oleh

MUI: Masyarakat harus tetap waspada & patuhi protokol kesehatan

Satagas COVID-19 Kota Bandarlmapung saat mengerjakan edukasi prokes kepada masyarakat. Selasa,(11/5/2021). (ANTARA/Dian Hadiyatna)

Jakarta (ANTARA) – Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI) Dr KH Amirsyah Tambunan mengingatkan seluruh masyarakat, utamanya umat Islam supaya senantiasa peduli & mematuhi protokol kesehatan (prokes) yg ada dalam rangka memperingati Idul Fitri yg masih dalam masa pandemi COVID-19.

KH Amirsyah, dalam keterangan tertulis yg diterima ANTARA, Selasa, mengatakan COVID-19 merupakan ancaman yg nyata & juga sudah menelan banyak korban.

Dia mengungkapkan bahwa hingga saat ini yg sudah memasuki tahun kedua pandemi COVID-19 sudah ada dua tokoh MUI yg meninggal dunia, yaitu Dr Nazarudin Ramli & Dr Teuku Zulkarnaen, sehingga ini tidak cuma sekedar ancaman, tetapi sudah terbukti sudah menelan korban.

”Jadi ini adalah bukti nyata, banyak lagi tokoh-tokoh yg sudah mendahului kita. Sekali lagi saya mengingatkan bahwa kita tetap harus waspada. Kewaspadaan kepada diri kita sendiri, keluarga & masyarakat,” ujar KH Amirsyah.

Baca juga: Muhammadiyah Surabaya pastikan pelaksanaan Shalat Id patuhi prokes
Baca juga: Masjid Agung Palembang batasi jamaah Shalat Id 3.000 orang
Baca juga: Pemkab Cianjur tetap izinkan warga gelar shalat Id

Ia menjelaskan bahwa dalam Islam diperintahkan dengan tegas & jelas dalam Al Quran Surat At-Tahrim ayat 6; “ya quw anfusakum wa ahlikum nara” yg artinya “hai orang-orang beriman pelihara diri, pelihara keluarga & seluruhnya tentu daripada siksa api neraka”.

Dia menyebut bahwa neraka itu ada dua macam, neraka di dunia & neraka di akhirat. Ia meminta supaya jangan hingga kita lalai lalu COVID-19 jadi bagaikan neraka dunia bagi kita, sehingga ia meminta supaya kita harus terus waspada & menjaga diri kita dengan sebaik-baiknya.

”Jaga diri & keluarga itu adalah hukumnya wajib, dalam arti kesehatan itu adalah sesuatu yg wajib dipelihara. Kenapa wajib? Karena menjaga kesehatan itu harus terus bersama-sama, supaya kita dapat mengerjakan ibadah, kita dapat mencari nafkah buat keluarga, kita dapat beramal untuk kemaslahatan umat & bangsa,” ungkapnya.

Oleh karena itu dirinya sekali lagi menyampaikan bahwa kita harus mendahulukan yg wajib, harus diutamakan daripada yg sunah.

Ia mencontohkan misalnya sholat tarawih itu sunah, sholat di tanah lapang itu sunah hukumnya. Jangan hingga melaksanakan yg sunah kemudian terjadi kerumunan & kerumunan itu salah satu potensi penyebaran COVID-19.

”Nah kalau berkerumun lalu ada satu yg kena, itu artinya penyebarannya akan sangat berbahaya. Kalau cuma satu orang yg kena, misalnya dia kemudian langsung cepat diisolasi, itu akan lebih mudah untuk mengatasi,” jelasnya.

Dirinya mencontohkan kerumunan seperti yg terjadi di Banyuwangi, kemudian yg terjadi di Pati, kemudian sebelum Ramadhan di Jambi. Hal ini, menurut dia, sama seperti di India yg terjadi di sungai Gangga yg kemudian berakibat fatal.

”Nah potensi kerumunan itu berbahaya. Oleh karena itu saya pesan, daerah-daerah hijau yg tidak tertular COVID tetap mengpakai protokol kesehatan. Tetapi daerah yg orange atau merah yg sudah ditetapkan oleh satgas ini sebaiknya shalatnya di rumah saja. Untuk apa? Menjaga diri & keluarga. Kenapa? Karena kita sayang dengan keluarga,” tutur Amirsyah.

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2151030/mui-masyarakat-harus-tetap-waspada-dan-patuhi-protokol-kesehatan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *