dosen -
in

Diduga Korban Salah Tangkap Saat Demo, Dosen UMI Ngaku Dipukuli-Dimaki Polisi, Kini Lapor ke Polda Sulsel

Online – Aan Mamontoh, dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar melaporkan kasus dugaan penganiayaan yg ia alami saat jadi korban salah tangkap di demo Omnibus Law yg berujung ricuh di Makassar. Aan melaporkan pelanggaran etik & pidana penganiayaan ke Polda Sulsel yg diduga dilakukan anggota polisi.
“Iya, kemarin (di) Krimum & etik yg saya Laporkan,” mengatakan Aan kepada detikcom, Selasa (13/10/2020).

Diketahui, laporan polisi soal penganiayaan secara bersama-sama oleh korban bernomor LPB/330/X/2020/SPKT POLDA SULSEL tanggal 12 Oktober 2020.

Advertisements

“Terkait dugaan tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama sebagaimana diatur & diancam pidana dalam Pasal 170 Ayat (1) KUHPidana,” mengatakan Aan.

Sementara laporan soal kode etik milik Aan diketahui bernomor LP/49-B/X/2020/Subbag Yanduan. Laporan ini juga diajukan di tanggal yg sama dengan laporan polisi terkait aksi penganiayaan.

“Tentang laporan terjadinya peristiwa pelanggaran disiplin/kode etik profesi Polri tentang tindakan penganiayaan secara bersama-sama yg dilakukan oleh oknum anggota Polri,” beber Aan.

Aan sendiri menunjukkan sejumlah foto dirinya dalam kondisi babak belur, termasuk mengalami lebam di sejumlah bagian tubuhnya. Dalam foto tersebut, tampak area pelipis mata kiri, pipi kiri, hidung, jidat, & area bibir milik Aan jadi memar yg ia sebut akibat penganiayaan.

Dengan kondisinya yg seperti itu, Aan mengomentari pernyataan polisi yg menyebut upaya paksa polisi di lapangan saat demo ricuh dapat jadi dinamis. Menurut Aan, pernyataan tersebut seakan jadi pembenaran kepada dugaan pelanggaran prosedur anggota kepolisian di lapangan.

“Aduh ribet juga seakan-akan dia memperbolehkan anggotanya untuk mengerjakan penganiayaan atas nama dinamis, wah ribet kalau gini sekali,” mengatakan Aan.

Aan sendiri mengaku maklum kalau polisi punya kewenangan mengerjakan pemeriksaan 1×24 jam berhubungan dengan Aan berada di area kericuhan. Aan mengaku terjebak, namun tetap saja dia menganggap penganiayaan tak boleh serta merta dilakukan.

“Ini perlu saya hinggakan tetapi berkaitan dengan kondisiku saat ini oke lah kalau misal mereka berasumsi seperti itu (bukan salah tangkap), tetapi kan tidak ada peraturan yg memperbolehkan tindakan presesif seperti ini,” mengatakan Aan.

“Seakan-akan pernyataan ini memperbolehkan tindakan refresif, itu yg saya tidak terima. Kalau mereka berasumsi itu kesalahan saya (berada di area kericuhan) okelah tetapi apakah dapat mengerjakan tindakan seperti itu (dipukuli)?,” sambung Aan.

Sementara itu, Polda Sulawesi Selatan sudah memberikan penjelasan. Polisi menegaskan keberadaan Aan di area kericuhan merupakan sebuah resiko tersendiri bagi Aan. Kemudian untuk dugaan penganiayaan, polisi menilai upaya paksa polisi di lapangan dapat jadi sangat dinamis, namun mereka tetap terbuka apabila Aan akhirnya memutuskan menempuh jalur hukum.

“Jadi apabila terjadi memang ada tugas yg dilakukan Propam akan turun untuk mengerjakan pengecekan apakah tugas-tugas kepolisian di jalan sesuai dengan prosedur. Demikian yg terjadi kemarin ini Propam tetap turun untuk mengerjakan pengecekan untuk melihat apakah memang anggota ada bekerja di luar prosedur,” mengatakan Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Ibrahim Tompo, Senin (12/10).

Diduga Korban Salah Tangkap Saat Demo, Dosen UMI Ngaku Dipukuli-Dimaki

Dosen Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar Aan Mamontoh diduga jadi korban salah tangkap polisi saat demo penolakan Omnibus Law. Aan mengaku dipukuli polisi sembari dikata-katai dengan kata-kata kasar.
“Mereka (polisi) sudah tahu saya dosen, tetap saya dipukuli sambil melontarkan kata-kata kasar, ‘dosen sundala!’,” ujar Aan kepada wartawan, Selasa (13/10/2020).

Aan lalu mengungkap awal mula ditangkap hingga dipukuli hingga babak belur oleh polisi saat demo omnibus law ricuh di Makassar pada Kamis (8/10) lalu. Awalnya, dia hendak keluar untuk menge-print berkas.

Saat massa demo tolak omnibus law terpukul mundur hingga di Jalan Urip Sumoharjo, tepatnya di kantor Gubernur Sulsel, Aan terjebak di antara kericuhan di seberang kantor Gubernur Sulsel.

“Saya dekat dari videotron itu, itu yg dibakar kan ada di depannya Alfamart itu, ada bale-bale (tempat duduk), di situ saya berdiri, (tepatnya) setelah (pom bensin) Pertamina, saya di bale-bale saya berdiri hingga akhirnya ini kan terjebak posisinya,” jelas Aan.

Dalam kondisi terjebak, menurutnya, polisi kemudian terus menembakkan gas air mata ke arah massa aksi. Aan pun lari berlindung ke parkiran minimarket.

“Saya amankan diri karena ada gas air mata, saya masuk di parkiran minimarket. Nah di situ banyak tukang bakso, kemudian ada tukang parkir pas saya ditangkap (polisi),” ungkapnya.

Aan melanjutkan polisi langsung menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi. Dia berusaha menunjukkan bukti diri sebagai seorang dosen FH di UMI, tetapi tetap dipukuli hingga masuk ke mobil polisi.

“Saya dihajar & saya sudah menunjukkan bukti diri bahwa saya seorang dosen & bukan bagian dari pada massa. Tapi saya tetap dipukuli, jangankan itu di mobil saja saya dipukuli,” tuturnya.

Atas peristiwa yg dialaminya, Aan sudah melapor ke Propam Polda Sulsel.

“Saya sudah hinggakan waktu saya melaporkan di Polda. Saya sudah melapor di Propam secara pidana hukum etik saya lapor, sudah masuk saya ditemui Pak Wakapolda, Pak Wakapolda siap respons dengan baik,” ucapnya.

Sebelumnya, Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) membantah dosen Fakultas Hukum UMI Aan Mamontoh (27) sebagai korban salah tangkap aparat pada saat kericuhan demo tolak omnibus law di Makassar, Sulawesi Selatan. Polisi meluruskan hal tersebut.

“Jadi ini perlu juga saya luruskan bahwa itu bukan upaya salah tangkap. Kadang-kadang kita juga tidak boleh menggeneralisir bahasa salah tangkap karena biasanya salah tangkap ini kalau memang misalnya sudah ditentukan tersangkanya namun orang lain kita tangkap. Ini baru mungkin dapat didudukkan sebagai salah tangkap,” mengatakan Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Ibrahim Tompo saat dimintai konfirmasi detikcom, Senin (12/10).

Menurut Ibrahim, aparat pengamanan demo di sepanjang Jalan Urip Sumoharjo pada Kamis (8/10) sudah mengerjakan prosedur berlapis. Salah satunya mengimbau warga menjauh dari area kericuhan. Namun Ibrahim tak mengetahui pasti mengapa dosen UMI tersebut ada di letak kericuhan.

“Kalau yg normal atau masyarakat yg mungkin ada pada saat itu pasti kan akan menghindari permasalahan yg ada. Jadi sejak ada kejadian, permasalahan, kekacauan pasti kan akan menghindari area-area tersebut,” beber Ibrahim.(detik.vom)

Report

What do you think?

654 points
Upvote Downvote

Written by Agen Slot

Agen Slot Online Terbaru 2020

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0