oleh

Kosgoro 1957 sebut aksi terorisme tak bisa dianggap remeh

Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 Dave Akbarshah Fikarno. (Kosgoro 1957)

Jakarta (ANTARA) – Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 Dave Akbarshah Fikarno berpandangan, aksi terorisme yg terjadi di depan Gereja Katedral Makassar & Mabes Polri tidak dapat dianggap remeh. “Ini (persoalan terorisme) menunjukkan permasalahan ini sangat tidak sederhana,” mengatakan Dave dalam keterangannya di Jakarta, Kamis. Oleh karena itu, aparat kepolisian harus bertindak tegas kepada para pelaku teror & memperketat pengawasan. “Memang penegakan hukum perlu dilakukan dengan sangat tegas tetapi penangkapan dengan ‘pressure’ kan tidak akan menghentikan. Hanya dapat menurunkan aksi teror yg sudah ada sekarang, harus mencari tahu persoalannya & akar permasalahannya,” mengatakan Dave.
Baca juga: Muhammadiyah: Serangan teror di Mabes Polri tamparan keras bagi polisi
Baca juga: DPR RI: Segera implementasikan rencana aksi penanggulangan ekstremisme
Baca juga: Riza: DKI kutuk aksi teror Mabes Polri
Sikap pelaku teror yg menyebut sistem ekonomi Indonesia adalah ‘thagut’ serta mempersoalkan ideologi Indonesia, mengatakan dia, membuktikan bahwa terorisme punya doktrin yg terstruktur. Dengan adanya beberapa aksi teror belakangan ini, lanjut dia, tak terkait dengan agama manapun. Namun, kini ada pergeseran tren pelaku teror, dari yg dulu berasal dari keluarga yg bermasalah, kini lahir dari keluarga yg secara sosial mapan. “Kalau dulu pelaku teror itu kan dari keluarga yg bermasalah. Sekarang ini terbukti tidak cuma dari golongan orang yg hidupnya itu tidak memiliki masa depan, ternyata ini juga banyak dari anak muda yg ternyata masih memiliki masa depan & asa yg indah, tetapi terjerumus dengan ideologi teroris ini,” mengatakan anggota Komisi I DPR ini. Oleh karena itu, dirinya meminta aparat penegak hukum, baik Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) maupun kepolisian (Densus 88) memperkuat pencegahan & lebih mengutamakan penanggulangan. Dave pun menyarankan supaya program deradikalisasi terus dievaluasi sesuai tantangan di lapangan. “Ya memang pendekatan deradikalisasi itu masih membutuhkan formulasi yg lebih tepat, masif, & efektif,” mengatakan Dave. Diketahui, seorang perempuan berinisial ZA nekat menyusup & menyerang Mabes Polri seorang diri pada Rabu (31/3) sore. Dia membawa senjata yg diduga airgun. Seperti diberitakan, ZA adalah anak ketiga pasangan MA & S. Dia tercatat lahir di Jakarta pada 1995 & beralamat di Ciracas, Jakarta Timur. ZA berstatus pelajar/ mahasiswa & belum menikah. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian & ibunya tukang jahit. ZA ditembak mati di halaman depan Gedung Utama Mabes Polri (gedung sisi Barat) atau cuma 100 meter dari ruang Kapolri, Rabu petang. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo pun menginstruksikan jajarannya untuk lebih waspada.

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2075530/kosgoro-1957-sebut-aksi-terorisme-tak-bisa-dianggap-remeh

ligafox

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *