oleh

Neville: Tamparan Bagi UEFA Karena Gagal Hukum Manchester City

SimakNews – Manchester City Selamat dari Sanksi larangan bermain di persaingan Eropa selepas Arbitrase Olahraga (CAS) mengabulkan upaya banding mereka. Eks pesepakbola Gary Neville bahkan mengevaluasi keputusan CAS itu ialah tamparan bagi Badan Sepak Bola Eropa (UEFA).

Dalam keputusannya, CAS mengukur Manchester City tidak ternyata sudah melanggar tata tertib Financial Fair Play (FFP) yang ditentukan UEFA. CAS mengukur Manchester City cuma tidak kooperatif ketika UEFA menjalankan investigasi kepada tudingan tersebut.

Oleh Sebab itu, CAS malah memastikan Manchester City cuma menerima denda sebesar 10 juta euro. Poin itu lebih rendah dari denda yang ditentukan UEFA sebelumnya, 30 juta euro.

Neville mengaku tidak kaget dengan keputusan CAS itu. Ia mengukur keputusan CAS itu memperlihatkan kelemahan UEFA sendiri. Menurut Neville, bukan rahasia awam bahwa UEFA ialah institusi yang lemah dalam menegakkan tata tertibnya sendiri.

“UEFA tidak dapat menegakkan pelanggaran disiplin yang simpel dengan benar – kami telah tahu itu selama bertahun-tahun – dan mereka tentu tak akan dapat menerima menegakkan pelanggaran yang benar itu kompleks,” ujar Neville seperti dilansir laman Sky Sports.

“Mereka merupakan organisasi yang mulai berubah dan ini dalam sebagian hal merupakan permulaan dari perubahan yang dimulai beberapa tahun yang lalu. Tetapi tidak mengherankan bahwa di pengadilan Manchester City memenangkan kasus ini karena UEFA adalah organisasi yang tidak dapat mengatur tindakan disiplin mereka sendiri.”

Neville juga menilai keputusan CAS itu sebagai tamparan bagi UEFA dan aturan FFP-nya. Menurut dia, aturan FFP yang ada saat ini memiliki banyak kelemahan.

Mantan pemain Manchester United itu menilai akan selalu ada orang kaya yang bisa menginvestasikan uangnya ke klub-klub besar dan FFP tak bisa berbuat apa-apa. Karena itu, menurut dia, harus ada perubahan dalam aturan tersebut secara mendasar.

“Aturan ini salah secara mendasar dengan ada batasan yang diberikan pada pemilik untuk memasukkan uang ke klub sepak bola yang mereka miliki. Baik itu Chelsea, Man City atau Blackburn, semua cerita yang kami miliki di Liga Premier selama 20 tahun terakhir ini,” kata Neville.

“Mereka tak akan menjadi penantang Manchester United, Arsenal dan klub lainnya tidak akan terjadi jika FFP telah diterapkan dalam bentuk yang paling benar. Saya tidak percaya itu benar. Selalu ada pemilik kaya berinvestasi ke klub sepak bola dan itu tidak akan berubah hari ini. FFP perlu diubah ke model yang berbeda.”

“Seorang pemilik harus memenuhi kewajiban yang dijanjikannya – yaitu pendapat saya tentang cara membuat model keberlanjutan di sebuah klub sepakbola.

Menurut Neville, hal terpenting yang harus diatur FFP adalah bagaimana sebuah klub bisa mendapatkan dana dari semua sumber yang mereka miliki, termasuk dari pemiliknya. Dia juga menekankan bahwa FFP seharusnya mengatur bagaimana pemilik klub bisa memenuhi janjinya.

“Jika Manchester City menandatangani kontrak (dengan pemiliknya) senilai 200 juta pound sterling untuk empat tahun ke depan dan mereka memiliki kewajiban yang dibebankan pada klub, mereka harus memiliki uang untuk dapat memenuhi itu.”

“Jika mereka mengalami kerugian per tahun sebesar 50 juta pound sterling, pemilik harus, apakah itu melalui bank garansi atau obligasi, memenuhi kewajiban yang mereka buat. Mereka tidak boleh mengacuhkan kekacauan dalam klub yang pada dasarnya merupakan aset masyarakat.”

Neville pun menilai keputusan CAS itu sangat berarti bagi Manchester City. Tak hanya soal kesempatan mereka bermain di Liga Champions, keputusan CAS itu, menurut Neville juga membuat Manchester City menyelamatkan kehormatan atas trofi yang mereka dapatkan dalam beberapa musim terakhir.

Selain itu, keputusan itu juga memberi kepastian bagi para pemain bintang Manchester City yang sempat disebut akan meninggalkan klub itu jika hukuman larangan bermain di Liga Champions benar-benar jadi diterapkan.

“Manchester City pasti sangat lega, bukan hanya soal apa yang mereka ingin capai di masa depan, tetapi itu juga menghapus noda dari trofi yang telah mereka dapatkan dalam beberapa tahun terakhir,” kata Neville.

“Seandainya mereka disuarakan bersalah, trofi tersebut akan dianggap tidak berharga di mata banyak orang.”

UEFA pada Februari lalu menjatuhkan sanksi larangan bermain di seluruh persaingan Eropa terhadap Manchester City selama dua musim ke depan. Sanksi tersebut dijatuhkan sesudah City Football Group sebagai pemilik klub dianggap melanggar tata tertib FFP.

Perusahaan milik Sheikh Mansour itu dianggap mengakali undang-undang FFP sebab menyuntikkan dana besar terhadap Manchester City lewat kontrak sponsor dari perusahaan yang juga dimiliki penguasa Uni Emirat Arab tersebut. Dana tersebut lah yang kemudian Manchester City untuk membeli banyak pemain bintang.

Imbas dari itu, sejumlah pemain Manchester City memang disebut sempat mengancam akan hengkang. Mereka disebut hanya ingin bermain di klub yang mempunyai kesempatan bersaing di Liga Champions.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *