oleh

Heboh Muslimah Harus Lepas Jilbab Saat Kerja, Haikal: Di Indonesia jika Ada maka Confirmlah Komunis Telah Berkuasa

Online – Haikal Hassan Baras merasa tergelitik dengan heboh di media sosial di mana ada pekerja muslimah di Belgia harus lepas hijab atau jilbab saat bekerja.

Menurut Haikal, kalau hal ini terjadi di Indonesia, maka berarti Komunis atau kelompok anti agama sudah berkuasa.

“Di Indonesia gak bakal ada yg begini. Banyak ASN pada pakai jilbab kok. Bahkan polwan saja banyak yg pakai.Jika ada yg melarang…. maka confirm lah bahwa komunis anti agama sudah berkuasa…,” mengatakan Haikal, Sabtu 8 Mei 2021.

Untuk diketahui, Wanita Muslim berjilbab di Brussel, Belgia mengalami diskriminasi di Perusahaan Transportasi Antarkomune Brussel (STIB-MIVB).

Pengadilan tenaga kerja di Brussel menetapkan STIB-MIVB melanggar undang-undang karena wanita tersebut tidak cuma mengalami diskriminasi agama tetapi juga diskriminasi gender.

Akibatnya, pengadilan memberikan denda kepada perusahaan sebesar 50 ribu euro. Keputusan tersebut diumumkan oleh LSM yg berbasis di Brussel, Unia, pada Rabu lalu.

Ini berawal seorang wanita Muslim berjilbab melamar pekerjaan administrasi di STIB-MIVB. Namun, lamarannya ditolak dua kali & dia mengalami diskriminasi. Unia melaporkan masalah ini ke pengadilan bersama Liga Hak Asasi Manusia (LDH). Mereka mengatakan STIB-MIVB menolak mempekerjakan wanita tersebut pada tahun 2015 & 2016 meskipun ia mempunyai keterampilan teknis yg diperlukan.

“Dalam praktiknya, tidak boleh ada lagi diskriminasi yg terjadi,” mengatakan salah seorang anggota Unia, Els Keytsman.

Menurut LDH, pihak perusahaan mengatakan kepada wanita itu, STIB-MIVB mengikuti kebijakan netralitas yg berarti stafnya tidak diperbolehkan membawa simbol keagamaan, narapidana, politik, filosofis yg terlihat. Sejalan dengan kebijakan itu, dia diberitahu harus melepas jilbabnya kalau akan bekerja.

Selama wawancara, dia mengubah jilbab tradisionalnya jadi turban. Namun, pihak perusahaan memberitahu lagi bahwa penutup kepala juga tidak diperbolehkan. Setelah itu, dia tidak pernah mendengar kabar dari perekrut.

Perusahaan mengeklaim wanita itu tidak ditolak karena penampilan jilbabnya. Akan tetapi, pengadilan menyebut perusahaan tidak menerapkan perlakuan yg sama.

Hakim mengatakan apa yg disebut kebijakan netralitas STIB-MIVB tidak dilakukan secara koheren & adil serta mengarah pada segala tipe diskriminasi. Selain itu, pengadilan juga mengatakan kebijakan STIB-MIVB merugikan tujuan keberagaman.

“Saat ini, seorang karyawan tidak diizinkan untuk memakai jilbab sedangkan rekan laki-laki diizinkan membiarkan jenggotnya. STIB-MIVB harus memeriksa dengan cermat kebijakan ini & tidak lagi aturan yg menerapkan prinsip netralitas eksklusif,” ujar Kslaeytsman.

Jenggot kerap kali dikenakan oleh pria beriman. Mereka juga menunjukkan tanda-tanda kecenderungan politik atau keyakinan ideologis. Untuk pengadilan, kasus tersebut juga melambangkan diskriminasi tidak langsung berdasarkan tipe kelamin pelapor.

Keputusan pengadilan tenaga kerja dapat berdampak luas bagi STIB-MIVB. Sekarang perusahaan sudah diberitahu untuk mengubah kebijakan perekrutan stafnya & mengecualikan prinsip netralitas.

Seperti dinukil Repunlika dari TRT World, Sabtu (8/5), Belgia adalah negara yg menampung wanita Muslim berjilbab. Ribuan orang memprotes ketika keputusan Mahkamah Konstitusi Belgia melarang jilbab di pendidikan tinggi pada Juli tahun lalu. (netralnews.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *