oleh

Literasi Digital sebagai langkah mitigasi hoaks & disinformasi

Slot SimakNews.com

Literasi Digital sebagai langkah mitigasi hoaks & disinformasi

,

Direktur Jenderal Informasi & Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi & Informatika, Usman Kansong di sela Bimtek Pemberitaan PON Papua 2021 Perum LKBN ANTARA, di Jakarta, Selasa (7/9/2021). ANTARA/ANTARATV.

Jakarta (ANTARA) – Saat ini, deretan mengatakan yg ditinggalkan warganet di media sosial jauh lebih berbahaya ketimbang timah panas yg dilontarkan para tentara di tengah peperangan. Berbeda dengan peluru yg memiliki batasan jarak tempuh, ujaran warganet dapat menjangkau berbagai pihak di berbagai belahan penjuru dunia dengan mudah.

Ketika ujaran yg ditinggalkan warganet sarat akan kebencian atau kebohongan, tidak jarang hal tersebut mengakibatkan konflik atau perpecahan dengan skala yg lebih besar. Ujaran kebencian menimbulkan isu-isu disintegrasi & intoleransi, seperti yg saat ini sedang dialami masyarakat Indonesia.

Yang lebih mengerikan, konflik tidak cuma diakibatkan permasalahan berupa disparitas pandangan politik maupun kepercayaan yg dianut. Bahkan, hal-hal yg menyangkut hobi & selera, seperti disparitas idola yg disukai dapat menimbulkan konflik yg menyerang ranah pribadi masing-masing. Korban dari konflik tersebut merupakan anak di bawah umur.

Direktur Jenderal Informasi & Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi & Informatika Usman Kansong mengatakan perkembangan teknologi digital & akses informasi jadi tantangan bagi Indonesia. Pemerintah harus memikirkan cara terbaik untuk menanggulangi hoaks, ujaran kebencian, & perilaku intoleran yg kini sedang marak terjadi di media sosial.

Para pengguna yg tidak mengenal batas umur jadi salah satu tantangan pemerintah. Maraknya konten-konten bernuansa negatif serta reaksi warganet yg memperburuk keadaan diakibatkan kurangnya keterampilan masyarakat Indonesia di dunia digital.

Baca juga: Kominfo dukung TikTok rayakan HUT RI lewat ciptaan #BerjuangBerkreasi

Oleh karena itu untuk menjawab tantangan perkembangan teknologi digital & kebebasan akses informasi, pemerintah berupaya untuk meningkatkan literasi digital masyarakat.

Literasi Digital

Usman Kansong mendefinisikan literasi digital sebagai pengetahuan & kecakapan seseorang untuk mengpakai media digital, alat-alat komunikasi atau jaringan, dalam menemukan, mengevaluasi, mengpakai, menciptakan informasi, & memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, serta patuh hukum untuk membina komunikasi & berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Ia meyakini literasi digital dapat jadi pertahanan terdepan masyarakat untuk menyeleksi informasi yg berpotensi memberi akibat negatif dari penggunaan media sosial. Literasi digital diharapkan dapat jadi acuan bagi pengguna media sosial untuk memilah & memilih informasi, seperti informasi apa yg dibutuhkan & informasi apa yg tidak dibutuhkan.

Untuk meningkatkan literasi digital, pemerintah meluncurkan Program Transformasi Digital, yg salah satu kebijakannya mengembangkan sumber daya manusia (SDM) atau talenta digital. Kebijakan pengembangan SDM memuat tiga pelatihan kecakapan digital, yakni Gerakan Literasi Digital Nasional, Digital Talent Scholarship, & Digital Leadership Academy.

Direktur Pemberdayaan Informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi & Informatika Boni Pudjianto mengatakan Gerakan Literasi Digital Nasional yg diketahui dengan Siberkreasi, merupakan program pelatihan keterampilan digital yg sangat mendasar & menargetkan 12,5 juta masyarakat Indonesia untuk bergabung dalam program tersebut.

Dalam mengerjakan Gerakan Literasi Digital Nasional, Kemenkominfo melibatkan sekitar 110 pemangku kepentingan yg berasal dari berbagai elemen masyarakat, seperti pemerintah, swasta, hingga LSM. Ia berharap pada tahun 2024 setidaknya terdapat 50 juta masyarakat Indonesia sudah menguasai literasi digital.

Baca juga: Kominfo targetkan latih 50 ribu talenta digital di lima kota

Berbeda dengan Gerakan Literasi Digital Nasional yg menargetkan masyarakat Indonesia secara umum, pelatihan kecakapan digital melalui Digital Talent Scholarship ditujukan kepada lulusan sekolah menengah atas (SMA) & perguruan tinggi untuk mengasah keterampilan & kapasitas digital mereka.

Intensitas pelatihan Digital Talent Scholarship lebih tinggi daripada Gerakan Literasi Digital Nasional. Peserta akan diperkenalkan pada kecakapan-kecakapan baru di era digital, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI), data akbar (big data), realitas virtual (virtual reality / VR), & keterampilan teknis lainnya. Pelatihan ini menargetkan 100.000 lulusan baru di setiap tahunnya.

Selanjutnya adalah program Digital Leadership Academy (DLA) yg ditujukan untuk mempersiapkan para pemimpin di era digital dengan keterampilan teknologi tingkat lanjut. Melalui program ini, pemerintah menargetkan 300 pemimpin dari sektor publik maupun swasta.

Ketiga program tersebut bertujuan untuk mempersiapkan SDM Indonesia menghadapi tantangan perkembangan teknologi & derasnya arus informasi. Program-program tersebut, khususnya Gerakan Literasi Digital Nasional akan mengedukasi masyarakat untuk cerdas bermedia sosial supaya tidak mudah percaya pada hoaks, tidak menyebarkan hoaks, bahkan menciptakan hoaks.

“Kita mengajak masyarakat untuk mengisi media sosial dengan konten-konten positif,” mengatakan Usman Kansong.

Peran aktif

Memerangi hoaks & disinformasi membutuhkan peran aktif dari berbagai pihak, tidak cuma pemerintah, namun juga masyarakat sipil.

Melalui kanal YouTube Siberkreasi, pemerintah bersama pemangku kepentingan lain dengan aktif menyebarkan konten-konten positif, seperti mengadakan webinar terkait literasi digital, podcast, hingga video-video edukasi singkat guna meningkatkan pengetahuan & kewaspadaan masyarakat saat beraktivitas di dunia digital.

Baca juga: Kominfo ajak warga Aceh diskusi bahas migrasi TV analog ke digital

Pemerintah melalui Menteri Komunikasi & Informatika Johnny G. Plate mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif meningkatkan literasi digital dengan mengikuti acara & pelatihan Gerakan Literasi Digital Nasional. Pendaftaran dapat dilakukan di event.literasidigital.id & peserta dapat memilih pelatihan berdasarkan domisili masing-masing.

“Program ini sudah dimulai pendaftaraannya, maka ambillah kesempatan itu,” mengatakan Johnny.

Literasi digital merupakan keterampilan krusial yg harus dimiliki masyarakat Indonesia di tengah perkembangan teknologi yg kian pesat. Keterampilan ini merupakan alat mitigasi dampak-dampak negatif yg diakibatkan aktivitas di ruang digital, terlebih kerentanan masyarakat kepada hoaks & disinformasi.

Intoleransi & polarisasi masyarakat diyakini dapat dihindari dengan literasi digital.

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2387845/literasi-digital-sebagai-langkah-mitigasi-hoaks-dan-disinformasi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *