oleh

Anis Matta: Poros Islam pada Pilpres 2024 akan melebarkan polarisasi

Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta saat jadi pembicara kunci dalam acara peringatan Hari Kartini Partai Gelora Indonesia dengan tema “Perempuan Gelora, Perempuan Berdaya”, di Jakarta, Selasa (20/4/2021). (ANTARA/HO/Partai Gelora)

Jakarta (ANTARA) – Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta berpendapat pembentukan poros Islam pada Pilpres 2024 cuma akan memperlebar pembelahan atau polarisasi politik bukti diri di masyarakat pasca Pilpres 2019.

Anis Matta dalam diskusi Moya Institute bertajuk Prospek Islam dalam Kontestasi 2024 secara daring, di Jakarta, Jumat, menolak ide koalisi poros Islam.

Dia menilai, ada persoalan yg jauh lebih signifikan daripada sekadar ide poros Islam.

“Ide ini menurut saya cuma akan memperdalam pembelahan yg sedang terjadi di masyarakat,” ujarnya.

Anis melihat saat ini sedang dalam krisis sistemik yg terjadi secara global & nasional. Krisis ini mengakibatkan keterbelahan di masyarakat.

Elite politik dari kelompok Islam (kanan), tengah maupun kiri sedang bingung menghadapi krisis ini.

Baca juga: Pengamat: Koalisi parpol Islam wacana positif hadapi politik pragmatis
Baca juga: Din Syamsuddin: Poros Islam sulit terwujud
Baca juga: Koalisi Politik Islam bertekad gabungkan poros tengah

“Di Indonesia sedang mengalami pembelahan ini & menurut saya pembelahan ini satu fenomena yg menunjukkan elite kita sedang mengalami kebingungan akibat krisis sistemik ini. Kita alami krisis sistemik & krisis leadership, saya kira kebingungan ini ada di kelompok Islam, kelompok tengah & kelompok kiri,” mengatakan Anis dalam siaran persnya.

Pembentukan poros Islam bukan sebuah solusi masalah ini karena poros Islam bukan menyatukan tetapi justru akan menciptakan kelompok-kelompok kecil di masyarakat.

“Justru cara kita merespon dengan pembentukan poros Islam menciptakan kita masuk konfrontasi yg merusak rumah akbar bangunan Indonesia,” mengatakan Anis.

Sementara Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Prof Komaruddin Hidayat mengaku terkesan dengan visi yg dihinggakan Ketum Gelora Indonesia Anis Matta yg menyebutkan konsolidasi politik zaman kemerdekaan yg mengutamakan nasionalisme.

“Pertama saya sepakat, bagaimana mengembalikan saat semangat awal menuju Indonesia merdeka. Kemudian kenapa ada parpol Islam & bukan parpol Islam, ada panggilan sejarah, sebagai satu kekuatan kritik, sebab ketika kritik itu bersama, maka akan lebih didengarkan. Saudara Anis Matta sudah bagus sekali, jadi harus ada narasi besar, kalau dulu ada merdeka, pembangunan, sekarang harus ada narasi baru dalam membawa arah baru Indonesia,” ujar Komarudin.

Cendekiawan Muslim Prof Azyumardi Azra, menambahkan, koalisi berbasis Islam atau Pancasila peluangnya untuk dapat menang di Pemilu itu tergantung kemampuan menangkap atau mengkapitalisasi masalah-masalah di masyarakat.

“Banyak sekali masalah ekonomi, sosial, disrupsi tingkat lokal, nasional & global. Jadi tidak dapat cuma bicara pada ideologi saja. Apakah Islam atau Pancasila,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojudin Abbas mengatakan, citra opini publik saat ini memang masih belum percaya dengan argumen yg diusung partai-partai berbasis massa Islam.

Hal itu mengatakan Sirojudin tidak serta merta memunculkan alternatif fundamental bagi struktur kepartaian di Indonesia. Tahun 1999, ada 4 partai berbasis massa Islam: PKB, PAN, PK, PPP.

“Partai-partai berbasis massa Islam memiliki problem cukup akbar dengan konflik internal. Karena itu, kecenderungan suara Partai Islam dari 1999-2014 menurun. Prospeknya seperti apa kalau melihat tantangan seperti ini? Hegemoninya terlihat di sini,” paparnya.

Dalam kesempatan yg sama, pengamat Politik Global Prof Imron Cotan menyampaikan, kalau Partai Politik beraspirasi Islam & Kebangsaan tidak memanfaatkan krisis yg sedang berlangsung saat ini yaitu krisis kesehatan & ekonomi baik regional & global, serta tidak sanggup mengusung pemimpin yg dapat memajukan umat Islam Indonesia, maka pembentukan poros Islam akan gagal.

“Kemudian, yg menguatkan tesis saya bahwa krisis itu akan melahirkan pemimpin alternatif, sudah ada bukti di Brazil. Sebenarnya Donald Trump muncul karena akibat ada krisis. Di Australia juga muncul pemimpin alternatif karena ada krisis,” jelasnya.

Dia mengaku hingga kini belum melihat ada pemimpin alternatif yg dapat diusung berdasarkan aspirasi dari pandangan Keislaman.

“Kita juga harus berhati-hati, apakah di Indonesia akan muncul pemimpin dari faksi kanan ekstrem. Semoga saja tidak. Seperti yg dihinggakan Ketum Anis Matta, kalau Poros Islam dibentuk ada potensi pemecah belahan bangsa yg semakin mendalam,” ucapnya.

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2145182/anis-matta-poros-islam-pada-pilpres-2024-akan-melebarkan-polarisasi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *