat terapi pasien COVID-19 yg akan dibanderol dengan harga mulai dari Rp5.000 hingga Rp7.000 per tablet tersebut malah dimonopoli,” papar Endang.

Baca juga: Satgas: BPOM belum beri izin edar obat terapi Ivermectin

Selain itu, tambah dia, obat terapi COVID-19 itu diharapkan dapat memberikan laju penyembuhan pada masyarakat yg tengah mengerjakan isolasi mandiri.

Oleh karena itu, keberadaan obat terapi COVID-19 itu harus mudah ditemukan.

“Obat terapi ini harapannya dapat mempercepat penyembuhan mereka yg mengerjakan isolasi berdikari di rumah. Sehingga beban tenaga medis & rumah sakit dapat berkurang, & nyawa masyarakat dapat lebih banyak diselamatkan,” jelasnya.

Endang uga mengapresiasi upaya kerja pemerintah dalam upaya menuntaskan pandemi, salah satunya dengan menemukan obat terapi COVID-19 ini. Karena perlu terobosan dalam memecah kebuntuan akibat virus asal Wuhan, China itu.

“Penemuan obat terapi COVID-19 ini merupakan upaya pemerintah untuk segera keluar dari pandemi. Terobosan & ide dari Menteri BUMN Erick Thohir ini layak mendapatkan dukungan serta apresiasi,” ucapnya.

Baca juga: Kementerian BUMN luruskan informasi terkait izin BPOM Ivermectin

Walaupun sudah ada obat terapi COVID-19, Endang meminta masyarakat tidak lantas abai dengan protokol kesehatan karena mereka yg sudah menjalani vaksinasi saja masih berpotensi terjangkit COVID-19.

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengatakan PT Indofarma akan memproduksi Ivermectin dengan kapasitas 4 juta per bulannya.

Dengan adanya Ivermectin, diharapkan lonjakan kasus COVID-19 dapat ditangani.

Namun, rencana penggunaan Ivermectin untuk terapi COVID-19 mendapat sorotan tenaga kesehatan karena Ivermectin masih dalam tahap uji klinik di sejumlah rumah sakit.

Saat ini, Ivermectin dalam tahap penelitian di Balitbangkes & bekerja sama dengan beberapa rumah sakit, termasuk di antaranya RS di bawah Kementerian Pertahanan.

Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan bahwa Ivermectin dapat dipakai dalam manajemen COVID-19 baik sebagai pencegahan (profilaksis) ataupun pengobatan.

Dengan diperolehnya izin edar BPOM RI bernomor GKL2120943310A1, PT Indofarma siap memproduksi hingga 4 juta tablet Ivermectin 12 mg per bulan.

Baca juga: Erick Thohir ingatkan Ivermectin obat keras & untuk terapi COVID-19

Baca juga: Moeldoko apresiasi Erick Thohir kawal Ivermectin untuk terapi COVID-19

Baca juga: Erick Thohir sebut obat Covid-19 dari Indofarma peroleh izin BPOM

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2226758/sas-institute-pemerintah-waspadai-mafia-obat-di-tengah-covid-19

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *