oleh

Bolehkah Muslim Masuk ke Gereja? Ini Penjelasan Gus Nadir

Online – Ulama Miftah Maulana Habiburrahman atau biasa dipanggil Gus Miftah, tengah ramai diperbincangkan publik beberapa hari terakhir usai dirinya menghadiri acara peresmian renovasi Gereja Bethel Indonesia (GBI) Amanat Agung di Penjaringan, Jakarta Utara pada Jumat (30/4/2021) lalu.

Selain hadir di GBI Amanat Agung untuk memenuhi undangan panitia, Gus Miftah juga didapuk menyampaikan orasi kebangsaan di acara tersebut. Video orasi kebangsaan itu diunggah Gus Miftah di akun Instagramnya pada Jumat (30/4/2021).

Video tersebut kemudian viral di media sosial & menimbulkan pro kontra di kalangan umat Islam. Banyak yg mendukung Gus Miftah, tetapi tak sedikit juga mengkritik & menghujat pengasuh pondok pesantren (ponpes) Ora Aji Kalasan, Sleman, D.I Yogyakarta itu, bahkan ada yg menudingnya kafir, sesat & umpatan lainnya.

Kontroversi soal kehadiran Gus Miftah di GBI Amanat Agung itu menciptakan sejumlah ulama ikut bersuara, salah satunya Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa (PCINU) Autralia-New Zealand KH Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir.

Gus Nadir ikut merespons hal itu ketika ditanya seorang netizen di Twitter mengenai kontroversi kehadiran Gus Miftah di GBI Amanat Agung.

“Mohon maaf Gus, saya masyarakat awam yg sedang kebingungan terkait masalah yg sedang booming sekarang, mohon kiranya Gus terangkan sudut pandang njenengan terkait umat muslim yg memasuki rumah peribadatan agama lain, apakah ada syarat-syarat yg memperbolehkan atau bagaimana?” tanya netizen pemilik akun Twitter, @RaghibShako, Kamis (6/5/2021).

Menjawab pertanyaan netizen itu, Gus Nadir mengatakan bahwa sudah sejak lama dirinya menjelaskan mengenai pro kontra Muslim masuk ke gereja.

“Sudah lama diulas di artikel ini masalah bolehkah Muslim masuk gereja. Ada disparitas pendapat ulama. Kita hormati saja,” jawab Gus Nadir.

Gus Nadir menautkan link artikel berjudul ‘Bolehkah Muslim Masuk ke Gereja?’. Artikel itu dimuat di websitenya, nadirhosen.net pada 19 September 2019 lalu.

Lantas, seperti apa pandangan Gus Nadir mengenai Muslim masuk ke Gereja?. Berikut penjelasannya, seperti dikutip netralnews.com dari nadirhosen.net, Jumat (7/5/2021).

Bolehkah Muslim Masuk ke Gereja? Jangan Emosi, Kita Ngaji Kitab Fiqh Yuk!

Sahabat & guru saya, Ustaz Yusuf Mansur meminta saya menjelaskan bagaimana hukumnya seorang Muslim memasuki gereja. Belakangan ini ada tokoh yg mengatakan, “murtad bagi Muslim yg masuk gereja.” Ada lagi yg mengatakan, “haram menurut mazhab Syafi’i”. Bagaimana status hukumnya yg sebenarnya? Ada baiknya penjelasan ini saya tuliskan & bagikan untuk yg lain.

Sebenarnya tidak ada larangan dalam nash al-Qur’an & Hadits yg secara tegas melarang Muslim masuk gereja atau rumah ibadah lain. Karena itu, perkara ini masuk ke wilayah interpretasi, atau penafsiran para ulama. Itulah sebabnya para ulama berbeda pandangan mengenai status hukumnya.

Saya kutip keterangan dari kitab Mausu’ah Fiqh Kuwait. Kitab ini ensiklopedia persoalan fiqh dari berbagai mazhab. Begini penjelasannya:

‎ََ َََُِّْ ََُّ َُُْ ُِِِْْ ُُ َِِْ َََِِْ، ََُِّ ََُْ ََِِّ، َ ِْ َُْ َُِّ ََْ َُ َُّ ُُّ. ََََ َُْ ََِِِّّ ِ ٍَْ َِ ََُّ َ َُُ ُِِِْْ َُُُ‎َِّ ِِِِْْ، ََََ َُْْ َُْ ِ ٍَْ ََ َِ ََُّ َ َُُْ َُُُ َِِْ ِِِْْ. ََََ َََُِْ َِ ََّ ُِِِْْ ُُ ٍَِ ٍَََِ َََِِْ ََََّ ِ ََِ، ََْ َََْ َُُْ ِْ ََ ََّ ٌَُ، َِ ًَُْ، َََ ََِ ِ ََِِّ، ََ ِ َُِِْْْ: ََُِّ ََُ َِْْ ِ ََِِْ ََِِْ ََ َََِْ، ََ ُْ ٍَِ. َ ََْ ُُِ َِِْ َََِِْ َِّ َ ََُ َِ، َََِّ َِ. ََ ُْ ٍَِ: َُُْ ََِّ َِ ٌَُ، َََ ِ َََِْ َََِِْ. ََ ِ َِّْ. َ ََْ ََِِّ ِ ََِِْ ََِِّ َُِ ََِ َِ ِْ ََُ ََِ َُ َََُ َْ ٍَََ، َََِ ُْ ٍََّ ٌََِ َََّ ِ ََِِْ َِْ َُِّ،

Dari penjelasan di atas, paling tidak ada 4 disparitas pendapat ulama.

Pertama, Ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa MAKRUH bagi seorang Muslim memasuki sinagog & gereja.

Kedua, Sebagian ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa TIDAK BOLEH bagi orang Muslim memasuki tempat ibadah non-Muslim KECUALI ada izin dari mereka. Sebagian ulama mazhab Syafi’i yg lain berpendapat bahwa TIDAK HARAM memasuki tempat ibadah non-Muslim meski tanpa ada izin dari mereka.

Ketiga, Ulama mazhab Hanbali berpendapat BOLEH bahwa memasuki sinagog & gereja, & rumah ibadah lainnya, serta melalukan shalat di dalamnya, tetapi hukumnya MAKRUH menurut Imam Ahmad, kalau di dalamnya ada gambar.

Keempat, Ibn Tamim berpendapat tidak mengapa masuk sinagog & gereja kalau tidak ada gambar di dalamnya, begitu juga shalat di dalamnya. Ibn Aqil berpendapat makruh karena ada gambar. Masalah ini ada dua pendapat: ada yg bilang tidak mengapa shalat di dalam gereja berdasarkan riwayat dari sahabat Nabi, Ibnu Umar & Abu Musa, sebagaimana dikisahkan oleh banyak ulama, & ada juga riwayat dari Ibn Abbas & Malik bahwa shalat di gereja makruh karena ada gambarnya.

Penjelasan di atas terdapat dalam juz 20, halaman 245.

Adapun dalam juz 38, halaman 155, masih di kitab yg sama, ada tambahan keterangan:

‎َََ ََُِِّْ ََََُِْ ََُْ ََِِِّّ ََّ ُِِِْْ ُُ ٍَِ ٍَََِ َََِِْ

“Ulama mazhab Maliki, Hanbali, & beberapa ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa BOLEH bagi orang Muslim memasuki sinagog, gereja & rumah ibadah lainnya.”

Bayangkan, kita masih berdebat soal boleh memasuki gereja atau tidak, para ulama bahkan sudah membahas bolehkah shalat di dalam gereja. Seperti tercantum di atas, mereka mengatakan sholatnya sah, & ada yg membolehkan secara mutlak, namun ada yg memgatakan sah, namun makruh karena ada gambar di dalam gereja.

Kita tambahkan dengan mengutip satu kitab fiqh perbandingan mazhab lainnya, yaitu kitab al-Mughni karya Ibn Qudamah.

Dalam juz 2, halaman 57:

‎[ٌَْ ََِّ ِ ََِِْ ََِّ]‎() ٌَْ: ََ ََْ ََِِّ ِ ََِِْ ََِِّ، َََّ َِ ََُْ ََُُ ُْ َِْ َِِْ ََُِّّْ َََُِّْْ ََُِ ُْ َِْ َِِْ ََُِ ًَْ َْ ََُ ََِ َُ، َََِ ُْ ٍََّ ٌََِ َََِْ؛ ِْ َِْ َُِّ. َََ «، ََّ ََِّّ – ََّ َُّ ََِْ ََََّ – ََّ ِ ََِْْ ََِ ٌَُ» ، َُّ َِ ٌََِ ِ َِِْ – ََِْ ََُّ -: «ََََْ ََََْْ ََُّ ََِّ، ََُِّ ٌَِْ»

Ibn Qudamah menjelaskan al-Hasan, Umar bin Abdul Azis, Sya’bi, Awza’i & Sa’id bin Abdul Azis, serta riwayat dari Umar bin Khattab & Abu Musa, mengatakan tidak mengapa shalat di dalam gereja yg bersih. Namun Ibn Abbas & Malik memakruhkannya karena ada gambar di dalam gereja. Namun bagi kami (Ibn Qudamah & ulama yg sepaham dengannya) Nabi Saw pernah shalat di dalam Ka’bah & di dalamnya ada gambar. Ini juga termasuk dalam sabda Nabi: “jika waktu shalat sudah tiba, kerjakan shalat di manapun, karena di manapun bumi Allah adalah masjid (tempat sujud).”

Ibn Qudamah juga mengutip kisah menarik dalam juz 7, halaman 283:

‎َََ ُْ ٍَِ ِ ” ُُِ َِّ “، ََّ َََّ ََُ َََُ – ََِ َُّ َُْ -، َِ ََِ ََّ، ًََ، َََُْ، َََ: ََْ َُ؟ َُ: ِ ََِِْ، َََ َْ َََْ، َََ ٍََِّ: ِْ َِِّ، َََََِّْ. ََََ ٌَِّ – ََِ َُّ َُْ – َِِّ، ََََ َََِْ، ََََّ َُ ََُُِْْ، ََََ ٌَِّ َُُْ َ َُِّ، َََ: َ ََ َِِ َُِِْْ َْ َََ ََََ،‎َََ ٌَِّ ُِْْ ََ ََِ َُُِ ََِ ُُّ، َََِّ َُُ ََِِْ ََِِْ َُْ ٍََُّ

Ketika Umar bin Khattab memasuki negeri Syam & itu diketahui oleh kaum Nasrani negeri tersebut, mereka berinisiatif untuk menyambut Umar dengan menyajikannya makanan. Namun jamuannya itu disajikan di dalam gereja mereka. Lalu Umar menolak hadir & memrintahkan ‘Ali untuk menggantikannya. Datanglah ‘Ali ke undangan tersebut lalu masuk ke dalamnya & menyantap hidangan yg disediakan. Kemudian Ali berkata: “aku tidak tahu kenapa Umar menolak datang?” Kata Ibn Qudamah, ini bukti kesepakatan mereka para sahabat bahwa memasuki gereja/sinagog tidaklah haram.

Nah, mungkin ada yg bertanya: mengapa Umar menolak datang? Kalau haram, mengapa Umar mengutus Ali? Kelihatannya alasan Umar tidak mau masuk & menghadiri jamuan di gereja adalah karena khawatir umat Islam akan memahami bahwa boleh merebut gereja itu & mengubahnya dijadikan masjid. Ini juga yg dilakukan Umar saat menolak masuk ke gereja di Palestina. Umar menghindari kerusakan & kekerasan. Namun, jelas bahwa Imam Ali & para sahabat memasuki gereja & menghadiri jamuan di dalamnya.

Demikianlah penjelasan dari kitab klasik yg otoritatif supaya kita tidak memahami persoalan ini dengan emosi & mudah mengkafirkan atau memurtadkan suadara kita yg masuk ke dalam gereja. Ini bukan jawaban orang liberal, syi’ah, orientalis, sekuler atau sebagainya. Ini murni jawaban dari kitab fiqh berdasarkan pendapat para ulama, & praktek Nabi Saw & para sahabat. Mari kita hormati keragaman pendapat ulama. (netralnews.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *