IMG 20200823 233715 -
in

Konstitusi harus akrab dengan keseharian rakyat

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Jimly Asshiddiqie saat diskusi daring “Bernegara Seri-1 (Refleksi & Proyeksi 75 Tahun INDONESIA: Berpolitik, Bernegara, Berkonstitusi)”, Minggu (23/8/2020) malam. (HO-Tangkapan layar Youtube diskusi Para Syndicate)

Jangan-jangan kita baru tegakkan hukum secara formal prosedural, belum substansialJakarta (ANTARA) – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Jimly Asshiddiqie berharap konstitusi akrab dengan keseharian, baik budaya pikir maupun perilaku rakyat, supaya tata aturan konstitusi terlaksana dengan baik.

Advertisements

“Konstitusi jangan dibiarkan berisi nilai-nilai abstrak yg jauh (tak terjangkau, red.),” katanya, saat diskusi daring “Bernegara Seri-1 (Refleksi & Proyeksi 75 Tahun Indonesia: Berpolitik, Bernegara, Berkonstitusi)”, Minggu malam.

Yang jelas, mengatakan dia, adalah bagaimana terus menggerakkan konstitusi, tetapi bukan melulu memaksakannya dengan kekuasaan, melainkan bagaimana pencerahan sendiri sebagai anak bangsa.

Ia melihat masih cukup banyak hal selama 20 tahun perjalanan reformasi yg perlu dievaluasi, baik dari ketaatan kepada konstitusi hingga penerapan demokrasi, apalagi bertepatan dengan peringatan 75 tahun kemerdekaan Indonesia.

“Dalam rangka 75 tahun merdeka, objek refleksi kita, pertanyaannya apakah budaya politik sudah keluar dari budaya politik kerajaan? Jangan-jangan budaya mereknya republik tetapi kelakuan masih kerajaan. Feodalisme,” katanya.

Demikian pula dengan penegakan hukum, mengatakan dia, rakyat mestinya merefleksikan penegakan hukum sepanjang perjalanan reformasi yg idealnya berjalan lebih baik.

“Jangan-jangan kita baru tegakkan hukum secara formal prosedural, belum substansial,” mengatakan Ketua MK periode 2003-2008 itu.

Baca juga: Jimly: Sistem pengadilan etik dinilai dibutuhkan untuk persoalan etika

Menurut Jimly, generasi muda, khususnya mesti mengerjakan refleksi atas perjalanan reformasi untuk masa depan bangsa yg lebih baik, terlebih juga menghadapi pandemi COVID-19.

“Saya harap mengajak generasi milenial mengadakan refleksi bahwa apa yg sedang terjadi selama 20 tahun pascareformasi tidak seluruhnya ideal,” katanya.

Artinya, mengatakan Jimly, evaluasi perlu dilakukan secara substantif dengan daya jangkau yg jauh ke depan bagi Indonesia.

Sementara itu, Harry Tjan Silalahi selaku anggota Dewan Pendiri CSIS mengakui banyak hal yg mesti dilakukan untuk membenahi masa depan Indonesia, termasuk dalam pembuatan aturan atau regulasi.

“Aturan-aturan terkesan adoptif & sesaat saja. Tidak disatukan, tidak dipikirkan segalanya,” katanya.

Bagaimanapun, Harry mengingatkan bahwa undang-undang harus tetap terikat dengan kultur, budaya, & filsafat yg hidup di suatu tempat sehingga tidak dapat dicangkok begitu saja.

Demikian pula, mengatakan dia, dengan kian lunturnya praktik demokrasi hingga berkembangnya dinasti politik.

Meski demikian, Harry tetap menaruh rasa optimisme bahwa bangsa Indonesia dapat melewati berbagai persoalan yg ada, sebagaimana para pendahulu yg juga menghadapi kesulitan, tetapi dapat mengatasinya.

Baca juga: Jimly Asshiddiqie: Normal baru mesti diikuti kepatuhan protokol COVID
Baca juga: Akademisi UI peroleh bintang tanda jasa & kehormatan dari negara

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/1684090/konstitusi-harus-akrab-dengan-keseharian-rakyat

Report

What do you think?

888 points
Upvote Downvote

Written by dono

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0