Legenda Cludio Taffarel -
in

Legenda Cludio Taffarel: Bola Voli, Juara Piala Dunia, & Anak Terlantar

Situs Daftar Slot Informasi, Indonesia – Cuaca cukup terik di Stadion Rose Bowl, Pasadena, California, tempat laga final Piala Dunia 1994 yg mempertemukan Brasil vs Italia. Laga berjalan alot di waktu normal & harus ditentukan lewat drama adu penalti.

Kedua regu langsung rasakan ketegangan saat penendang perdana mereka gagal menceploskan bola. Brasil berada di atas angin setelah penendang keempat Italia, Daniele Massaro gagal ceploskan bola. Sepakan Massaro sanggup dimentahkan oleh Cludio Taffarel.

Advertisements

Nama Taffarel di ajang empat tahunan yg berlangsung di Amerika Serikat tersebut memang jadi sorotan semua pihak. Keputusan pelatih Carlos Alberto Parreira memanggil Taffarel terbukti tak keliru. Padahal awalnya keputusan Alberto Parreira memanggil Taffarel sebagai kiper utama dipertanyakan banyak pihak.

getty images

Maklum saja Taffarel saat itu cuma memperkuat klub kecil Serie A, Reggiana. Sebelum pindah ke Reggiana, Taffarel kalah saing dengan Marco Ballotta untuk jadi kiper nomor satu di Parma. Namun keputusan Alberto Parreira terbukti benar.

Sebelum jadi pahlawan di final Piala Dunia 1994, di babak fase grup, Taffarel sukses mengawal gawang Brasil dengan cuma kebobolan satu gol. Di fase knock-out, Taffarel tak kalah baik, ia cuma kebobolan dua gol saja. Artinya aksi di babak adu penalti pada laga final bukan keberuntungan semata.

Usai pertandingan, Taffarel tak akbar kepala. Menurutnya keberhasilan Brasil tidak cuma karena dirinya semata. Ia mengaku cuma menjalankan tugasnya sebagai seorang kiper.

“Saya tidak pernah merasa bahwa saya pahlawan. Saya tidak punya pikiran apa-apa saat itu. Saya cuma mencoba menghentikan setiap bola yg mengarah ke gawang saya. Saya cuma merasa bahwa ketika saya dapat menghentikan tendangan lawan saya akan bahagia karena itulah pekerjaan saya,” ujar Taffarel.

Kehidupan kecil Taffarel

Menariknya sebelum jatuh sayang pada sepak bola, kiper bernama lengkap Cludio Andr Mergen Taffarel tersebut justru lebih dahulu suka pada olahraga bola voli. Diakui Taffarel, bahwa baru pada umur 11 tahun, dirinya suka & fokus untuk berkarier di lapangan hijau.

“Saya berasal dari keluarga petani. Sebagai anak laki-laki, saya tergila-gila dengan bola voli yg sangat populer di Santo Rosa. Semua teman, saudara saya bermain bola voli,” ucap Taffarel seperti dikutip Situs Daftar Slot Informasi dari fifa.com, Selasa (6/10/2020).

“Saya cukup bagus bermain voli saat itu, tetapi ketika umur 11 tahun saya mulai suka & serius bermain sepak bola. Tiap akhir pekan, kami sering mengadakan kompetisi. Kemudian saya bergabung ke klub Crissiumal. Tapi saya saat itu bermain sebagai seorang gelandang & striker,” kenangnya.

Penampilan Taffarel di lomba sepak bola di kampung halamannya itu memikat walikota Crissiumal untuk membawanya mengerjakan tes di Porto Allegre. Saat itu Porto Allegre bertanding melawan Internacional, klub perdana di karier profesional Taffarel.

“Saat itu mereka memang tengah mencari talenta muda. Saya mungkin salah satunya yg menarik perhatian mereka,”

Sayangnya, selama menggeluti sebagai pemain sepak bola, Taffarel mengakui bahwa sang ayah tak pernah merestui dirinya. Taffarel menyebut bahwa ayahnya tidak pernah percaya bahwa sepak bola dapat dijadikan pekerjaan di masa depan.

“Dia tidak pernah percaya pada sepak bola. Ayah saya meninggal beberapa tahun lalu. Untungnya ibuku sering mendukung & meyakinkan bahwa saya dapat. Saya benar-benar berhutang pada ibu saya,” mengatakan Taffarel.

Merawat anak-anak terlantar

Setelah Piala Dunia 1994, Taffarel kembali ke Brasil & bergabung ke Atltico Mineiro. Pada Piala Dunia 1998, Taffarel tak alami momen manis seperti di Amerika Serikat. Melawan tuan rumah di partai final, Taffarel harus memungut bola dari gawangnya sendiri sebanyak tiga kali.

Piala Dunia 1998 selesai dengan Brasil cuma jadi runner up, Taffarel melanjutkan karier di Eropa & bergabung ke raksasa Turki, Galatasaray. Di Galatasaray, Taffarel sempat memberikan gelar Piala UEFA 1999-2000. Tiga tahun setelahnya, ia memutuskan gantung sepatu di klub pertamanya di Eropa, Parma.

Salah satu hal yan menjadikan Taffarel begitu spesial sebagai seorang legenda adalah kepeduliannya kepada kaum Papa. Claudio Taffarel diketahui sebagai bapak asuh untuk 17 anak terlantar di Brasil.

Legenda Cludio Taffarel.2pnggetty images

Taffarel mengakui bahwa masa kecilnya ke serba sulit mendorong dirinya untuk berbagi kepada anak-anak tak mampu.

“Itu dimulai ketika saya bermain untuk Parma. Saya berhubungan dengan sejumlah anak Brasil yg sangat miskin. Ketika saya pergi ke Utara Brasil, mereka memperlihatkan ada delapan anak yg siap untu diadopsi. Jadi saya adopsi mereka semuanya,” ucapnya.

Taffarel sendiri memiliki dua anak kandung & menurutnya ia dapat menikmati ini semua karena mengerjakannya dengan hati.

“Saya menikmati jadi seorang ayah & hidup bersama dua anak kandung saya. Claudio Andre & Catherine. Saya sering menikmati kehidupan bersama istri & dua anak saya. Istri saya, Andrea ia berprofesi sebagai jurnalis.”

Report

What do you think?

654 points
Upvote Downvote

Written by IDN Sport

Staff pada Grup operator label swasta terbesar yang menggunakan tulang punggung kami di ASIA. Rekam jejak yang terbukti selama lima tahun dan lebih dari 300 klien dengan basis klien terbesar dari jaringan multipemain.

Bergabung bersama IDNSport.net dan rasakan apa itu game online masa depan. Kami memiliki semua alat yang diperlukan untuk mengungguli persaingan dan kami menyediakan kolaborasi ujung ke ujung untuk memastikan kemajuan bisnis yang berkelanjutan. Jangan lewatkan kesempatan ini dan bergabunglah dengan jaringan game online terbesar di Asia!

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0