oleh

Musyawarah & mufakat teknologi canggih warisan bangsa berdemokrasi

-Umum-5 views

Pakar komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio. (Foto ANTARA/HO.ist)

Jakarta (ANTARA) – Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio mengatakan Indonesia sudah punya teknologi yg diwariskan oleh para pendiri bangsa dalam berdemokrasi, yakni musyawarah & mufakat.

beincash

“Teknologi yg sangat canggih dalam sistem demokrasi & dapat dipakai untuk memecahkan masalah. Namanya musyawarah & mufakat,” ujar Hendri Satrio dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Hendri menyebut musyawarah mufakat adalah sebuah teknologi yg sudah jarang dipakai bahkan hampir saja dilupakan orang dalam berdemokrasi di Indonesia.

Baca juga: Wapres ajak bangun semangat mengkritik tanpa menyakiti
Baca juga: JK: “Check and Balance” penting dalam pemerintahan demokratis

Terbukti akhir-akhir ini suasana berbangsa & bernegara sangat gaduh akibat ‘perang’ kritik baik di media maupun media sosial.

Padahal, lanjut founder lembaga survei KedaiKOPI ini, kalau teknologi musyawarah & mufakat ini terpelihara dengan baik, berbagai disparitas pendapat yg ada di Indonesia, akan selesai dengan indah.

“Demokrasi itu disparitas pendapat wajar & biasa dihinggakan. Kalau selisih paham, ya kita dapat selesaikan dengan bermufakat & bermusyawarah. Intinya dalam demokrasi dalam menyampaikan pendapat Pancasila harus dijadikan dasar dalam berkomunikasi,” ungkap Hendri.

Selain itu, lanjut Hendri, kritik harus dihinggakan dengan baik.

Lebih penting lagi, jangan mengerjakan kritik yg berbau SARA, khususnya agama.

“Selalu junjung tinggi asas saling menghormati antar sesama & kedepankan Persatuan Indonesia,” tukas dosen komunikasi politik Universitas Paramadina ini.

Ia yakin bila musyawarah & muafakat itu dilakukan maka komunikasi yg terjadi dalam demokrasi adalah saling menghormati. Dan itu sangat elok dalam membangun & menjaga keutuhan bangsa & negara.

Baca juga: Wapres: Selama tidak mengancam, mengkritik bukan tindakan radikal
Baca juga: Mahfud sebut pemerintah terbuka kepada kritik

Apalagi saat ini banyak sekali musibah & gangguan yg tengah dihadapi Indonesia. Baik itu berupa pandemi maupun serangan ideologi asing.

Selain itu, tutur Hendri, dalam berkomunikasi khususnya saat memberikan kritik, semua pihak harus dapat menjaga emosi. Ini harus dihindari supaya pesan komunikasi dapat terhinggakan sehingga tidak berimbas negatif di masyarakat.

Terkait riuh rendahnya kritik atau komunikasi kepada pemerintah yg dihinggakan oleh kelompok atau perorangan, baik berupa komunikasi politik, sosial, ekonomi, bahkan kebangsaan, & lain-lain, Hendri memiliki pesan kepada pemerintah.

“Pertama pemerintah harus mempelajari bahasa rakyat dalam menyampaikan kritik. Kadang bahasa berbeda, kesantunan berbeda, & etikanya berbeda antara rakyat dengan pemerintah,” mengatakan Hendri.

Kalau itu terjadi, ungkapnya, pemerintah harus membuka ruang dialog kepada rakyat yg emosi dengan menyampaikan pendapat dengan kritik tajam.

Hal kedua, lanjut Hendri, pemerintah sebaiknya lebih banyak mendengarkan. Karena dengan mendengarkan pemerintah akan lebih mengerti kondisi masyarakat yg sebenarnya terjadi.

“Apapun hasilnya, apapun keadaannya, pemerintah itu pasti lebih bijaksana dibandingkan rakyat. Oleh karena itu yg harus lebih banyak mengerti & bersabar adalah pemerintah,” mengatakan Hendri Satrio.

Baca juga: Pengamat: Generasi muda harus terus gemakan semangat Sumpah Pemuda
Baca juga: Pengamat: Narasi kebencian harus dihentikan

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2003957/musyawarah-dan-mufakat-teknologi-canggih-warisan-bangsa-berdemokrasi

ligafox

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *