oleh

Pilu! Ditipu Tetangga, Pasangan Suami-Istri Kehilangan Rumah & Tanah

Online – Sepasang suami istri Sulhan & Nasuchah ditipu tetangganya yg kini jadi terdakwa, Khilfatil Muna & Yano Oktavianus Labert. Khilfatil & Yano saat ini ditahan di Polrestabes Surabaya.

Kejadian itu bermula pada 17 Desember 2016. Saat itu, Nasuchah didatangi Khilfatil Muna yg ternyata punya maksud meminjam sertifikat rumah milik Nasuchah untuk diagunkan di bank.

Sebelumnya nama sertifikat milik almarmhun ayah Nasuchah, Achyat dipecahkan di Notaris Lydia Masidah. Sebelum meninggal, Achyat berdasar surat keterangan waris sudah meninggalkan harta peninggalan rumah tersebut kepada 5 anaknya & dipecah jadi 3 sertifikat.

Dalam surat tersebut, Nasuchah memiliki hak tanah & rumah seluas 127 meter persegi di Jalan Gunung Anyar Tengah. Masing-masing saudaranya sudah mengambil bagian. Namun, Nasuchah belum mengambil haknya karena belum memiliki uang. Sertifikat itu masih ada di notaris Lydia Masidah.

Khilfatil kemudian datang menemui korban. Dia membujuk Nasuchah untuk mengambil sertifikat di notaris dengan memberi uang Rp 12,5 juta.

”Selanjutnya sertifikat itu dijadikan jaminan modal pinjaman ke bank. Dia berjanji 4 bulan akan dikembalikan,” ujar Nasuchah saat bersaksi di Pengadilan Negeri Surabaya pada Senin (17/5).

Nasuchah juga dijanjikan mendapatkan uang Rp 25 juta saat pinjaman cair. Segala angsuran & kembang akan ditanggung Khilfatil.

Nasuchah kemudian menebus sertifikat miliknya di notaris dengan biaya Rp 12,5 juta. Khilfatil kemudian menghubungi Anis Fatul Laela yg kini masih buron. Anis berperan sebagai penghubung dengan terdakwa dua Yano Oktafianus Labert.

”Keduanya kemudian bertemu. Anis hinggakan ke Yano kalau Nasuchah bersedia memberikan sertifikatnya seolah-olah sebagai pinjaman bank. Padahal akan dijual oleh Khilfatil & Anis Rp 400 juta,” mengatakan jaksa I Gede Willy Pramana.

Yano lalu mencari pembeli tanah tersebut. Dia kemudian berjumpa dengan pembeli Joy Sanjaya. Yano mengatakan sertifikat tersebut tidak bermasalah & pembayaran lewat rekeningnya karena Nasuchah tidak memiliki rekening.

Menurut jaksa, setelah uang Rp 400 juta diterima Yano, Khilfatil mengajak Nasuchah menuju notaris Eni Wahyuni. Awalnya, korban mengira Khilfatil mengajak ke notaris untuk mengurusi pinjaman bank. Namun, sehingganya di sana korban kaget karena ternyata yg terjadi justru perjanjian jual beli.

”Korban juga diperintahkan mengosongkan rumahnya. Hal itu menciptakan Nasuchah bingung karena dia tidak mengetahui apapun. Yano kemudian memberi uang Rp 400 juta kepada Anis,” ujar jaksa Willy.

Setelah menerima uang, Anis memberi jatah Rp 25 juta kepada Khilfatil. Terdakwa sempat memberi uang Rp 25 juta kepada Nasuchah, namun uang itu ditarik kembali.

”Katanya mau pinjem sebentar saja. Tapi ditarik lagi sama dia,” ucap Nasuchah.

Namun, hingga sekarang Nasuchah tidak menerima uang sepeserpun. Dia juga kehilangan hak atas rumahnya.(jawapos.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *