oleh

Merdeka, roadmap, & alih generasi

Slot SimakNews.com

Merdeka, roadmap, & alih generasi

,

Tugu Merah Putih ANTARA terpasang di dasar laut Natuna Utara, Minggu (8/8). Pemasangan tugu oleh regu penyelam ANTARA Biro Kepri bersama Komunitas Jelajah Bahari Natuna di kedalaman 23 meter pada puncak gugusan terumbu karang kering di wilayah teritorial Indonesia yg berhadapan langsung dengan perbatasan ZEE Laut Natuna Utara tepatnya 7 mil bagian utara dari Pulau Senua, Natuna. Kepulauan Riau, merupakan rangkaian dari kegiatan HUT ke-76 RI di ANTARA Biro Kepri. ANTARA FOTO/Cherman/rwa

Jakarta (ANTARA) – Perayaan kemerdekaan Indonesia tahun ini diselimuti dukacita. Hampir setiap keluarga kita pernah mengalami duka beruntun belakangan ini. Banyak keluarga yg kehilangan ayah. Ada yg ditinggal ibu. Demikian pula ada yg bersedih karena kedua mertuanya berpulang. Tak jarang ada yg kehilangan semua anggota keluarganya.

Di bulan yg biasanya kita hadapi dengan ceria ini, kita semua dihadapkan pada kenyataan bahwa pandemik COVID-19 begitu dekat sekali. Sedekat urat leher kita. COVID-19 tak memandang manusia yg diserangnya pakar ibadah atau pakar maksiat. COVID-19 bahkan tak membedakan suku, agama, bahkan, ras. Semua sama di hadapan COVID-19.

Dari dimensi syariat, yg membedakan manusia di hadapan COVID-19 adalah cara kita berhadapan dengan kaidah kasualitas alias hukum sebab akibat. Terdapat manusia yg berikhtiar mencegah penyebaran wabah sehingga jadi bagian dari solusi di tengah wabah. Sebaliknya ada yg justeru meremehkan pandemik sehingga malah jadi bagian dari masalah itu sendiri.

Resultannya adalah wafat dalam posisi sebagai bagian solusi. Ada pula yg mati dalam posisi mejadi bagian masalah. Semua adalah rahasia Tuhan.

Baca juga: Museum Siwalima gandeng museum di Belanda rayakan HUT Indonesia

Tentu ada yg selamat melawan virus itu. Statistik menyebut 80 persen penderita sembuh. Dari dimensi hakikat, tak ada yg lebih baik antara mereka yg kembali sehat atau mereka yg harus berpulang selamanya. Semua manusia pada dasarnya ‘nglakoni’ tugasnya hingga pada waktunya. Mereka yg sudah berpulang sudah menyelesaikan tugasnya di muka bumi dengan baik.

Manusia yg masih hiduplah justeru yg wajib memetik pelajaran dari tragedi pandemik ini. Sejarah membuktikan manusia yg selamat dari wabah apapun di setiap zaman memiliki kekebalan lebih kuat dari sebelumnya. Mereka memiliki tanggung jawab sejarah melanjutkan kehidupan membangun peradaban manusia dengan kultur yg baru.

Pada skala kecil, terdapat manusia yg bertanggungjawab menopang kehidupan keluarga karena tulang punggung keluarga wafat. Pada skala yg lebih akbar ada yg harus menopang kehidupan keluarga akbar karena beberapa penopang keluarga inti meninggal. Pada skala yg jauh lebih akbar ada profesi-profesi–di segala bidang–yang kehilangan tokoh-tokoh besarnya. Para ulama & kyai ratusan yg berpulang. Demikian pula dokter, perawat, dosen, guru, & banyak lagi yg ditinggalkan para tokoh besarnya.

Mereka yg muda & selamat dari wabah dipaksa sang waktu untuk melanjutkan estafet profesi & keilmuan di segala bidang. Ulama muda harus segera tampil. Demikian pula dokter, perawat, dosen, & guru muda harus segera tampil di pentas sejarah. Pada merekalah peradaban dalam melewati pandemik & pascapandemik bertumpu.

Baca juga: Memaknai “Agustusan” di tengah pembatasan & keterbatasan

Pada konteks ini terjadi regenerasi besar-besaran di segala bidang yg dapat berujung positif atau sebaliknya. Positif bila anak-anak muda cepat belajar untuk mengambil alih estafet dari mereka yg pergi. Demikian pula dapat berdampak negatif bila generasi muda lambat belajar sehingga terjadi fenomena mata rantai putus pada bidang ilmu tertentu. Bila itu terjadi, maka memulihkannya membutuhkan waktu puluhan tahun.

Pada suasana ini para pakar & praktisi senior di setiap bidang harus menyiapkan jalur regenerasi yg terbaik di tengah keterbatasan karena pandemik. Badan Riset & Inovasi Nasional (BRIN) misalnya mengundang para peneliti diaspora di luar negeri dengan kriteria spesifik untuk mengikuti tes CPNS. Kementerian Pendidikan & Kebudayaan menerapkan program kampus merdeka di setiap perguruan tinggi dengan menggandeng dunia kerja. Ini harus dipandang sebagai terobosan untuk percepatan alih kompetensi antar generasi.

Presiden Joko Widodo menyadari kebutuhan mendesak alih generasi tersebut sehingga baru saja meminta Menteri Kesehatan untuk memikirkan peta jalan alias road map kalau pandemik ini harus dilewati bertahun-tahun. Mungkin 3 tahun, 4 tahun, bahkan mungkin lebih dari 5 tahun. Sektor pendidikan formal termasuk yg jadi prioritas karena terkait peralihan kompetensi antargenerasi.

Prinsipnya adalah bagaimana bangsa ini dapat hidup di tengah virus yg belum dapat dienyahkan dengan tetap produktif. Diksinya adalah hidup berdamai & hidup berdampingan dengan virus, tetapi substansinya adalah ‘perang’ dengan membentegi diri kita dengan meningkatkan imunitas & menerapkan protokol kesehatan. Substansi itu yg tidak boleh diplintir oleh pihak-pihak yg tidak bertanggung jawab.

Baca juga: Belajar merdeka dari pandemi Covid-19 ala Pancasila

Ibarat sebuah peperangan. Tentu banyak cara menghadapi ancaman musuh. Ketika musuh terlalu akbar kekuatannya, maka kita harus menerapkan strategi avoiding alias menghindar. Itulah yg sudah kita lakukan dengan menerapkan pembatasan-pembatasan gerak untuk menghindari paparan dengan virus. Strategi menghindar ini banyak dilakukan pada perang di manapun.

Namun, ketika perilaku, kekuatan, & kelemahan musuh sudah lebih dapat diketahui maka strateginya dapat bergeser. Individu-individu yg sudah memiliki kekuatan lebih akbar dari musuh, dapat menampakkan diri di hadapan musuh dengan tetap berhati-hati. Sebaliknya yg masih lemah tetap menghindari musuh.

Pada konteks COVID-19, perseorangan yg sudah memiliki kekebalan melawan virus berkat vaksin dapat kembali beraktifitas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Sebaliknya, mereka para lansia yg memiliki penyakit penyerta tetap di rumah untuk menghindari paparan COVID-19 hingga ditemukan cara efektif menangani virus tersebut pada penderita penyakit penyerta.

Tantangan itulah yg dihadapi bangsa ini pada ulang tahun kemerdekaannya yg ke-76. Bila pendahulu kita tantangannya menghadapi penjajah Belanda, Jepang, & tentara sekutu, maka saat ini tantangan pemerintah adalah menciptakan road map menghadapi COVID-19. Sementara bagi rakyatnya adalah tetap melaksanakan prokes. Selamat merayakan bulan kemerdekaan.

*) Destika Cahyana, pengurus DPP GEMA Mathla’ul Anwar

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2320918/merdeka-roadmap-dan-alih-generasi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *