oleh

Deddy Corbuzier Apresiasi Ceramah Gus Miftah di Gereja, Ini Isinya

Gus Miftah, Syekh Ali Jaber & Deddy Corbuzier [Instagram/gusmiftah]

Gus Miftah hadiri peresmian Gereja Bethel Indonesia (GBI) Amanat Agung.

Simaknews.com – Deddy Corbuzier mengapresiasi kedatangan sahabatnya, Gus Miftah, di peresmian Gereja Bethel Indonesia (GBI) Amanat Agung, Penjaringan, Jakarta Utara. Gus Miftah bukan cuma sekadar datang, tetapi turut memberikan ceramah di hadapan jemaat.

Aksi Gus Miftah itu diunggah Deddy Corbuzier di Instagram. Tampak pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, Yogyakarta itu berdiri di mimbar dengan latar lambang salib.

Isi ceramah Gus Miftah menyinggung soal keberagaman agama yg ada di Indonesia. Namun hal itu dapat serasi dengan adanya saling menghormati diantara umat beragama.

“Gus Miftah, nggak dapat berkata apa-apa lagi. Di saat heboh-hebohnya Paul.. Yahya, Kita masih Indonesia,” tulis Deddy Corbuzier di Instagram, Jumat (30/4/2021).

Baca Juga: Soroti Dakwah Gus Miftah di Diskotek, Ustaz Abdul Somad Ajak ke Jalan Allah

Bukan cuma Deddy Corbuzier yg memberikan apresiasi untuk sahabatnya. Tetapi sederet selebriti lain pun memberikan respons serupa.

“Indah,” ujar Young Lex.

Menyusul presenter sekaligus komedian Denny Cagur & Ario Bayu yg menyematkan emoji love di kolom komentar.

Lalu seperti apa isi ceramah Gus Miftah dalam kesempatan tersebut? Berikut selengkapnya.

Di saat saya menggenggam tasbihku & anda menggenggam salibmu.

Baca Juga: Atta Halilintar & Aurel Hermansyah Berguru ke Gus Miftah, Ini Wejangannya

Di saat saya beribadah di Istiqlal, namun engkau ke Katedral.

Di saat bio-ku tertulis Allah Subhanahu Wa Ta’ala & bio-mu tertulis Yesus Kristus.

Di saat saya mengucapkan assalamualaikum & anda mengucap shalom.

Di saat saya mengeja Al-Quran & anda mengeja Al Kitabmu.

Kita berbeda saat memanggil nama Tuhan. Tentang saya yg mengenadahkan tangan & anda melipat tangan sambil berdoa.

Aku, kamu, kita.

Bukan Istiqlal & Katedral yg ditakdirkan berdiri berhadapan dengan perbedaan, namun tetap harmonis.

Andai saja mereka bernyawa, apa tidak mungkin saling mensayangi & menghormati antara satu dengan lainnya?

Terima kasih, assalamualaikum, shalom.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *