oleh

Peneliti: Pengadaan alutsista butuh perencanaan jangka panjang

Slot SimakNews.com – Peneliti: Pengadaan alutsista butuh perencanaan jangka panjang,

Dokumentasi KRI Celurit-641 menembakkan rudal C-705 ke target target di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (8-4-2021). TNI Angkatan Laut (AL) melaksanakan latihan operasi laut gabungan untuk menguji kesiapsiagaan peralatan tempur atau alutsista di lapangan. ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/Lmo/hp.

Pada tahun 1994 hingga 2008 itu tidak ada pembaruan alutsista sehingga banyak yg tingkat kesiapannya rendah karena melewati batas masa usia pakai.Jakarta (ANTARA) – Peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS) Evan A. Laksmana mengatakan butuh perencanaan jangka panjang dalam menghitung kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista) guna menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Pengadaan alutsista dapat 2 tahun, 3 tahun, bahkan 4 tahun kalau kita pesan. Jadi, untuk membeli senjata alutsista, perlu perencanaan jangka panjang yg bukan cuma 1, 2, hingga 3 tahun, bahkan dapat hingga 20 tahun,” mengatakan Evan A. Laksmana melalui keterangan tertulis yg diterima di Jakarta, Kamis.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan mewajibkan adanya transfer teknologi kalau Indonesia terpaksa membeli alutsista dari produsen luar negeri. Hal tersebut bukan perkara mudah untuk melaksanakannya.

“Kita harus beli banyak supaya dapat nego transfer teknologi & seterusnya,” katanya.

Di sisi lain, Evan berpendapat bahwa usulan anggaran sekitar Rp1.700 triliun dalam Rancangan Peraturan Presiden (Ranperpres) tentang Pemenuhan Kebutuhan Alat Peralatan Pertahanan & Keamanan (Alpalhankam) Kementerian Pertahanan-TNI 2020 hingga 2044 bukan angka yg besar.

Menurut dia, jumlah itu jauh di bawah rasio 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) per tahun. Kalau dilihat anggaran tersebut untuk 20 tahun ke depan, tidak lebih dari 0,8 persen dari PDB setiap tahunnya.

Baca juga: Pengamat sebut rencana belanja alutsista Indonesia tergolong kecil

Bahkan, kalau berbicara pengembangan kemampuan jangka panjang, sebetulnya jumlah itu masih cukup minim. Negara-negara lain, misalnya Tiongkok, India, & Jepang dapat dua hingga tiga kali lipat dari biaya tersebut selama lima hingga 10 tahun terakhir.

Sementara itu, anggota Komisi I DPR Bobby Adhityo Rizaldi mengatakan bahwa anggaran Rp1.700 triliun belum final lantaran masih dibahas di internal pemerintah antara Kementerian Pertahanan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, & Kementerian Keuangan.

Meski demikian, politikus Partai Golkar itu menegaskan bahwa parlemen mendukung langkah Kementerian Pertahanan mengerjakan pengadaan alutsista. Alasannya, postur anggaran tertinggal 10 tahun lebih mengingat pernah tidak ada pengajuan pada tahun 1994 hingga 2008.

“Pada tahun 1994 hingga 2008 itu tidak ada pembaruan alutsista sehingga banyak yg tingkat kesiapannya rendah karena melewati batas masa usia pakai,” ujarnya.

Upaya modernisasi alutsista pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono diketahui dengan kekuatan pokok minimum (KPM) atau minimum essential force (MEF) yg terdiri atas tiga rencana strategis & berlangsung hingga 2024.

Baca juga: Menhan: Kita akan modernisasi alutsista bagi TNI

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2216222/peneliti-pengadaan-alutsista-butuh-perencanaan-jangka-panjang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *