oleh

Pengamat: Calon panglima TNI harus paham perang hibrida & teritorial

Slot SimakNews.com

Pengamat: Calon panglima TNI harus paham perang hibrida & teritorial

,

Ilustrasi logo TNI. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

… calon panglima TNI juga harus menjaga secara baik kedaulatan NKRI sebaik mungkin, siap menjaga supaya tidak terjadi disintegrasi…Jakarta (ANTARA) – Pengamat militer & intelijen, Susaningtyas Kertopati, berpendapat calon panglima TNI yg akan menggantikan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto yg memasuki masa pensiun harus memahami perang hibrida & teritorial. “Saya melihat bahwa sangat tepat dalam kurun waktu sekarang ini panglima TNI dijabat orang yg paham perang hibrida, teknologi informatika, media sosial, & teritorial,” mengatakan dia, menanggapi rencana pergantian panglima TNI, di Jakarta, Rabu. Tjahjanto, abituren Akademi TNI AU pada 1986, akan memasuki masa pensiun pada November 2021 & dia adalah kader kedua TNI AU di posisi itu setelah seniornya, Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto, yg adalah tamatan Akademi TNI AU pada 1973. Panglima TNI merupakan seorang perwira tinggi TNI aktif yg pernah atau masih menjabat kepala staf matra TNI, apakah TNI AL, TNI AU, atau TNI AD.

Baca juga: Pengamat: Pengangkatan Panglima TNI pertimbangkan dua agenda strategis

Dengan demikian, peluang ke posisi panglima TNI ada pada Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Yudo Margono (Korps Pelaut, lulus Akademi TNI AL 1988, kelahiran 26 November 1965), Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Fadjar Prasetyo (Korps Penerbang, lulusan Akademi TNI AU 1988, kelahiran 9 April 1966), & Kepala Staf TNI AD, Jenderal TNI Andika Perkasa (Korps Infantri, lulusan Akademi Militer 1987, kelahiran 21 Desember 1964).

Pola pendidikan di Akademi ABRI –Kepolisian Republik Indonesia masih jadi bagian ABRI saat itu– berubah pada 1988, dimana pada tahun itu terjadi dua kali penerimaan taruna dengan peralihan pola pendidikan dari empat tahun jadi tiga tahun pendidikan.

Baca juga: Fadjroel: Calon Wakil Panglima TNI prerogatif Presiden Menurut Nuning, anggota DPR tidak akan sembarangan untuk mendukung salah satu kandidat yg akan menjabat panglima TNI karena ada evaluasi positif selain juga ada kepentingan teritorial yg membutuhkan kepemimpinan Kepala Staf TNI AD, Jenderal TNI Andika Perkasa, sebagai panglima TN. Wanita yg biasa disapa Nuning ini melihat bahwa selain harus memahami perang hibrida, teknologi informatika, medsos & teritorial, calon panglima TNI juga harus memahami tentang ancaman terorisme & radikalisme. Lebih dari itu, lanjut dia, prestasi & pengalaman akademik sebagai keniscayaan untuk dikuasai. “Adapun calon panglima TNI juga harus menjaga secara baik kedaulatan NKRI sebaik mungkin, siap menjaga supaya tidak terjadi disintegrasi,” mengatakan dia.

Baca juga: Panglima TNI: Netralitas harga mati Hal lain yg jadi pertimbangan adalah perkembangan lingkungan strategis pada tataran global & regional, sehingga dibutuhkan sosok panglima TNI yg memiliki akibat penangkalan bagi petinggi militer internasional. “Penting sekali kalau panglima TNI disegani dunia internasional. Akan sangat baik kalau panglima TNI adalah schollar warrior, perwira akademisi serta memiliki prestasi akademiknya,” ucapnya.

Baca juga: Rabu pekan ini DPR pastikan uji kelayakan calon panglima TNI Kemudian pertimbangan kebutuhan organisasi TNI dalam kurun waktu ke depan sebagai bagian modernisasi Alutsista, sehingga dibutuhkan kemampuan manajemen tempur & diplomasi militer yg handal. Ia menyatakan, berdasarkan pasal 13 ayat 4 UU Nomor 34/2004 memang mengamanatkan jabatan panglima TNI dapat dijabat perwira tinggi TNI aktif yg sedang atau pernah menjabat sebagai kepala staf matra TNI. “Ini artinya Kepala Staf TNI AD, Jenderal TNI Andika Perkasa, Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Yudo Margono, & Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, memiliki peluang yg sama untuk menjabat panglima TNI,” mengatakan dia. Meski harus bergantian, tambah dia, namun pada kenyataannya presiden yg menentukan siapa yg akan menjabat. “Hak prerogatif presiden itu memang tidak dapat diintervensi siapapun,” mengatakan dia.

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2214798/pengamat-calon-panglima-tni-harus-paham-perang-hibrida-dan-teritorial

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *