oleh

Ketika ASEAN harus memilih

Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi (kiri) bersama Menlu China Wang Yi usai mengadakan pertemuan bilateral di Fujian pada 2 April 2021. (ANTARA/FMPRC/mii)

Beijing (ANTARA) – Menteri Luar Negeri China Wang Yi baru saja menyambut empat koleganya dari empat negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa di Asia Tenggara (ASEAN) dalam rentang tiga hari berturut-turut, terhitung mulai 31 Maret hingga 2 April 2021.

beincash

Menlu Singapura Vivian Balakrishnan jadi menlu perdana ASEAN yg menemui Wang Yi di wilayah tenggara daratan Tiongkok itu. Setelah itu, Wang Yi menerima kunjungan Menlu Malaysia Hishamuddin Hussein, Menlu RI Retno LP Marsudi, & Menlu Filipina Teodoro Locsin.

ANTARA menginventarisasi beberapa topik pembicaraan penting dalam pertemuan para menlu ASEAN itu dengan Wang Yi, sosok yg sejak 19 Maret 2018 duduk sebagai anggota Dewan Negara, sebuah jabatan terpenting dalam struktur pemerintahan China.

Beberapa topik pembicaraan dalam pertemuan bilateral antara China dengan masing-masing koleganya di ASEAN itu adalah penguatan kerja sama penanganan pandemi, ketersediaan vaksin COVID-19, & stabilitas keamanan di kawasan.

Topik mengenai krisis politik di Myanmar tentu saja tidak dapat dihindari dalam agenda pertemuan Fujian tersebut. Selain anggota ASEAN, Myanmar juga merupakan tetangga China. Realitas ini jadi faktor yg menentukan akan terciptanya stabilitas di kawasan.

Wang Yi kepada para koleganya dari ASEAN itu mengharapkan penyelesaian konflik di Myanmar dilakukan dengan mengedepankan prinsip non-intervensi. OK, ASEAN pun setuju!

Tentu saja, isu ekonomi, perdagangan, & investasi tetap jadi materi yg “seksi” untuk dibicarakan.

Kenapa seksi? Karena di mata negara-negara anggota ASEAN, China adalah kesempatan. China merupakan potensi yg tidak dapat dimungkiri dalam keadaan ekonomi global seperti sekarang. Bagaimana ASEAN tidak tergiur melihat pasar China yg begitu menggoda.

Apalagi, Perdana Menteri China Li Keqiang dalam Sidang Tahunan Parlemen (Lianghui) di Beijing pada awal Maret lalu dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasionalnya dapat mencapai enam persen hingga akhir 2021.

Pertumbuhan ekonomi sebesar itu merupakan angka yg fantastis di tengah kondisi beberapa negara lain yg terseok-seok dalam memulihkan roda perekonomiannya.

Dalam masalah vaksin COVID-19, misalnya, China sudah jelas & lebih banyak berbicara dibandingkan negara lain. Bahkan survei tentang bantuan COVID-19 di ASEAN yg dilakukan Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) baru-baru ini menunjukkan kepiawaian China.

Betapa tidak, dalam survei itu, 44 persen responden menyebutkan China, 19 persen Jepang, 10 persen Uni Eropa, & cuma sembilan persen yg menyebutkan Amerika Serikat. Hasil survei tersebut merefleksikan bahwa China adalah peluang atau kesempatan yg tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Berbekal kepercayaan diri yg akbar kepada vaksinnya itu, China tidak ragu lagi dalam menawarkan program sertifikat kesehatan bersama kepada sejumlah negara sebagai salah satu dokumen perjalanan internasional yg fungsinya seperti paspor.

Tentu dalam menawarkan program itu, China memberikan syarat khusus, yakni cuma bagi mereka yg mengpakai vaksin buatannya.

Pertemuan Wang Yi dengan empat menlu ASEAN di Fujian itu juga menyinggung topik “paspor kesehatan bersama” tersebut, termasuk saat berjumpa dengan Menlu Retno pada Jumat (2/4).

Di mana pun penduduk negara di dunia saat ini membutuhkan vaksin COVID-19 supaya dapat kembali beraktivitas tanpa kendala seperti tahun-tahun sebelum 2020.

Situasi ini tentu saja menambah tingginya tensi rivalitas antara AS & China sebagai negara yg sama-sama memproduksi vaksin, meskipun dengan mengpakai metode yg berbeda.

Perang vaksin ini turut mewarnai babak baru COVID-19 di tengah para ilmuwan kerepotan menyingkap rahasia asul-usul wabah penyakit yg menyerang sistem pernapasan itu.

Pilihan Sulit

Isu Myanmar & vaksin pada akhirnya turut pula menandai 30 tahun kemitraan antara ASEAN & China. Dalam perjalanan 30 tahun ini, ASEAN memandang China sebagai kawan wicaranya itu tidak saja dari sisi peluang, melainkan juga tantangan.

Selain vaksin tadi, peluang China lainnya dalam pandangan ASEAN adalah potensi ekonomi yg tak kalah besarnya.

Harus diakui, kerja sama ekonomi dengan China jauh lebih konkret. Proyek-proyek dalam kerangka kerja sama Prakarsa Sabuk Jalan (Belt and Road Initiatives/BRI) yg direalisasikan oleh China di negara-negara ASEAN salah satu contohnya.

Lalu ada Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP). Meskipun RCEP ini faktanya diinisiasi oleh ASEAN, belakangan justru lebih condong ke China.

Belum lagi sejumlah kerja sama ekonomi bilateral lainnya antara China dengan masing-masing negara ASEAN.

Itulah beberapa peluang bagi ASEAN yg datangnya dari China.

Namun di balik peluang tadi, tentu saja ada tantangan yg dapat saja nanti wujudnya berubah jadi ancaman.

Empat negara anggota ASEAN, yakni Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, & Vietnam, terlibat sengketa wilayah Laut China Selatan yg berkepanjangan.

Kehadiran AS di Laut China Selatan yg sudah tidak dapat dihindari lagi itu semakin menyulitkan posisi negara-negara yg terlibat sengketa tersebut dalam mencari titik temu.

Baca juga: China dukung ASEAN gelar pertemuan spesifik terkait Myanmar

Kalau sudah begini, upaya menjaga perdamaian & stabilitas di kawasan semakin menghadapi tantangan yg besar. Situasi ini secara tidak langsung juga menyulitkan posisi ASEAN di antara dua negara ekonomi terbesar di dunia itu, yakni AS & China.

Ada keharusan bagi ASEAN untuk memilih. Namun, kalau harus memilih salah satu, maka bukan berarti persoalan akan tuntas juga. Bisa-dapat memilih salah satu justru mengundang ancaman dari salah satu.

Namun bukan berarti tidak ada cara lain yg lebih cerdas supaya tidak hingga buah simalakama itu termakan.

“Bagaimana kami memilih, tergantung berapa banyak inisiatif yg Anda letakkan di atas meja,” mengatakan Duta Besar Keliling Pemerintah Singapura Chan Heng Chee menjawab pertanyaan wartawan China baru-baru ini.

Memaksimalkan semua peluang sangat mungkin sebagai salah satu jalan untuk menghindari ancaman, setidaknya ide itulah yg coba dituangkan oleh diplomat senior negara tetangga tersebut ketika berhadapan dengan media di China.

Memang, tampaknya ASEAN sadar bahwa dengan jadi oportunis di antara dualisme raksasa akan lebih menguntungkan daripada sekadar jadi penonton. Apalagi kalau membiarkan kedua raksasa ekonomi dunia itu terlibat perang terbuka di halaman rumah kita tentu akan jadi runyam.

Memilih untuk tidak memilih merupakan opsi yg tepat bagi ASEAN.

Biar saja menurut William Shakespeare orang-orang tidak akan percaya bahwa dua mentari akan dapat menyinari satu dunia. Akan tetapi Hillary Clinton sangat percaya bahwa dunia ini cukup akbar sehingga sangat mungkin untuk dibagi dalam dua kekuasaan besar.

Baca juga: China-Singapura bicarakan opsi saling akui “paspor kesehatan”
Baca juga: Menlu ASEAN berjumpa Menlu China, Retno bersama Mendag

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2080026/ketika-asean-harus-memilih

ligafox

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *