oleh

PFI dorong sinergi polisi & jurnalis demi tekan kasus intimidasi

Dokumentasi – Ketua Umum Pewarta Foto Indonesia (PFI) Reno Esnir (kanan) mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia & Kebudayaan Muhajir Effendy (kedua kanan) bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kedua kiri) saat pameran foto Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2021, di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Jumat (2/4/2021). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj

Terkadang, pimpinan di tingkat atas sudah mengerti (mengenai tugas jurnalis-red), tetapi di tingkat bawah masih ada yg luput memahami bahwa kerja jurnalis dilindungi oleh undang-undangJakarta (ANTARA) – Ketua Umum Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat Reno Esnir mendorong kepolisian & kelompok organisasi profesi jurnalis untuk bersinergi demi mencegah sekaligus menekan kasus intimidasi yg kerap dialami oleh para wartawan selama peliputan.

“Sinergi ini dalam artian membuka komunikasi dengan aparat kepolisian. Paling tidak, kami (sebagai organisasi profesi jurnalis) memberi masukan kepada kepolisian mengenai tugas-tugas jurnalistik (penting-red) untuk memberitakan kepentingan publik,” mengatakan Reno Esnir saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Menurut dia, kemitraan & sinergi yg kuat antara kepolisian & jurnalis dapat jadi salah satu cara meningkatkan kualitas kebebasan pers di Indonesia.

“Terkadang, pimpinan di tingkat atas sudah mengerti (mengenai tugas jurnalis-red), tetapi di tingkat bawah masih ada yg luput memahami bahwa kerja jurnalis dilindungi oleh undang-undang,” tutur Reno merujuk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Untuk Hari Kebebasan Pers Dunia yg diperingati tiap 3 Mei, Reno berharap ke depan kerja-kerja peliputan tidak lagi mengalami kendala & pelarangan dari oknum aparat.

Baca juga: PBB Indonesia: Jurnalisme beretika berkontribusi kepada SDGs

Baca juga: Akademisi: Kebebasan pers indikator kematangan demokrasi

Ia lanjut menyebut sejauh ini tantangan yg masih dihadapi oleh jurnalis, termasuk para pewarta foto, masih kerap ditemui kasus intimidasi, kesulitan mendapatkan izin peliputan, & adanya kasus kekerasan/kontak fisik yg dialami beberapa wartawan saat meliput aksi unjuk rasa atau kerusuhan.

Dalam kesempatan terpisah, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam catatannya menunjukkan selama kurun waktu satu tahun terakhir, ada sekitar 90 kasus kekerasan yg dialami oleh jurnalis di Indonesia.

“Dari periode 2020-2021, catatan kami ada 90 kasus kekerasan kepada jurnalis. Ini meningkat jauh dari periode sebelumnya, yg sebanyak 57 kasus,” mengatakan Ketua Divisi Advokasi AJI Erick Tanjung dalam acara virtual “Peluncuran Catatan AJI atas Situasi Kebebasan Pers Indonesia 2021”, Senin.

Beberapa kasus kekerasan itu, di antaranya intimidasi, penganiayaan, pelarangan liputan, pelarangan pemberitaan, kriminalisasi, & teror digital seperti doxing (pengungkapan data pribadi ke media sosial untuk tujuan persekusi) serta peretasan.

AJI juga mencatat anggota kepolisian menempati urutan teratas untuk pelaku kekerasan paling banyak kepada jurnalis.

Dari total 90 kasus kekerasan kepada jurnalis, sebanyak 70 persen di antaranya dilakukan polisi, sebut AJI dalam catatannya.

Sementara itu, pihak lain yg masih menghambat kerja peliputan & jadi pelaku kekerasan, di antaranya advokat, jaksa, pejabat pemerintahan/eksekutif, Satpol PP/aparat pemerintah daerah, & pihak tidak dikenal.

Baca juga: AJI sebut kekerasan kepada jurnalis meningkat hingga 90 kasus

Baca juga: AJI: Pelaku kekerasan kepada jurnalis paling banyak adalah polisi

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2136458/pfi-dorong-sinergi-polisi-dan-jurnalis-demi-tekan-kasus-intimidasi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *