oleh

Heboh Pegawai Pria Ngaku Diperbudak hingga Kerap Ditelanjangi, Pimpinan KPI Gelar Rapat

Slot SimakNews.com – Heboh Pegawai Pria Ngaku Diperbudak hingga Kerap Ditelanjangi, Pimpinan KPI Gelar Rapat,

Online – Sebuah pesan berantai dalam aplikasi pesan instan WhatsApp soal pegawai kontrak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yg mengaku mendapatkan perundungan dari teman kerjanya sejak 2012. Mengenai hal tersebut, KPI mengaku bakal memberikan keterangan pers.

Komisioner KPI Pusat Mimah Susanti mengatakan bahwa pihaknya saat ini tengah menggelar rapat pleno. Namun ia tidak menyebut apakah rapat pleno tersebut berhubungan dengan pengungkapan tindakan penganiayaan serta pelecehan yg dialami oleh pegawai kontrak berinisial MS.

“(Kami, red) sedang pleno dulu. Nanti ketua yg akan berikan statement,” mengatakan Mimah saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (1/9/2021).

Sebelumnya, seorang pria berinisial MS mengaku sudah menerima perundungan oleh rekan kerjanya sejak 2012. Ia mendapatkan tindakan pemukulan, makian, pelecehan hingga bahkan pelaku menelanjanginya & mencorat-coret testis miliknya.

Cerita MS tersebut beredar di aplikasi pesan instan WhatsApp dengan maksud meminta perhatian akan adanya tindakan pelecehan seksual di mana korban & pelaku adalah sama-sama pria.

Suara.com berusaha berkomunikasi dengan pria yg dimaksud melalui chat WhatsApp. MS membenarkan apabila pesan berantai itu memang berasal darinya.

“Iya benar tulisan saya, kak,” mengatakan MS melalui pesan singkat kepada Suara.com, Rabu (1/9/2021).

MS mengaku dirinya merupakan pegawai kontrak di KPI yg bertanggung jawab di divisi Visual Data. Ia mengaku harap sekali ke luar dari KPI karena sudah tidak kuat menahan perundungan yg dialaminya.

“Saya mau resign, sudah enggak kuat lagi,” ucapnya.

Kejadian perundungan itu terjadi sepanjang 2021-2014 di mana dalam 2 tahun ia kerap disuruh-suruh untuk melayani rekan kerja. Padahal menurutnya kedudukan mereka setara sebagai pegawai.

“Tapi mereka secara bersama sama merendahkan & menindas saya layaknya budak pesuruh,” ujarnya.

MS menyebut sudah tidak dapat terhitung berapa kali teman-teman kerjanya itu mengerjakan pelecehan, memukul, memaki tanpa ada perlawanan. Pasalnya ia kerap sendirian sementara rekan kerjanya beramai-ramai mengerjakan perundungan.

Puncaknya terjadi pada 2015 di mana MS dilecehkan oleh teman-teman kerjanya. Mereka bahkan berani menelanjangi MS.

“Tahun 2015, mereka beramai ramai memegangi kepala, tangan, kaki, menelanjangi, memiting, melecehkan saya dengan mencorat-coret buah zakar saya memakai spidol,” ucapnya.

Kejadian tersebut menciptakan MS jadi trauma & kehilangan kestabilan emosi. Bahkan menurutnya para pelaku mendokumentasikan tindakan pelecehan tersebut.

“Pelecehan seksual & perundungan tersebut mengubah pola mental, menjadikan saya stres & merasa hina, saya trauma berat, tetapi mau tak mau harus bertahan demi mencari nafkah,” ungkapnya.

Pada 2016 ia sering jatuh sakit karena mengalami stres akibat perundungan serta pelecehan yg dilakukan teman-teman kantornya. Ia kerap tidak dapat menahan emosi hingga mempengaruhi kepada daya tahan tubuhnya.

MS mengaku berangkat ke Rumah Sakit Pelni untuk mengerjakan endoskopi pada 8 Juli 2017. Hasil dari tes kesehatan tersebut, MS mengalami hipersekresi cairan lambung akibat trauma & stres.

Pada tahun yg sama, MS juga sempat mengikuti acara Bimtek di Resort Prima Cipayung, Bogor bersama teman-teman kantornya. Ketika tidur, MS dibawa & dilempar ke kolam renang oleh teman-temannya.

Teman-teman kantornya cuma menertawakan MS yg basah kuyup pada pukul 01.30 WIB.

MS sempat mengadukan pelecehan & penindasan tersebut ke Komnas HAM melalui email pada 11 Agustus 2017. Komnas HAM lantas membalas emailnya pada 19 September 2017 & berkata bahwa apa yg dialaminya masuk ke dalam kejahatan tindak pidana.

Karena itu Komnas HAM menyarankan supaya MS melaporkan ke pihak kepolisian.

Ia baru melaporkan ke Polsek Gambir pada 2019. Akan tetapi petugasnya malah berkata supaya MS menciptakan aduan ke pihak atasan terlebih dahulu.

Akhirnya MS pun mengadukan pelaku ke atasannya sembari menangis. Ia menceritakan semua pelecehan & penindasan yg dialaminya.

Pengaduan tersebut berbuah hasil dengan dipindahkannya MS ke ruangan lain yg dianggap ‘lebih ramah’ ketimbang ruangan sebelumnya.

Namun para pelaku yg diadukan MS sama sekali tidak mendapatkan sanksi. Alhasil, MS mendapatkan cibiran & penindasan kembali.

“Bahkan pernah tas saya di lempar keluar ruangan, kursi saya dikeluarkan & ditulisi “Bangku ini tidak ada orangnya”. Perundungan itu terjadi selama bertahun tahun & lingkungan kerja seolah tidak kaget. Para pelaku sama sekali tak tersentuh,” ungkapnya.

Atas saran keluarga, MS konsultasi ke psikolog di Puskesmas Taman Sari lantaran semakin merasa stress & frustasi. Dari sana, MS divonis mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

MS juga berupaya untuk meminta bantuan kepada pengacara kondang Hotman Paris hingga Deddy Corbuzier melalui Instagram pada Oktober 2020 namun hasilnya nihil. Melalui pesan berantai di WhatsApp juga ia meminta perhatian kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kapolri, Menko Polhukam, hingga Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk mendapatkan proteksi hukum.

“Saya tidak kuat bekerja di KPI Pusat kalau kondisinya begini. Saya berpikir untuk resign, tetapi sekarang sedang pandemi Covid-19 di mana mencari uang adalah sesuatu yg sulit,” ungkapnya.

“Lagi pula, kenapa saya yg harus keluar dari KPI Pusat? Bukankah saya korban? Bukankah harusnya para pelaku yg disanksi atau dipecat sebagai tanggung jawab atas perilakunya? Saya benar, kenapa saya tak boleh mengatakan ini ke publik.” (Suara.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *