oleh

KH Embay Mulya Syarief: Islam agama peduli sosial

Ketua Umum Pengurus Besar Mathlaul Anwar (Ketum PB MA) K.H.Embay Mulya Syarief. ANTARA/dokumentasi pribadi

Sebetulnya zakat itu tidak ada susahnya, tinggal orang menyadari bahwa rezeki itu datang dari Allah, kepunyaan Allah.Jakarta (ANTARA) – Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (Ketum PB MA) Kiai Haji Embay Mulya Syarief mengatakan bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yg sangat menekankan kasih sayang & peduli sosial.

“Bagaimana dapat umat Islam begitu saja melihat saudara-saudara kita, misalnya harus kelaparan akibat kemiskinan mereka yg akhirnya dapat jadi terpapar paham-paham radikal intoleran,” mengatakan K.H. Embay Mulya Syarief di Jakarta, Jumat, dalam keterangan tertulis yg diterima ANTARA.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, mengatakan dia, pernah menyatakan kaadal faqru an yakuuna kufran yg artinya bahwa kemiskinan itu, kefakiran itu akan menjerumuskan seseorang pada kekufuran.

Oleh karena itu, lanjut Kiai Embay, Nabi Muhammad saw. bersabda irhamu man fil ardi, yarhamkum man fissamaa yg artinya sayangi yg ada di bumi, maka niscaya engkau akan disayangi oleh yg ada di langit.

Baca juga: Mathla’ul Anwar: Bentengi remaja dari krisis moral

“Jadi, sebetulnya ‘kan tidak seberapa umat Islam membayar zakat, seperti zakat fitrah, misalnya, itu tidak seberapa, kemudian muslim membayar zakat mal. Pada dasarnya ‘kan harta itu bukan punya kita. Kita ini tidak punya apa-apa karena semua cuma milik Allah,” tuturnya.

Kiai Embay mengatakan, “Lahuma fissamawati wama fil ardi, artinya semuanya yg ada di langit & di bumi ini adalah kepunyaan Allah.”

Oleh sebab itu, dia menyampaikan bahwa harta yg dititipkan kepada manusia itu oleh Allah diwajibkan untuk diberikan (dizakatkan) cuma sebesar 2,5 persen dari yg mereka miliki.

“Nah, oleh karena itu, ‘kan keterlaluan, orang yg sudah diberikan begitu banyak tetapi tidak mengerjakan zakat,” mengatakan pria yg juga merupakan salah satu tokoh penggagas berdirinya Provinsi Banten ini.

Pria yg juga anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten itu mencontohkan seseorang yg memiliki harta sebesar Rp100 juta maka 2,5 persen wajib untuk memberikannya kepada orang lain.

Sementara itu, mengatakan dia, ongkosnya itu 97,5 persen. Ongkos kirim dari Allah ini jauh lebih besar, padahal yg disuruh untuk dihinggakan itu cuma 2,5 persen yg sisanya 97,5 persen itu untuk yg mengirimkan (memberikan zakat).

“Jadi, logikanya seperti itu. Jadi, sebetulnya zakat itu tidak ada susahnya, tinggal orang menyadari bahwa rezeki itu datang dari Allah, kepunyaan Allah,” mengatakan mantan Ketua Bidang Ekonomi PB Mathla’ul Anwar ini.

Baca juga: Jokowi: Jangan kufur nikmat, ekonomi kita masih tumbuh

Selain itu, ulama kelahiran Pandeglang, Banten, 4 Maret 1952 itu juga berpesan bahwa seseorang dalam beribadah itu tentunya juga harus berilmu.

Menurut dia, kalau ibadah itu tanpa ilmu, lalu dapat mengaji dengan semangat tinggi, sementara ilmunya kurang, yg terjadi adalah bukan tidak mungkin yg bersangkutan akhirnya dapat menciptakan bom bunuh diri & segala macam itu.

“Semangatnya tinggi tetapi ilmunya kurang. Nah, maka dari itu, teruslah belajar menuntut ilmu, menuntut ilmu dalam Islam itu hukumnya wajib mulai dari dalam kandungan hingga ke liang lahat. Tidak boleh merasa bahwa saya sudah pintar, saya sudah tahu segala macam,” katanya menegaskan.

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2144242/kh-embay-mulya-syarief-islam-agama-peduli-sosial

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *