Kapolresss -
in

Polisi cegah perang tradisional antardistrik di Jayawijaya

Kapolres Jayawijaya AKBP Dominggus Rumaropen saat berjumpa masyarakat yg membawa jenazah korban pembunuhan di dalam karung. Masyarakat ini hendak mengerjakan pembalasan namun dihalau oleh polisi. (ANTARA/Marius Frisson Yewun)

Wamena (ANTARA) – Sebanyak 100 personel Polres Jayawijaya, Polda Papua, disiagakan di tiga titik untuk mencegah perang tradisional antara masyarakat Kampung Meagama, Distrik Hubikosy & Kampung Kosiwuka Distrik Pelebaga.

Advertisements

Kapolres Jayawijaya AKBP Dominggus Rumaropen di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Rabu, mengatakan polisi sudah menyekat pergerakan massa yg sejak pagi hari sudah membawa peralatan perang tradisional.

“Masyarakat dua kampung itu sudah siap (berperang) & kami sudah tempatkan personel di dua kampung ini. Personel juga sudah mengerjakan penggalangan sehingga masyarakat dapat kembali ke tempat masing-masing,” katanya.

Baca juga: Pemerintah Jangan Terkesan Biarkan Perang Suku Papua

Belum ada kesepakatan perdamaian antar masyarakat yg bertikai & polisi sudah menyarankan warga dua kampung untuk memakamkan dua korban yg terdapat di dua pihak.

“Belum ada kesepakatan perdamaian karena keadaan memanas, tetapi langkah kepolisian adalah penegakan hukum yaitu pemeriksaan kepada saksi-saksi pembunuhan, kemudian kita juga mendapatkan hasil rekaman di dua tempat kejadian, sementara kami kembangkan,” katanya.

Latar belakang aksi siap berperang ini terjadi setelah seorang warga Distrik Pelebaga ditemukan meninggal di Distrik Hubikosy pada 25 Juli 2020.

“Penemuan jenazah itu menyebabkan pihak lawan tersinggung & tanpa tanya mereka turun menyerang Kampung Meagama pada Selasa,(18/8) pagi. Bertepatan dengan penyerangan itu, pas kepala desa ada, mereka habisi Kepala Desa Meagama,” katanya.

Baca juga: Kapolda Papua: dua warga diperiksa terkait konfrontasi Oksibil

Pada sore hari di hari yg sama, terjadi juga pembunuhan di Jalan Safri Darwin, Pusat Ibu Kota Kabupaten. Korban langsung meninggal dunia karena dipotong dengan benda tajam oleh sekelompok warga. Kedua kasus pembunuhan ini diduga berkaitan.

Berdasarkan pantauan pada Rabu(19/8), ratusan masyarakat dari salah satu kelompok bertikai sudah siap dengan peralatan perang tradisional yg biasa dipakai seperti parang, tombak, panah, Kampak & busur.

Aksi siap siaga itu bukan saja melibatkan orang tua, terlihat anak-anak usia pelajar setingkat SMP & SMA juga membekali diri dengan senjata tajam.

Baca juga: Personel Polrestabes Medan tewas ketika melerai konfrontasi warga

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/1677466/polisi-cegah-perang-tradisional-antardistrik-di-jayawijaya

Report

What do you think?

888 points
Upvote Downvote

Written by dono

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0