oleh

Obituari – Harmoko Sang Juru Bicara

Slot SimakNews.com – Obituari – Harmoko Sang Juru Bicara,

Arsip foto – Menteri Penerangan, Harmoko, memotret Menteri Koordinator bidang Polkam, Sudomo (kanan), sebelum Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekuin dilaksanakan, di Bina Graha, Jakarta Rabu (4/10/1989). ANTARA FOTO

… Menurut petunjuk Bapak PresidenJakarta (ANTARA) – Kabar duka kembali menyelimuti Tanah Air, Minggu malam (4/7). Mantan Menteri Penerangan era Orde Baru, Harmoko, sudah wafat pada usia 82 tahun.

Harmoko sudah sangat melekat dalam sejarah panjang bangsa Indonesia. Harmoko merupakan salah satu saksi sejarah penting, bagaimana lengsernya Orde Baru di bawah tampuk kekuasaan Soeharto, menuju era reformasi dengan gerakan yg dimotori mahasiswa pada 1998.

Tepat pada 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa berhasil menduduki Gedung DPR/MPR dengan tuntutan Soeharto mundur dari tampuk jabatan presiden Indonesia. Harmoko kala itu menjabat ketua DPR/MPR, yg setelah berbagai pergulatan yg hebat, menyatakan dukungan kepada gerakan aktivis & mahasiswa itu.

“Dalam menanggapi keadaan seperti tersebut di atas, pimpinan dewan, baik ketua maupun wakil-wakil Ketua, mengharapkan, demi persatuan & kesatuan bangsa, supaya presiden secara arif & bijaksana sebaiknya mengundurkan diri,” mengatakan Harmoko saat jumpa pers kala itu.

Dukungan Harmoko mengegerkan banyak pihak. Betapa tidak, Harmoko diketahui sangat dekat dengan Soeharto. Bahkan pernah dipercaya jadi menjadi menteri penerangan sebagai corong informasi pemerintahan Orde Baru.

Pada masa itu, Pak Harto yg sangat paham angka-angka statistik & data serta perkembangan semua program pemerintah pada skala dalam negeri & luar negeri secara eksak, tidak sering bicara langsung kepada publik ataupun wartawan.

Di situlah Harmoko diberikan kewenangan & fungsi sebagai juru bicara presiden & pemerintahan secara umum; & hampir tidak pernah ada pembetulan apapun dari keterangan-keterangan resmi ataupun “todongan wartawan” yg diralat atau diklarifikasi. Juga keterangan dari Pak Harto yg sudah melalui berbagai verifikasi data & angka dari jajarannya dalam birokrasi yg rapi.

Setelah banyak proses terjadi dalam ekskalasi yg deras, Soeharto pun memilih mundur setelah gerakan kemahasiswaan yg kemudian didukung Parlemen semakin mengkristal. Torehan prestasi memimpin Indonesia selama 32 tahun berakhir sudah & kepemimpinan nasional beralih ke pundak BJ Habibie yg saat itu adalah wakil presiden.

Permintaan Harmoko sebagai pimpinan Parlemen sekaligus wakil rakyat dari Partai Golkar –partai penguasa– merupakan bagian dari keputusan mundurnya Soeharto secara terhormat setelah sebelumnya menteri-menteri senior di kabinet kerjanya memilih mengundurkan diri.

Wartawan & juru bicara
Harmoko bin Asmoprawiro dilahirkan di Nganjuk, Jawa Timur, [ada 7 Februari 1939, mengawali kariernya wartawan di Harian Merdeka. Usai menyelesaikan sekolah menengah atas, Harmoko bekerja sebagai korektor, pembuat karikatur hingga jadi wartawan pada dasawarsa ’60-an.

Harmoko bekerja sebagai wartawan di sejumlah media di antaranya Harian Merdeka, Majalah Merdeka, Harian Angkatan Bersenjata & Harian API.

Puncak karir Harmoko di bidang jurnalistik, saat dipercayakan menahkodai kepengurusan Persatuan Wartawan Indonesia. Dengan kemampuan dimiliki Harmoko, menciptakan Presiden Soeharto kala itu meliriknya jadi juru bicara pemerintah.

Soeharto memilih dia jadi menteri penerangan selama tiga periode kabinet (1983-1997), menggantikan Ali Moertopo. Wajah Harmoko pun diketahui masyarakat Indonesia secara luas. Ia sering tampil TVRI, satu-satunya televisi di Indonesia kala itu. Bukan cuma wajah, suara Harmoko pun tidak asing, karena terlalu seringnya sang juru bicara tampil di RRI.

Sebagai juru bicara, Harmoko juga mempopulerkan Kolompok Pendengar, Pembaca, & Pirsawan (Kolempencapir), sebagai alat untuk menyebarkan informasi dari pemerintah.

“Harmoko sering muncul di televisi mengumumkan harga-harga kebutuhan pokok rakyat untuk mencegah para spekulan,” kenang Ketua MPR, Bambang Soesatyo, yg juga berlatar wartawan.

Karir politik
Puluhan tahun Harmoko jadi bagian dari rezim kekuasaan orde baru bersama Soeharto. Setelah lama berperan di pemerintahan, Harmoko pun mengubah jalan politik dengan masuk ke Parlemen. Hamoko dipercaya jadi ketua MPR dari Partai Golkar pada 1997. Sejak Orde Baru berkuasa pada 1967, MPR adalah lembaga tertinggi negara, dengan presiden sebagai salah satu lembaga tinggi sekaligus mandataris MPR.

Adapun lembaga tinggi negara lain adalah Dewan Pertimbangan Agung, DPR, Mahkamah Agung, & Badan Pemeriksa Keuangan. Setelah Orde Baru berakhir, tidak ada lagi lembaga tertinggi walau institusi MPR masih ada & tidak ada lagi yg dinamakan mandataris MPR.

Harmoko memulai karir politik di Partai Golkar. Kala itu, Golkar merupakan mesin politik kekuasaan Orde Baru. Selama kepemimpinan Soeharto sebagai presiden, di Indonesia cuma ada tiga partai yakni Golongan Karya (kemudian jadi Partai Golkar), Partai Demokrasi Indonesia (PDI, kemudian jadi PDI Perjuangan) & Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Puncak karir Harmoko di dunia politik, saat dia menakhodai Golkar sejak 1993. Dari Golkar, Harmoko jadi wakil rakyat Indonesia di Parlemen & diangkat jadi ketua MPR hingga 1999.

Soesatyo, menilai mantan Menteri Penerangan Harmoko sebagai sosok panutan bagi banyak kader Golkar. Sebagai ketua biasa DPP Golkar, Harmoko diketahui pula sebagai pencetus istilah “Temu Kader”.

“Harmoko adalah politisi senior, guru sekaligus panutan banyak kader Partai Golkar,” mengatakan Soesatyo.

Menurut dia, sebelum wafat, Harmoko tetap menunjukkan semangat luar biasa sebagai salah seorang tokoh di Partai Golkar. Harmoko rajin hadir di acara-acara akbar Partai Golkar walaupun harus duduk di kursi roda.

Hal senada dihinggakan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto, mengatakan, Harmoko adalah panutan bagi seluruh kader partai berharap. Dia juga mengenang kiprah Harmoko di balik gerakan Kelompok Pendengar, Pembaca, & Pirsawan atau Kelompencapir pada era Orde Baru.

Menurut Airlangga –putra kader Golkar & Menteri Koordinator bidang Produksi & Distribusi pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998) & Menteri Koordinator Pengawasan Pembangunan & Pendayagunaan Aparatur Negara pada Kabinet Pembangunan VII (1998-1999), Hartarto Sastrosonarto– ide itulah yg kini dilakukan di hampir seluruh institusi lewat peran kehumasan & juru bicara pemerintah.

Ide Harmoko kala itu dipakai untuk menyampaikan informasi & capaian kerja pemerintah kepada rakyat.

Harmoko juga mengerjakan Safari Ramadan ke daerah & pedesaan. Dengan latar belakang wartawan, Harmoko disebutnya sanggup berinteraksi dengan banyak kalangan. Pola komunikasi politik Harmoko dianggap begitu sederhana, sangat cair, & tidak kaku, karena latar belakang dunia kewartawanannya.

Sosok Harmoko yg begitu erat dengan perjalanan panjang bangsa Indonesia & berbagai tanda penghargaan resmi dari negara menjadikan dia layak mendiami tempat istirahat terakhir di Taman Makam Pahlawan Kalibata di Jakarta. Ucapan duka dari berbagai tokoh nasional hingga Presiden Joko Widodo, sebanding dengan jasa-jasanya untuk Negara kesatuan Republik Indonesia.

Sebagai juru bicara, Harmoko dalam setiap kesempatan mengumumkan kebijakan resmi pemerintahan Soeharto, sering diisi dengan kalimatnya yg sangat terkenal: “Menurut petunjuk Bapak Presiden…”

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2250298/obituari-harmoko-sang-juru-bicara

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *