oleh

BNPT: Tasawuf agama (jhsan) sebagai vaksin radikal terorisme

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid. ANTARA/HO-Dok BNPT

Jakarta (ANTARA) – Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid mengatakan tasawuf agama (Ihsan) sebagai “vaksin” radikal terorisme.

Ahmad Nurwakhid, saat jadi narasumber pada acara “Ngaji Onlne” yg digelar oleh Pondok Pesantren Raden Rahmat Sunan Ampel, Senin, mengatakan Nabi Muhammad SAW sudah mensyariatkan atau memfatwakan bahwa rukun dalam beragama ini, yaitu Iman, Islam & Ihsan.

Rukun Ihsan inilah yg dapat mengeksplor & menggali aspek spiritualitas di dalam keagamaan sehingga ketika spiritualitas itu muncul & menonjol maka tercermin dalam perilaku akhlakul karimah sebagaimana misi utama daripada Rasulullah Muhammad SAW, innama bu’istu liutammima makarimal akhlak, di mana yg dapat menggali atau mengeksplor spiritualitas di dalam keagamaan itu tidak ada jalan lain kecuali cuma dengan tasawuf.

Tasawuf sendiri adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun lahir & batin serta untuk memperoleh kebahagiaan yg abadi.

“Kunci utama daripada kekaffahan agama itu adalah Iman, Islam & Ihsan. Dan kelemahan bangsa Indonesia khususnya umat Islam itu pada aspek ihsan atau aspek spiritualitas, yg mana dalam konteks ini adalah tasawuf,” tutur Brigjen Pol R. Ahmad Nurwakhid seperti yg dirilis BNPT ini.

Baca juga: Kaderisasi Pancasila Tangkal Radikalisme di Kampus

Baca juga: Tangkal radikalisme & terorisme lewat “soft approach”

Dia mencoba mengkomparasi atau merelevansikan tasawuf ini dalam konteks kehidupan berbangsa & bernegara, karena berbicara radikalisme & terorisme yg mengatasnamakan agama, tentunya hal tersebut bukan monopoli satu agama, tetapi ada di setiap agama, ada di setiap sekte, ada di setiap kelompok, bahkan potensial pada setiap perseorangan manusia.

Menurut dia, akar masalah radikal terorisme sendiri adalah ideologi yg menyimpang atau ideologi yg terdistorsi, bahkan radikalisme dalam konteks Indonesia, kalau di luar negeri dengan istilah ekstremisme, inilah yg menjiwai dari segala aksi terorisme.

Brigjen Pol Ahmad menegaskan bahwa radikal terorisme mengatasnamakan Islam ini sejati-nya adalah fitnah bagi Islam.

“Kenapa, karena tindakan perbuatan sikapnya itu bertentangan jauh dengan prinsip-prinsip nilai-nilai Islam yg rahmatan lil alamin. Yang mewajibkan ‘lita’arafu’ yaitu harus saling mengenal, saling memahami, saling menghormati, saling menyayangi, yg wajib menebar kasih sayang, perdamaian & lain sebagainya, akhlakul kharimah,” ujarnya.

Ia meyakini bahwa radikalisme & terorisme mengatasnamakan Islam ini sejati-nya adalah proxy untuk menghancurkan Islam & menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca juga: Unesa bahas radikalisme di kalangan mahasiswa

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2135386/bnpt-tasawuf-agama-jhsan-sebagai-vaksin-radikal-terorisme

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *