oleh

Korban Habib Bahar Siap Cabut Laporan Polisi, Tapi Alasannya Mengejutkan

Online – Korban penganiayaan Habib Bahar Bin Smith ternyata siap cabut laporan Polisi. Hal itu dihinggakan oleh kuasa hukum korban yakni Handi Pratama, pada sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa (4/5/2021).

Pada sidang lanjutan itu, majelis hakim menghadirkan kuasa hukum dari korban penganiayaan Habib Bahar yakni Andriansyah.

Hendi dihadirkan di sidang dengan status saksi meringankan. Dia dipanggil oleh pihak kuasa hukum Bahar untuk menjelaskan pengembangan dari langkah damai yg ditempuh antara Bahar & pihak keluarga korban.

Menurut kesaksian Hendi, dia dipanggil oleh Andriansyah selaku korban pada 28 Oktober 2020. Ia diminta oleh Andriansyah untuk memproses pencabutan LP (Laporan Polisi) atas kasus penganiayaan yg menimpanya.

“Saya diberikan kuasa oleh Andriansyah untuk memproses bahwa kasus ini berdamai,” ujar Hendi, diberitakan dari Ayobandung.com -jaringan Suara.com, Rabu (5/5/2021).

Setelah diserahkan wewenang untuk mengajukan pencabutan laporan tersebut, Hendi pun mulai memproses pengajuan ke Polres Bogor yg selanjutnya mengarahkan Hendi untuk menghubungi Polda Jabar.

“Setelah bersurat, kami pikir proses itu berhenti, tidak diproses panjang. Suatu ketika, klien kami dipanggil di Polsek Setiabudi Jakarta untuk proses BAP (Berita Acara Pemeriksaan),” mengatakan Hendi.

Ketua Majelis Hakim Surachmat pun bertanya kepada Hendi apakah permintaan pencabutan laporan yg diajukannya ditolak atau diterima. “Tidak dijawab, tetapi proses masih berjalan. Jadi, saya pikir restorative justice tidak berjalan,” jawab Hendi.

Hendi menjelaskan bagaimana proses pengajuan pencabutan yg sudah dilaluinya. Berhubung ada PSBB yg berlaku saat dia sedang memproses pengajuan itu, Hendi mengatakan ia cuma menciptakan pengajuan lewat surat.

“Kami ke Polres Bogor & diarahkan ke Bandung. Saat itu, PSBB ketat (sehingga) kami tidak ke Bandung. Kami mengirim surat ke instansi terkait,” ujar Hendi.

Pengajuan pencabutan laporan dari pihak korban dilatarbelakangi oleh pembelaan dari pihak Bahar sebagai terdakwa yg sudah mengambil jalur damai dengan pihak korban atas penganiayaan yg dilakukannya pada tahun 2018.

Pihak Bahar pun mengaku sudah menciptakan surat perjanjian damai & memberi uang kompensasi sejumlah Rp25 juta kepada keluarga korban.

Hendri Nafis selaku saksi dari keluarga korban yg turut dipanggil sebagai saksi pun mengaku bahwa pihak keuarga korban sudah menerima uang & sudah menyepakati perdamaian. (suara.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *