oleh

Aktivis: Bijak bermedsos tak cukup UU ITE saja tapi diikuti edukasi

-Umum-2 views

Ilustrasi (Antaranews Kalsel/foto techinasia.com)

Jakarta (ANTARA) – Aktivis media sosial Enda Nasution mengatakan bijak dalam bermedia sosial tidak cukup dengan regulasi, tetapi edukasi secara masif perlu juga dilakukan untuk membangun iklim & ruang dunia maya jadi sehat & beradab.

beincash

Menurut dia, hoaks saat ini dapat disebut sudah sangat meresahkan, tetapi saling lapor atas nama pencemaran nama baik juga tidak kalah mengkhawatirkan.

“Demokrasi kita seperti sedang diuji dengan ragam persoalan khususnya yg terjadi di dunia maya. Maka tidak sekadar pendekatan regulasi dengan mengpakai UU ITE saja,” katanya dalam keterangannya yg diterima, di Jakarta, Rabu.

Karena, menurut dia, UU ITE sendiri sebenarnya tidak melulu berbicara di ranah hukum saja tetapi ada juga di tataran sosialnya bagaimana menciptakan masyarakat untuk jadi bijak dalam mengpakai media sosial (medsos).

Menurut Enda, yg sering mengerjakan pelaporan itu kadang justru bukan pihak yg disebut dalam konten, tetapi malah mungkin para pendukungnya.

Baca juga: PKB: Wacana Perppu UU ITE belum penuhi syarat kegentingan

Baca juga: PPP: Wacana keluarkan Perppu UU ITE bukan opsi ideal

Ia menyebut bahwa indikasi-nya adalah pelaporan ini seringkali dimaksudkan sebagai jadi bentuk intimidasi supaya siapa pun yg menciptakan posting tersebut menghapus, mencabut atau menarik kembali postingan-nya tersebut.

”Kenapa indikasinya dibilang seperti itu, karena sebenarnya mayoritas pelaporan mengpakai UU ITE ini tidak hingga ke tingkat pengadilan. Tapi lebih ke intimidasi saja biar posting-an tersebut dicabut & yg terlapor meminta maaf,” tutur-nya.

Bapak Blogger Indonesia ini menambahkan bahwa memang saat terjadi kecenderungan pelaporan mengpakai UU ITE ini karena pengguna medsos di Indonesia semakin banyak & mereka merasa dapat bicara apa aja di medsos tanpa ia sadar ada UU ITE ini yg dapat untuk melaporkan.

”Kalau mau kita lihat kembali, sebetulnya dari sekian ratus juta pengguna internet di Indonesia, yg terkena UU ITE ini sebenarnya justru minoritas sekali. Karena medsos sendiri sebetulnya kita pakai untuk hiburan, sharing informasi yg berguna, atau untuk jualan, kebanyakan seperti itu,” ucap Enda menjelaskan.

Menurut dia, sebetulnya cuma di beberapa posting saja ada beberapa orang yg menciptakan posting negatif, seperti nyinyir atau lain sebagainya, namun hal inilah yg jadi masalah dalam UU ITE karena tidak ada batasan yg disebut pencemaran nama baik itu seperti apa.

Karena, katanya, semua posting-an selama si penerimanya merasa bahwa itu adalah fitnah atau pencemaran nama baik itu dapat dilaporkan & itulah kenapa UU ITE ini disebut sebagai pasal karet.

Terkait hoaks, Enda mengatakan adalah persoalan yg berbeda karena sifatnya misinformasi ada juga disinformasi.

Kalau misinformasi itu informasinya yg tidak seksama tetapi tidak ada niat jelek atau niat jahat di belakangnya. Tetapi kalau disinformasi itu secara sengaja menyebarkan informasi yg dibuat salah atau untuk menyerang orang lain.

Baca juga: Anggota DPR: SE Kapolri terkait UU ITE miliki semangat konstruktif

Baca juga: Mahfud: Kajian UU ITE memerlukan waktu dua bulan

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2015247/aktivis-bijak-bermedsos-tak-cukup-uu-ite-saja-tapi-diikuti-edukasi

ligafox

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *