oleh

Bamsoet dukung larangan impor alutsista yg bisa dipenuhi sendiri

(Kiri ke kanan) Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose, Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat mengerjakan kunjungan kerja ke PT Pindad, Bandung, Jumat (7/8/20). ANTARA/HO-mpr.go.id/pri.

Jakarta (SIMAKNEWS) – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendukung langkah presiden melarang Kementerian Pertahanan mengerjakan impor alat utama sistem senjata (alutsista) yg dapat dipenuhi sendiri di dalam negeri.

“Saya mendukung langkah Presiden Joko Widodo yg melarang Kementerian Pertahanan mengerjakan impor alutsista yg dapat dipenuhi oleh industri pertahanan dalam negeri,” ujar Bamsoet dalam siaran pers di Jakarta, Jumat.

Dia mengatakan dalam pagu anggaran Tahun 2020, Kementerian Pertahanan mendapatkan alokasi Rp131 triliun. Namun Pandemi COVID-19 menciptakan pemerintah mengerjakan refocusing anggaran, sehingga berdasarkan Perpres 72 Tahun 2020 sebagai perubahan Perpres 54 Tahun 2020, anggaran Kementerian Pertahanan dipotong jadi Rp117 triliun.

Sedangkan untuk tahun anggaran 2021, Kementerian Pertahanan sudah meminta alokasi dana sebesar Rp129,3 triliun.

Baca juga: DPR nilai bagus, Kemenhan diminta prioritaskan belanja dalam negeri

Dia mengatakan langkah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yg memesan kepada PT Pindad berupa 4 miliar butir peluru dengan anggaran mencapai Rp19 triliun, serta 500 unit kendaraan taktis MAUNG dengan anggaran mencapai Rp500 miliar, sudah tepat.

Menurut dia, pemesanan tersebut akan menggairahkan pengembangan industri pertahanan nasional.

“Dan yg paling penting, uang rakyat dimanfaatkan untuk rakyat, bukan dinikmati untuk impor,” mengatakan Bamsoet.

Dia memaparkan berdasarkan data Stockholm International Peace Research (SIPRI), tercatat pengeluaran belanja persenjataan dunia pada tahun 2018 mencapai USD 420 miliar, atau tertinggi sejak berakhirnya Perang Dharap.

Hal tersebut dipicu eskalasi ketegangan Amerika Serikat-Tiongkok, yg menciptakan berbagai negara mengerjakan penguatan persenjataan militernya.

“Ketegangan Amerika-Tiongkok semakin kuat lantaran pandemi COVID-19. Tak menutup kemungkinan, berbagai negara selain berjuang melawan pandemi juga semakin berjuang menguatkan industri pertahanan. Jika Amerika & Tiongkok terlibat perang maupun eskalasi militer, Asia Tenggara dipastikan jadi kawasan paling terdampak,” papar Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menekankan, Indonesia tidak mengharapkan terjadinya perang. Namun tetap harus bersiap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk.

Baca juga: Anggota DPR minta pemerintah segera remajakan alutsista TNI

Hal ini, katanya, sebagaimana doktrin biasa dalam menjaga kedaulatan, “Siap perang di kala damai, siap damai di kala perang, siap perang di kala perang”.

Dia menekankan di Asia, akibat ketegangan Amerika-Tiongkok, industri pertahanan Korea Selatan menuai berkah. Tercatat dalam kurun waktu 2015-2016, Korsel berhasil mengekspor persenjataan senilai 8,4 miliar dolar AS.

“Keberhasilan tersebut bukanlah dibangun dalam semalam, melainkan dibangun serius sejak tahun 1970. Indonesia melalui kerjasama epic Presiden Joko Widodo & Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, sudah memberikan perhatian serius kepada pengembangan industri pertahanan. Semoga dapat membuahkan hasil maksimal,” jelas Bamsoet.

Adapun pada Jumat, Bamsoet mengerjakan kunjungan kerja ke PT Pindad, Bandung.

Pada kesempatan tersebut Bamsoet menjajal langsung kendaraan taktis MAUNG, serta Senapan Serbu SS2 – V4 HB yg dipakai Kontingen TNI Angkatan Darat menjuarai lomba menembak antarnegara di ajang Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASAM) sejak tahun 2008-2019.

Keduanya merupakan hasil karya anak bangsa melalui PT Pindad.

PT Pindad juga memproduksi kendaraan tempur seperti medium tank HARIMAU, serta panser ANOA 6×6.

Sebanyak 80 unit ANOA juga pernah terlibat dalam berbagai misi perdamaian dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), antara lain UNAMID di Sudan, UNIFIL di Lebanon, serta terakhir misi MINUSCA di Afrika Tengah.

ANOA juga sudah di ekspor ke berbagai negara seperti Malaysia & Filipina. Menurut Bamsoet, hal tersebut jadi bukti bahwa produksi Pindad memiliki kualitas internasional & disegani dunia.

“Tak ada alasan bagi Indonesia untuk tak membesarkan PT Pindad,” ujar Bamsoet.

Turut hadir dalam kunjungan kerja itu yakni Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad, Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose, Direktur Bisnis Produk Industrial PT Pindad Heri Heriswan, Direktur Bisnis Produk Pertahanan Keamanan PT Pindad Heru Puryanto, & Direktur Keuangan & Administrasi PT Pindad Wildan Arief.

Baca juga: Produsen alutsista dalam negeri J-Forces incar pasar Filipina

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *