7FA9467D F6E2 40BA 8A44 069AA361EB2D -
in

Bamsoet berbagi perspektif merdeka dalam forum Din Syamsuddin

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) saat membagikan perspektif memaknai kemerdekaan dalam sarasehan kebangsaan DN-PIM secara virtual di Jakarta, Selasa (25/8/2020). (ANTARA/ Abdu Faisal)

Jakarta (ANTARA) – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo berbagi perspektif pandangan & pemikiran tentang arti merdeka dalam forum ‘Sarasehan Kebangsaan’ yg digagas oleh Ketua Umum Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju Din Syamsuddin.

Advertisements

Menurut Bamsoet, sapaan Bambang Soesatyo, penyelenggaraan Sarasehan Kebangsaan siang itu menyiratkan pesan penting, bahwa pandemi tidak boleh menghentikan & memasung pemikiran- pemikiran kebangsaan yg dimiliki setiap anak bangsa.

“Di tengah keprihatinan kita bersama menghadapi pandemi, penyelenggaraan Sarasehan Kebangsaan ini menyiratkan pesan penting, bahwa pandemi tidak boleh menghentikan & memasung pemikiran-pemikiran kebangsaan yg harus tetap merdeka. Dan bahwa dalam menghadapi setiap persoalan kita tetap harus mengedepankan akal sehat & keterbukaan pemikiran,” ujar Bamsoet secara virtual di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Bamsoet: Tugas penting mengisi kemerdekaan adalah memanusiakan manusia

Bamsoet mengatakan bahwa hasil apa pun yg sudah diraih oleh bangsa Indonesia pada usia 75 tahun, bukanlah milik satu rezim pemerintahan.

“Segala dinamika, kesuksesan & kegagalan, adalah hasil dari sebuah proses panjang perjalanan sejarah yg sudah kita lewati bersama sebagai sebuah bangsa, & di bawah kepemimpinan dari serangkaian periode pemerintahan,” mengatakan Bamsoet.

Ia menilai bercermin sejenak untuk memaknai kemerdekaan di masa kini adalah suatu hal yg wajar, karena memang sangat dibutuhkan sebagai bagian dari introspeksi diri & membangun kedewasaan dalam kehidupan berbangsa & bernegara.

“Tema yg diangkat pada Sarasehan Kebangsaan kali ini, yakni Refleksi 75 Tahun Kemerdekaan RI : Sudahkah Kita Merdeka? mengajak untuk sejenak bercermin, memaknai kembali hakikat kemerdekaan, & menengok kembali capaian-capaian yg kita ‘asumsikan’ sebagai pengejawantahan konsep ‘Indonesia Merdeka’,” mengatakan Bamsoet.

Beragam pendekatan & konsepsi kemudian dijadikan sebagai tolok ukur dalam memaknai kemerdekaan di era modern.

Baca juga: Bamsoet ingatkan generasi muda berpedoman pada Pancasila

Dari sektor kemandirian, misalnya, Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI) mencatat setidaknya ada 15 (lima belas) komoditas pangan strategis, di antaranya bawang putih, gandum, gula, daging, yg mempunyai angka ketergantungan impor cukup tinggi, antara 30 hingga 100 persen.

Contoh lain, Menteri Riset & Teknologi pada bulan Mei 2020 yg lalu menyatakan bahwa angka ketergantungan kepada produk impor di bidang kesehatan mencapai 90 persen.

“Maka pertanyaan ‘sudahkah kita merdeka?’ akan menghadirkan beragam jawaban dengan gradasi pemaknaan yg beragam pula, karena akan sangat tergantung pada perspektif kita dalam memaknai mengatakan ‘merdeka’,” mengatakan Bamsoet.

Sebagaimana dipahami bersama, bahwa sektor pangan & kesehatan adalah sektor yg sangat vital, bukan cuma karena jadi kebutuhan primer yg wajib dipenuhi, tetapi juga karena sangat berpengaruh kepada sektor-sektor lainnya, apalagi saat ini kita dihadapkan pada masa pandemi.

Jumlah penduduk miskin Indonesia per-bulan Maret 2020 menurut data BPS adalah sebesar 26,42 juta. Dengan pandemi COVID-19 yg masih membayangi, tentunya angka ini masih mungkin berpotensi naik.

“Apalagi angka pengangguran hingga tahun 2021 diprediksi akan mencapai angka 12,7 juta. Kemerdekaan dari kemiskinan masih jadi pekerjaan rumah bagi kita,” mengatakan Bamsoet.

Bamsoet mengatakan bahwa musuh kemerdekaan bukan sering sebuah bangsa atau negara. Karena dapat jadi kemerdekaan material terdistorsi oleh sikap & perilaku menjajah, baik secara fisik maupun secara mental.

“Musuh kemerdekaan adalah sikap & perilaku tidak berperikemanusiaan & tidak memanusiakan manusia, apa pun bentuk & metode nya. Musuh kemerdekaan adalah sikap & perilaku tidak berperikeadilan, & memperpakai hukum sebagai alat kejahatan,” mengatakan Bamsoet.

Selain Bamsoet, turut hadir rohaniawan Katolik Romo Frans Magnis Suseno, peneliti senior LIPI Siti Zuhro, Ketua Umum DPP KNPI Haris Pertama & Ketua Umum GMKI Corneles Galanjinjinay.

Sementara tampil sebagai moderator dalam Sarasehan Kebangsaan tersebut, anggota DN-PIM Arief Rosyid Hasan.

Baca juga: Bamsoet dukung pemberian stimulus dunia usaha
Baca juga: Sekjen MUI minta Pimpinan MPR tak anggap enteng protokol COVID-19
Baca juga: Bamsoet harap RUU Cipta Kerja dapat jadi solusi bagi buruh-pengusaha

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/1688270/bamsoet-berbagi-perspektif-merdeka-dalam-forum-din-syamsuddin

Report

What do you think?

888 points
Upvote Downvote

Written by dono

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0