oleh

JK: Din Syamsuddin mengkritik sesuai kapasitasnya sebagai akademisi

-Umum-3 views

Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla. Ia jadi wakil presiden di kepemimpinan Presiden Susilo Yudhoyono & Presiden Joko Widodo. ANTARA/Tim Media Jusuf Kalla

… Bayangkan kalau tidak ada akademisi seperti itu, yg tidak membuka jalan alternatif; maka negeri ini dapat jadi otoriter…Jakarta (ANTARA) – Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, mengatakan mantan ketua biasa PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, tidak melanggar etikanya sebagai aparatur sipil negara (ASN) melainkan mengpakai kapasitasnya sebagai akademisi dalam menyampaikan kritiknya kepada Pemerintah.

beincash

“Ada ASN akademis & inilah Pak Din di sini. Dia dosen & dia kemudian mengkritik. Jadi itu bukan soal (pelanggaran) etika, itu adalah profesi. Dia mengpakai keilmuannya untuk membicarakan sesuatu, itu bukan (masalah) etika,” mengatakan dia, dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Baca juga: JK: “Check and Balance” penting dalam pemerintahan demokratis

Menurut Kalla, ASN terbagi jadi dua kategori, yakni yg berada di struktur pemerintah & di lingkungan akademis. ASN di pemerintahan itulah yg tidak boleh mengkritik pemerintah karena mereka berada di suatu stuktur pemerintahan.

Sementara dosen yg berstatus ASN, lanjut Kalla, boleh saja mengpakai kemampuan akademisnya untuk menyampaikan kritik selama caranya tidak melanggar peraturan & undang-undang yg berlaku.

Baca juga: DPR harapkan kritik kepada pemerintah dihinggakan secara objektif

“Di UI, contoh saja Faisal Basri, dia khan sering mengkritik pemerintah. Tidak apa-apa, dia profesional. Jadi bukan melanggar etika ASN. Kalau seorang dirjen (di suatu kementerian) mengkritik pemerintah, itu baru salah,” katanya.

Selain itu, dia juga mencontohkan ada kelompok-kelompok di universitas negeri yg menggaungkan gerakan antikorupsi. Menurut dia, kelompok akademisi yg menyampaikan kritik kepada pemerintah merupakan wajar & diperlukan di negara demokratis seperti Indonesia.

Baca juga: Pandangan anggota DPR soal kritik kepada pemerintah

“Bayangkan kalau tidak ada akademisi seperti itu, yg tidak membuka jalan alternatif; maka negeri ini dapat jadi otoriter,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, kelompok yg mengatasnamakan Gerakan Anti-Radikalisme (GAR) yg berisikan alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) meminta Komisi Aparatur Sipil Negara menjatuhkan sanksi kepada Syamsuddin atas dugaan pelanggaran kode etik.

Baca juga: Gubernur Bali: Birokrasi jangan alergi dengan kritik

Tokoh kelahiran Pulau Sumbawa, NTB, saat ini tercatat sebagai dosen tetap di Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah di Jakarta.

Surat terbuka Nomor 10/Srt/GAR-ITB/I/2021 itu diklaim ditandatangani 1.977 alumnus ITB dari berbagai angkatan & jurusan pada 28 Oktober 2020.

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2000933/jk-din-syamsuddin-mengkritik-sesuai-kapasitasnya-sebagai-akademisi

ligafox

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *