oleh

Pengamat: Milenial sasaran utama perekrutan teroris

Pengamat militer & intelijen, Susaningtyas NH Kertopati. (ANTARA/Dok pribadi)

Jakarta (ANTARA) – Pengamat Militer & Intelijen Susaningtyas Kertopati mengatakan, beberapa aksi terorisme yg terjadi beberapa hari ini menunjukkan generasi milenial jadi target utama perekrutan teroris. “Milenial kebanyakan masih mencari jati diri & mengikuti arah pihak yg paling berpengaruh,” mengatakan Susaningtyas dalam siaran persnya, di Jakarta, Kamis. Serangan teror Mabes Polri dilakukan oleh seorang wanita berusia 26 tahun. Begitu pun, serangan bom Makassar juga dilakukan oleh pasangan milenial yg masih berusia 26 tahun.
Baca juga: Presiden Jokowi: Semua harus bersatu melawan terorisme
Baca juga: KBPP Polri serukan gotong royong hadapi radikalisme terorisme
Baca juga: Kosgoro 1957 sebut aksi terorisme tak dapat dianggap remeh
“Mereka adalah korban dari penetrasi ideologi kekerasan global yg masuk ke Indonesia,” mengatakan Nuning, sapaan Susaningtyas Kertopati dalam Webinar The Indonesia Intelligence Institute Rabu (31/3). Menurut Nuning, pola rekrutmen saat ini berkembang jadi lebih terbuka pakai ruang publik seperti sekolah, kampus, & perkumpulan kegiatan-kegiatan keagamaan. “Oleh karenanya, pemerintah juga harus melibatkan milenial sebagai upaya mengerjakan pencegahan supaya tidak ada perekrutan baru,” mengatakan Doktor Bidang Komunikasi Intelijen Unpad tersebut. Nuning menjelaskan dalam menganalisa kejadian terorisme harus holistik. “Kejadian bom bunuh diri itu tentu saja sinyal bahwa mereka harap menunjukkan eksistensinya. Oleh karena itu harus dikenali embrio terorisme di Indonesia itu apa saja,” ujarnya. Selain melibatkan milenial, pemerintah juga diharapkan melibatkan tokoh-tokoh publik. “Rekrutmen terorisme selain dilakukan tertutup, juga ada ruang publik yg dipakai dalam proses penjaringan seperti di media sosial,” mengatakan Nuning. Yang juga perlu diwaspadai adalah proses yg disebut “enabling environment” yaitu menormalisasi hal yg tidak normal dirasa normal. “Ini tidak boleh disepelekan & harus jadi perhatian serius semua kalangan, ” ujar wanita yg juga aktif sebagai aktivis sosial kemanusiaan ini. Mantan anggota DPR itu juga menjelaskan, militer dapat dilibatkan dalam penanganan terorisme. Penanganan terorisme di Indonesia selama ini cenderung masih dalam klasifikasi kejahatan kepada publik sehingga cenderung ditangani Polri semata. “Jika terorisme mengancam keselamatan Presiden atau pejabat negara lainnya sebagai simbol negara, maka terorisme tersebut jadi kejahatan kepada negara & harus ditanggulangi oleh TNI,” papar Nuning. Pembicara lainnya, Alto Labetubun menjelaskan di Timur Tengah, kelompok teroris mengpakai berbagai platform teknologi untuk menjaga eksistensi organisasinya. “Walaupun secara wilayah ISIS tidak lagi menguasai Suriah namun mereka masih punya sistem di dunia ‘cyber’ atau ‘cyber daulah’,” mengatakan analis keamanan yg hampir 20 tahun bertugas di Irak & Suriah tersebut. Alto berharap aparat pemerintah lebih melibatkan berbagai potensi masyarakat untuk mencegah terorisme. “Banyak anak bangsa yg jago-jago, misalnya pakar hacking yg punya jiwa merah putih,” katanya. Sebelumnya, pada Rabu (31/3) petang terduga teroris yg mengenakan pakaian serba hitam & penutup kepala berwarna biru masuk ke dalam kawasan Mabes Polri. Terduga teroris tersebut sempat menodongkan senjata api kepada aparat yg sedang bertugas di sekitar gerbang Mabes Polri. Tidak menunggu lama terduga teroris berjenis kelamin perempuan tersebut langsung dilumpuhkan dengan timah panas oleh petugas karena sudah mengancam keselamatan.

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2075590/pengamat-milenial-sasaran-utama-perekrutan-teroris

ligafox

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *