oleh

Kepala SMA Negeri 3 Medan Akui Ada Guru Pungli Orangtua Siswa Rp 10 Juta, Pelaku Sempat Anggar Jaksa

Slot SimakNews.com – Kepala SMA Negeri 3 Medan Akui Ada Guru Pungli Orangtua Siswa Rp 10 Juta, Pelaku Sempat Anggar Jaksa,

Online – Kepala SMA Negeri 3 Medan Elfi Sahara mengakui ada oknum guru yg mengerjakan pungutan liar (pungli) kepada orangtua siswa. Menurut Elfi Sahara, guru yg mengerjakan pungli itu ada dua orang.

Satu diantara guru yg mengerjakan pungli itu adalah Iwan, yg selama ini mengajar mata pelajaran pendidikan jasmani. Kemudian, satu lagi berinisial NA.

“Mereka dua ini memang bersalah. Sekarang sudah dipanggil,” mengatakan Elfi Sahara, Kamis (15/7/2021).

Dia mengatakan, ketika diinterogasi, Iwan yg tadinya sok anggar-anggar keluarga jaksa & polisi mengakui sudah meminta uang Rp 10 juta pada calon orangtua siswa. Untuk tindak lanjut mengenai sanksi kepada Iwan & NA, diserahkan sepenuhnya pada Dinas Pendidikan Sumut.

Elfi Sahara mengatakan, dia sebagai Kepala SMA Negeri 3 Medan turut merasa resah dengan tindakan dua oknum guru ini. Sebab, mengatakan Elfi Sahara, dia khawatir namanya terseret-seret dalam kasus ini. Padahal Elfi Sahar tidak tahu menahu soal adanya pungli ini.

“Ibaratnya saya enggak tahu apa-apa, tetapi terseret-seret,” mengatakan Elfi Sahara.

Maka dari itu, dia pun mengungkap ke publik bahwa benar ada dua oknum guru yg mengerjakan pungli. Menyangkut sanksi tegas mengenai ulah kedua guru ini, masih menunggu keputusan Dinas Pendidikan Sumut.

“Saya menunggu,” mengatakan Elfi Sahara.

Anggar Beking Jaksa & Polisi

Oknum guru SMA Negeri 3 Medan bernama Iwan yg diduga lakukan pungutan liar (pungli) kepada calon orangtua siswa anggar beking ketika dikonfirmasi. Iwan menyebut dia punya keluarga jaksa & polisi.

Bahkan, Iwan mengancam akan melapor siapa saja yg sudah memfitnah dirinya. Mulanya, Iwan berdalih tidak ada mengerjakan pungli.Rekaman suara percakapan soal permintaan uang Rp 12 juta kepada orangtua siswa supaya anaknya dapat masuk ke SMA Negeri 3 Medan ditepisnya.

Iwan berkelit suara itu bukan dia, meski ada capture pesan What’sApp yg disebut korban dikirim oleh guru pendidikan jasmani ini.

“Nanti kalau memang ini salah & tersebar, itu abang pencemaran nama baik. Nanti saya bilang sama om saya. Om saya kebetulan jaksa di sini bang. Kalau kenal abang jaksa di Jemadi,” katanya menggertak, Rabu (14/7/2021).

Bukan cuma akan melapor pada jaksa saja, Iwan yg sempat dituding meminta uang pelicin supaya dapat memasukkan siswa yg mendaftar jalur zonasi ini juga menyebut ada keluarganya yg polisi.

“Kalau ini terbukti fitnah, saya akan bilang sama om saya. Mana pula saya diam-diam. Enggak apa-apa, om saya yg proses nanti. Mau dia sebagai jaksa, mau dia laporkan. Polisi pun ada keluarga saya,” katanya dengan nada tinggi.

Bahkan, Iwan mengancam akan melaporkan awak media ke pamannya yg jaksa itu, lantaran tidak terima sudah dikonfirmasi terkait kasus dugaan pungli yg dituduhkan kepada dirinya.

“Abang lah satu itu, ini saya rekam bang. Jadi abang dari Tribun mengatasnamakan Tribun. Ini saya rekam. Nanti saya tunjukkan sama om ku, ini orangnya, ini suaranya dari Tribun. Karena ini fitnah,” katanya.

Ketika ditanya lagi soal rekaman percakapan antara dirinya dengan orangtua siswa, yg mana dalam percakapan itu ada bahasa permintaan uang untuk meloloskan siswa ke SMA Negeri 3 Medan, lagi-lagi Iwan mengancam akan melaporkannya ke sang paman yg katanya jaksa.

“Kenal pun tidak saya itu (suara rekaman). Jadi kalau memang itu fitnah, saya bilang om ku. Ini om, dituduhnya saya om, biar aja dia yg proses,” katanya lagi berusaha menakut-nakuti.

Ia mengatakan, bahwa rekaman berisi percakapan permintaan uang yg mengarah pada tindak pidana pungli itu tidak benar.

“Kalau saya dirugikan, saya lapor lah. Ini dekat polsek di sini, mana pulak mau saya namaku jelek,” katanya.

Bermula dari Pendaftaran Sekolah

Kasus dugaan pungli yg diduga melibatkan oknum guru SMA Negeri 3 Medan bermula dari pendaftaran sistem zonasi yg dibuka pihak sekolah. Belakangan, ada orangtua siswa yg mengaku sudah dimintai uang Rp 12 juta.

Percakapan saat oknum guru itu minta uang sempat direkam orangtua siswa. Menurut pengakuan Cut, orangtua calon siswa, pada Senin (12/7/2021) kemarin, suami Cut ditelepon oleh Iwan.

Karena saat itu suami Cut merasa tidak mengenal nomor yg menghubunginya, sang suami mengabaikannya. Namun, mengatakan Cut, tiba-tiba Iwan menelepon dirinya.

“Waktu itu jelang maghrib. Pertama dia (Iwan) bilang, ini bu Cut ya. Anaknya kemarin mau masuk ke sini enggak dapat ya,” mengatakan Cut menirukan perkataan Iwan, Rabu (14/7/2021).

Dalam percakapan via selular itu, Iwan mengatakan bahwa saat ini ada kekosongan kursi yg dapat diisi oleh anak Cut. Namun, Cut diminta menyerahkan uang berdalih administrasi. Tak tanggung-tanggung, uang yg diminta Iwan mencapai Rp 12 juta.

“Karena biaya adminnya Rp 12 juta, jadi saya enggak berani ngambil keputusan. Saya bilang ke dia (Iwan), saya diskusi dulu sama suami saya,” mengatakan Cut.

Setelah berdiskusi dengan sang suami, Cut menelepon Iwan. Pada kesempatan ini, Cut sengaja merekam percakapannya. Ia merasa kesal, lantaran ada pungli berkedok uang administrasi di SMA Negeri 3 Medan.

“Yang kami rekam itu percakapan yg kedua. Jadi dia bilang, (kalau) Rp 10 juta dia enggak berani (mengeluarkan calon siswa lain),” mengatakan Cut.

Tak lama berbincang, Iwan meminta supaya Cut datang saja ke SMA Negeri 3 Medan untuk mengerjakan dialog & negoisasi.

“Terus dibilangnya, udahlah ibu ke sini aja,” mengatakan Cut.

Namun, Cut tak mau mendatangi SMA Negeri 3 Medan.

Dia sudah terlanjur kesal, lantaran kena pungli belasan juta.

Masih Ada Kursi Kosong

Menurut Cut, sebenarnya masih ada kekosongan kursi di SMA Negeri 3 Medan. Namun oknum tersebut memanfaatkannya untuk meraup keuntungan.

“Yang jadi sedihnya kita kan ada bangku itu kosong, kenapa anak kita enggak dapat masuk di situ. Anak yg bukan domisili situ mereka dapat masuk ke sekolah itu,” ujarnya.

Ia menceritakan, jarak sekolah ke rumahnya cuma sekitar 966 meter. Dan anak nya itu mendapatkan urutan terakhir dari total kuota yg diambil. Namun, mengatakan Cut, karena alasan ada siswa yg tinggal kelas, kuota dikurangi jadi 426 orang.

“Jarak dari Jalan Ampera 7 ke SMA 3 enggak jauh kali. Seharusnya dia dapat jalur zonasi,” mengatakan Cut.

Dia mengatakan, kuota di SMA Negeri 3 itu semestinya 430 siswa. Namun berkurang jadi 426 orang, dengan dalih ada siswa yg tinggal kelas.

“Kami yg zonasinya di situ enggak masuk. Terus kawan kami yg lain digitukan juga. Sudah mendatangi sekolah, jawaban sekolah itu dari dinas. Mereka buang badan ke dinas,” mengatakan Cut.

Gubernur Minta Oknum Guru Dipecat

Menanggapi kasus ini, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi meminta pelaku dipecat saja.

“Pecat,” tegas mantan Pangkostrad itu, usai salat Zuhur, Rabu (14/7/2021).

Edy Rahmayadi menilai, semestinya guru sebagai tenaga pendidik sanggup memberikan contoh yg baik bagi seluruh siswanya, bukan malah menunjukkan perilaku yg bertentangan dengan hukum.

“Pecat, ya pecat. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari,” ucapnya.(hetanews.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *