Suratan Takdir Zahra..
Sebuah Novel di Hari Santri Nasional

Oleh 24 Okt 2016, 12:46:10 WIBcerpen

Suratan Takdir Zahra..

ALFIYATUN MUSLIMAH


Sebuah cerpen oleh

ALFIYATUN MUSLIMAH (Pecinta Cerpen/Kader IPPNU)

Kadang terbesit dibenak ku ingin rasanya jiwa raga ini bersemayam dalam rumah Mu (Allah)  namun aku hanyalah sesosok wanita yang penuh asa. Impian yang tak pernah aku fikirkan sebelumnya kini terwujud karena dukungan dari Wanita yang ku sayangi (ibu). Ingin rasanya ku membalas semua kebaikan mu ayah ibu, semoga engkau bahagia disisinya.

Tinggallah seorang gadis  dengan orang tuanya, Ibu nya bernama Khadijah dan teman-temannya sering memanggil dia Zahra, dia tinggal di sebuah desa yang jauh dari hingar-bingar keramaian, dia hidup hanya berdua. Sejak  kepergian Ayah nya 10 tahun yang lalu tepat usianya 9 tahun, ayahnya pergi meninggalkan mereka. Mungkin itu sudah menjadi suratan hidup.

Saat itu juga ibunya harus berjuang dalam menghidupi keluarganya, dia adalah harapan ibunya saat ini, karena dia anak satu-satunya dalam keluarganya. Sebelum ayahnya meninggal dunia masih sangat jelas dibenak dia, ayah pernah berkata

 “Zahra anaku tercinta penuhilah impian ayah nak”

Kemudian  Zahra menjawab dengan nada rendah “Ada apa yah, apa yang harus aku lakukan untuk ayah?”

Ayah berkata “Nak ayah ingin kamu mondok”,

Dengan cepat Zahra menjawab “mondok yah tapi aku tidak mau pisah dengan ibu dan ayah saat ini”. Ayah hanya terdiam mendengar jawaban Zahra.

Zahra menyesali, tidak bertanya kepada ayahnya, kenapa harus mondok saat itu juga, mungkin dia belum mengerti saat itu. Ibu nya selalu memberi semangat kepada dia untuk terus sekolah sampai keperguruan tinggi, karena ibunya menginginkan  Zahra menjadi seorang Guru.  Sampai suatu ketika Zahra masuk dalam daftar nama urutan siswa terbaik di SMA harapan disaat itu juga dia sangat bahagia sampai-sampai dia sulit mengungkapkan rasa ini, hanya air mata yang menjadi saksi saat itu.

Sepulangnya dari sekolah dia bergegas menemui ibu, sekitar satu jam dia menunggu ternyata ibu belum pulang dari ladang. Ibu bekerja pagi jam 8.00-13.00 sepulangnya dari bekerja ibu langsung mengurus rumah. Akhirnya ibu pulang juga,

“Assalamu’alaikum”,sahut Zahra

“Walaikumsalam bu,akhirnya ibu pulang juga”.

“Ada apa nak sepertinya kamu bahagia sekali hari ini?” ujar ibu. Zahra menjawab

“Ibu aku mendapat peringkat terbaik di sekolah” ibu tersenyum dan mendoakan ku semoga tercapai cita-cita mu nak.

Dengan hati gembira perlahan dia akan meneruskan impian ibunya untuk sekolah di Perguruan Islam Negri di Kota tidak jauh dari rumahnya. Tetapi masih saja tersirat di benak Zahra tentang pesan ayahnya saat itu,

“Ya Allah aku harus bagaimana ini apakah aku harus mengikuti pesan ayah, tapi nanti ibu kecewa pada ku. Siang-malam aku selalu memikirkan tentang masalah yang sedang melandaku” ujar Zahra .

“Tiba-tiba ibunya menghampiri saat dia sedang melamun di teras rumah,

“Nak ada apa apakah kamu masih bimbang dengan bersekolah jauh dari ibu?”

“ Zahra menjawab” tidak bu, aku hanya khawatir jika tidak ada Zahra dirumah siapa yang membantu ibu?

”Nak jangan takut ibu pasti bisa menjaga diri” ujar ibu dengan penuh harapan.

Semua keputusan ditangan Zahra, tetapi  ingin rasanya Zahra mengungkapkan semua keluh kesah namun lisan ini tak sanggup untuk berkata sepatahpun dengan ibunya. Dalam sujud nya berdo’a

“ Ya Allah yang maha melihat lagi maha penyayang apa yang harus hamba lakukan, apakah aku harus memilih pesantren apakah aku harus bersekolah berilah petunjuk kepada hamba Ya Allah” ujar Zahra dengan menangis merintih.

Tidak henti-hentinya Zahra berdo’a dan menyimpan dengan hati-hati tentang perasan yang dilandanya. Ibu akhinya melihat keganjalan yang ada pada putrinya

 Ibu bertanya kepada Zahra “Apa yang sedang kamu fikirkan?”. Zahra diam saja, lalu ibu meyakinkan kepada putrinya bahwa ibu bukan hanya sebagai oraang tua akan tetapi ibu adalah seorang karib.

Zahra kemudian perlahan mulai membuka diri, mengungkapkan apa yang telah menjadi beban yang sedang dihadapi. Ibunya mulai tau tentang apa yang sedang dialami putrinya.

 “Bu aku harus bagaimana ini, nak ibu ingin kamu sekolah dulu karena ibu ingin melihat kamu menjadi guru”

 “Sahut ibu dengan nada rendah”,kemudian Zahra mengikui saran yang diberikan ibunya.

Saat itu Ibu tersenyum dengan memeluk Zahra saat itu juga. Melihat ibu bahagia keesokan harinya Zahra mulai mencoba mendaftar tes ke Perguruan Tinggi yang ibunya sarankan, ternyata tidak ada satupun teman yang terlihat mendaftar. Dia  hanya terdiam dan melihat-lihat sekitar ternyata semua memiliki teman-teman yang mendaftar, mungkin temannya sebagian merantau untuk menghidupi biaya keluarga, hanya saja Zahra yang mendapat dorongan dari ibu untuk meneruskan cita-cita lebih tinggi.

Sungguh beruntungnya dirinya dibandingkan teman-teman yang di desa. Dia  harus berusaha dengan giat agar ibu bahagia saat dia diterima di Perguruan Tinggi. Dengan penuh ketekunan dan semangat Zahra mengisi folmulir pendaftaran demi ibu yang disayangi. Dengan hati-hati semua dapat terselesaikan juga, tidak butuh waktu lama Zahra mengisi formulir.

Setibanya di rumah ibu tiba-tiba datang menghampiri

 “Ibu bertanya, bagaimana disana apakah kamu senang dan siapa saja teman mu yang mendaftar”.

“Bu aku senang disana sesuai dengan yang ku bayangkan, tapi bu aku belum memiliki teman satupun” ujar Zahra.

“Nak sabar setelah tes besok kamu pasti mendapatkan teman yang baik bahkan bisa menjadi teman sejati mu. Benar ibu yakin itu, iya nak percayalah pada ibu mu ini. Sudah istirahatlah besok kamu tes”ujar ibu.

“Iya bu aku istirahat dulu.”

Keesokan harinya Zahra bangun pagi-pagi setelah membantu mengerjakan tugas rumah Zahra langsung bergegas ke Perguruan Tinggi yang didaftarnya.

“ Bu aku pergi dulu ya do’akan aku bu semoga lulus tes hari ini”

“Iya nak ibu do’ain semoga kamu lulus dan mendapat nilai yang bagus” ujar ibu dengan senyuman.

“Siap bu aku,aku pasti lulus tes hari ini”.

Perlu waktu 1 jam perjalanan Zahra Perguruan Tinggi itu, sedangkan tes dimulai jam 8.30 masih tersisa sekitar 30 menit untuk Zahra belajar. Sesampainya disana Zahra duduk di gazebo sendirian.

“Kenapa aku merasa gemetaran ya mungkin ini efek aku lupa belum makan” ujar Zahra.

Saat itu tiba-tiba ada seseorang wanita dengan paras manis menghampiri Zahra. “Assalamu’alaikum”

 “Walaikum salam maaf kamu siapa ya? ujar Zahra.

 Wanita itu mengenalkan dirinya kepada  Zahra.

 “Maaf mengganggu ya aku Ka’sa kamu siapa kalu boleh tau”

“Aku Zahra”

 “Iya salam kenal ya” .

“ Zahra kenapa kamu disini sendirian”

“Emm aku belum punya teman Sa”

“Ow begitu kebetulan saja aku masih mencari teman Za, apakah kamu mau jadi teman ku mulai saat ini”

 “Mau banget makasih ya dah mau jadi temanku Sa” ujar Zahra dengan gembira.

Disana pula awal persahabatan dimulai, saling menceritakan diri satu sama lain, tidak disadari waktu tes akan dimulai.

“Sa aku duluan ya aku mau tes di lantai atas”

 “Wah semoga kita satu lokal ya Za ok deh kamu duluan aja”.

Sesampainya di kelas lantai atas akhirnya bertemu juga dengan Ka’sa.

“Sa kamu disini juga”

 “Iya Za ini kebetulan apa gimana ya kok bisa bareng lagi” ujar Ka’sa.

“Menurut ku ini sudah suratan kita dipertemukan, sudah duduklah tesnya mau di mulai” ujar Zahra.

Tes  berakhir tepat pukul 10.00 Zahra dan Ka’sa segera bersiap-siap untuk pulang, karena masih banyak tugas yang belum selelesai seperti melengkapi kebutuhan Pesantren Ka’sa menawarkan kepada Zahra untuk ikut ke Pesantren yang tidak jauh dari Kampus mereka.

“ Za ayo ke pondok sekali-kali biar tau aku mondok disana” ujar Ka’sa”.

“Zahra menjawab dengan malu-malu duh Sa aku harus pulang besok saja kalau sudah positif keterima insya’allah aku main kepondok mu”.

Ka’sapun tersenyum menjawabnya, kemudian Zahra dan Ka’sa pulang. Pengumuman tes akan di umumkan satu Minggu yang akan daang.

Satu jam perjalanan menggunakan angkot, akhirnya sampai juga di rumah. Zahra kemudian bersiap-siap membantu ibunya memasak, akan tetapi ibu nya melarang dan menyarankan untuk bristirahat. Saat itu juga ibunya bertanya mengenai apa saja yang dilakukan Zahra saat tes di Kampus saat itu. Seminggu telah berlalu akhirnya tiba juga hasil tes diumumkan, nama-nama siswa yang lulus. Zahra dan Ka’sa terpilih dalam jurusan yang sama mereka terlihat bahagia. Begitu juga ibunya merasa bahagia melihat langkah putrinya menuju masa depan yang cerah.

Suatu ketika Zahra melihat-lihat lemari dikamar ibunya, tiba-tiba terlihat satu buku kuno tinggalan ayahnya . Warna yang mulai menguning dan terlihat beberapa lembaran telah sobek termakan  waktu. Rasa penasaran yang mengebu-gebu membuat Zahra ingin sekali membacanya.

Pagi siang malam setelah Zahra menyelesaikan tugas rumah ia sempatkan untuk membaca buku itu. Saat beberapa lembar Zahra membaca didalam buku dijelaskan tentang Pentingnya mondok kutipan dari artikel milik Abdurahman Wahid santri asal pesantren dari pulau Jawa. Isi kutipan itu memiliki 5 poin terpenting:

1.         Segala yang dipelajari di pesantren bisa dipertanggung jawabkan.

2.         Pesantren juga tidak mengajarkan kita untuk tidak berfikir oposisi-binner.

3.         Kita dikenalkan mengenai konsep barokah.

4.         Dari pesantren kita akan diajarkan bagaimana bersosialisasi.

5.         Pesantren juga tidak hanya mengajarkan materi saja akan tetapi, pesantren membina akhlak santri.

Pada akhirnya Zahra ingin sekali  karena terinspirasi dari buku yang dibacanya ,akan tetapi karena kondisi yang tak memungkinkan ia harus menunda keinginan itu. Hari-hari telah berlalu ketika Zahra pulang dari Kampus, dia melihat ibunya terbaring lemas di tempat tidur. Betapa hancurnya hati Zahra melihat ibunya sakit, tanpa disadari ibunya melawan sakit sejak lama. Rasa cemas dan takut melanda Zahra sebagian harta yang ada seperti padi harus dijual demi pengobatan ibunya. Hari demi hari telah berlalu dengan keadaan yang sama Zahra tak ada hentinya selalu berdo’a dan berusaha menemani hari-hari sulit bersama ibunya.

 “ Nak sudah lama kamu tidak berangkat kuliah, ibu khawatir nanti kamu jauh ketinggalan materi” ujar ibu.

“ Tidak apa-apa ibu yang penting ibu sembuh dulu” sahut Zahra dengan meneteskan air mata.

Dengan keteguhan dan keikhlasan Zahra akhirnya ibunya merasa apapun yang diinginkan anaknya itulah kebahagiaan sejatinya, ibunya berfikir tidak ada salahnya menjadikan putrinya sebagai santri. Ibunya takut saat dia sudah kembali kepada pemilik kehidupan (Allah) ta’ada kedamaian karena memikirkan anaknya.

Tiba-tiba ibunya memanggil Zahra.

“Zahra dimana kamu, kesini nak ibu ingin bersama mu”

Dengan tergesa-gesa Zahra menemui ibunya.

“ Iya bu, ada apa? Sepertinya ibu memerlukan sesuatu.

“ Tidak nak ibu hanya ingin tanya kepada mu, setelah ibu nanti pergi apakah kamu menginginkan untuk tinggal di Pesantren selamanya”, ujar ibu kepada Zahra dengan menangis.

“ Bu kenapa tiba-tiba ibu berkata seperti itu, kalau ibu pergi aku ikut. Aku tidak bisa hidup tanpa ibu” ujar Zahra merintih menahan air mata.

Disaat itu juga ibunya banyak sekali bercerita tentang sakit yang dialami ibunya. Ibu menderita kanker stadium akhir. Sudah bertahun-tahun semenjak Ayahnya meninggal ibu merahasiakan kepada Zahra, karena ibu tidak mau melihat putrinya merasa ibunya akan pergi meninggalkanya.

Tibalah waktunya ibu Zahra kembali kepada pemilik Hidup (Allah) saat itu juga hancur lebur hati Zahra. Sampai-sampai Zahra tak akan melanjutkan mimpi-mimpinya. Dia merasa sendiri tidak ada lagi penyemangat dalam hidupnya. Apa yang harus dia lakukan dia pun tak tau. Melamun-melamun dalam bilik kamar.

Ketika Zahra salad Malam (Tahajud) dia berdo’a

“ Ya Allah pemilk hidup engkaulah maha tau segala-galanya, jaga kedua mutiara hidupku tempatkanlah disisimu  (Surga) engkau maha adil seadil-adilnya maka kabulkanlah pintaku ini ya Allah” tutur Zahra dengan menangis tanpa henti.

Setela beberapa hari Zahra tidak kuliah, Ka’sa datang kerumahnya untuk melihat teman baiknya. Pada saat itu juga Ka’sa memberikan semangat kepada Zahra tentang semua harapan dan mimpi-mimpi Zahra yang tertunda.

“ Ra sudahi  rasa sedih yang kau alami ini, ibu dan ayah mu pasti sedih melihat kamu terus menangis”.

Zahra hanya terdiam dan menahan tetesan air mata.

“Ra ...jawab kenapa diam saja, aku tau kamu sedih tapi jangan biarkan kesedihan mu merusak hidup mu” tutur Ka’sa dengan membentak.

“ Mungkin bagimu aku gila, tapi inilah yang aku rasakan sendiri dan sendiri” Sahut Zahra dengan menangis.

Tidak henti-hentinya Ka’sa memberi semangat kepada Zahra, dan saat itu juga Ka’sa menganjurkan Zahra menginap di Pesantren agar lebih tenang. Zahrapun mau mengikuti saran dari temannya. Begitu berat hati Zahra meninggalkan rumah, dia masih teringat jelas ibu ayahnya yang merawatnya tapi kini hanya tinggal kenangan saja.

Sesampainya di Pesanten Zahra dan Ka’sa beristirahat sejenak. Disana Zahra merasakan pengalaman yang berbeda, biasanya tidur sendiri sepi tapi setelah pindah ke Pesantren semua itu hilang yang ada keramaian.

Setelah beberapa hari Zahra mulai mengikuti agenda Ka’sa seperi salad berjama’ah mengaji pagi, sore malam. Saat Ka’sa akan mengaji, ikutlah Zahra saat itu juga ada kajian Rohani dari Ustadz pengasuh Pesantren.

Inti tausiah pada malam itu .Manfaat belajar dipesantren adalah”

1.      Terjaga dari Pengaruh Buruk Lingkungan bebas.

2.      Membangun Karakter setiap Santri.

3.      Ibadah terjaga.

4.      Cerdas dan Jenius.

Keempat poin tersebut membuat semangat Zahra kembali ada, keesokan harinya Zahra memutuskan untuk belajar di Pesantren dan tetap melanjutkan Kuliah bersama Ka’sa . Saat itu pula Ka’sa terkejut karena melihat temannya yang muram akhirnya kembali tersenyum. Ka’sa meyakini ada hikmah dari semua yang terjadi sampai tiba saatnya keinginan yang sangat diinginkan Zahra walaupun terdapat ujian yang luar biasa, ketika Allah menghendaki impian yang baik maka akan ada jalan disetiap langkahnya.

Pada akhirnya Zahra menetap dan mengabdi di Pesantren, bersamaan itu pula Zahra diangkat menjadi Ustadzah di Pesantren mereka.

 



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Puaskah anda terhadap Pembangunan Lampung timur saat ini?
  masih perlu banyak pembenahan
  puas
  Tidak Puas
  sangat tidak Puas
  Tidak Tau

Komentar Terakhir

  • RogerBaH

    [url=https://kwork.ru/links/215736/progon-sayta-khrumerom] ?????? ????? ????????[/url] ...

    View Article
  • SEO Companies in Karachi

    This type of landscape is described as so beautiful by people living in countries ...

    View Article
  • Harley Quinn Jacket

    This is the really great post. ...

    View Article
  • Liverpool

    Wow artikel luar biasa dan fantastis teman saya kerja bagus dan semoga sukses untuk ...

    View Article