Sebuah Cerita tentang Isabella

Oleh 24 Okt 2016, 11:39:21 WIBcerpen

Sebuah Cerita tentang Isabella

Budi Hatees


Cerpen oleh Budi Hatees (Penulis)


SAYA  tahu yang diceritakan orang ini berasal dari bahan bacaannya. Saya pernah membaca bacaan itu. Mungkin, sebuah cerita pendek berbahasa asing, tapi entah.  Mungkin cerita pendek itu ditulis orang Inggris, Italia, Spanyol, Amerika, atau …. Sudah lama betul, dan saya cepat sekali melupakan siapa yang mengarang meskipun tidak pernah lupa tentang apa yang disampaikan pengarang dalam karyanya.

 

Orang itu baru pulang dari Eropa, sebuah kota yang riuh pada salah satu negera. Satu pekan orang itu di kota tersebut, dan ia hanya mengingat cerita tentang Isabella. Ia tidak mengingat hal lain tentang kota yang baru didatanginya itu. Entah, mungkin, ia punya kenangan luar biasa tentang Isabella. Entah, mungkin, orang yang bernama Isabella itu begitu berarti baginya.

 

“Saya tak kenal siapa Isabella. Saya dengar nama itu ketika sedang duduk di taman salah satu apartemen, di tempat saya menginap selama tinggal di kota itu. Seorang anak muda sekitar 35 tahun berdiri tak jauh dari tempat saya duduk sambil membaca buku. Anak muda itu menatap ke tingkat dua sebuah gedung, lalu berteriak ke arah sebuah jendela yang tertutup. Kalian tahu apa yang diteriakkan anak muda itu? Ia memanggil-manggil  Isabella.”

 

Aku menatap orang itu, berusaha menyimak apa sesungguhnya yang akan diceritakannya. Ia sangat serius. Ia memang selalu serius. Selama saya mengenalnya, meskipun tidak terlalu akrab,  kesan yang saya tangkap tentang dirinya adalah sikapnya yang selalu serius. Tidak pernah saya dengar ia bercanda.

 

Ia sengaja diundang oleh Husin. Husin seorang tokoh pemuda yang progresif, dan ia membentuk sebuah organisasi pemuda yang bertujuan mulia untuk mendidik para anak muda di kota kami. Setiap anak muda dalam oraganisasi, dididiknya menjadi orang-orang kreatif yang kelak berdedikasi. Cara Husin mendidik mereka lewat metode story telling—itu istilah Husin untuk menyebut metoda berbagi biografi dan pengalaman hidup itu.

 

Saya sudah lama mengetahui organisasi yang dibentuk Husin, tapi baru kali ini pernah diundang untuk mengikuti kegiatannya. Husin bilang dia membutuhkan kehadiran saya untuk berbagi biografi sebagai seorang penulis, supaya anak-anak muda itu termotivasi untuk menjadi penulis.  Saya sudah menolak dengan alasan biografi saya masih sepenggal, dan tidak ada hal dalam hidup saya yang bisa menginspirasi anak-anak muda itu. Husin membesarkan hati saya dengan mengatakan. “Beberapa anak muda mengaku mengkoleksi bukumu, dan membaca banyak karyamu di media massa,” katanya.

 

Harus saya akui, Husin memang piawai mempengaruhi. Saya akhirnya menyanggupi. Tapi, sebelum giliran saya yang bicara, orang itu yang mendapat giliran lebih dahulu.

 

Orang itu seorang pejabat pemerintah, belum lama ia baru pulang dari Eropa. Husin memintanya menceritakan pengalaman selama di Eropa itu. Orang itu mengaku tidak bisa bercerita, juga tidak punya pengalaman yang hebat. Tapi, akhirnya, ia putuskan bercerita tentang Isabella. 

 

*

 

ORANG itu menelan air ludahnya, memperbaiki degup jantungnya. Ia tampak sedang menyusun potongan-potongan ingatannya. “Anak muda itu memanggil nama Isabella terus-menerus. Tidak ada jawaban dari tingkat dua apartemen itu. Anak muda itu begitu gigih, terus memanggil.”

 

Konsentrasiku terhadap buku bacaan mulai buyar. Suara anak muda itu menggangguku. Aku pikir, kalau di Indonesia, anak muda itu pasti sudah ditegur orang lain. Anak muda itu pasti sudah diingatkan agar tidak berteriak-teriak. Tapi, karena ada di Eropa, orang tidak terlalu memperdulikan anak muda itu. Aku pikir juga buat apa memperdulikannya. Eropa adalah negeri yang merdeka, dan setiap orang berhak melakukan apa saja.

 

Aku pernah melihat bermacam-macam orang aneh. Untuk ukuran aku yang datang dari Indonesia, penampilan mereka sangat aneh. Mereka seperti kembali ke peradaban awal, memakai hanya sedikit pakaian di tubuhnya. Apalagi anak-anak funk, yang lebih mirip seperti anggota kelompok pemuja setan dalam novel-novel gotik yang sering aku baca. Tapi aku tidak memperdulikan mereka. Aku juga berusaha tidak perduli pada anak muda yang meneriaki nama Isabella itu.

 

Aku kembali membaca bukuku. Tapi, konsentrasiku kemudian pecah lagi, karena suara yang memanggil Isabella tidak hanya berasal dari satu orang. Ada seseorang yang lain, yang tampaknya kasihan kepada anak muda itu, lalu ikut berteriak ke tingkat dua apartemen itu. Suaranya lebih keras dan bulat dibanding suara anak muda itu. Mereka bekerja sama, dan suara mereka lebih kencang.

 

Tapi, tetap saja tidak ada yang muncul di jendela tingkat dua apartemen itu. Aku menoleh ke atas, dan situasi di sana tetap seperti tadi.  Aku melihat dua orang mendekati anak muda dan seorang lagi yang berteriak memanggil Isabella. Dua orang yang baru datang langsung berkata, bahwa suara kedua orang yang berteriak memanggil nama Isabella itu kurang keras sehingga tidak terdengar oleh Isabella. “Kita harus kompak,” kata salah seorang dari dua orang yang baru muncul itu. “Kita berempat harus berteriak bersama-sama.”

 

Yang lain mengangguk. “Ya,” kata anak muda itu. “Pada hitungan ketiga, kita berteriak bersama-sama!”

 

Anak muda itu pun menghitung sampai angka tiga, lalu keempatnya berteriak memanggil Isabella.  Suara mereka nyaris dan bergema. Telingaku pekak mendengarnya. Aku bangkit dari bangku dan bermaksud menyingkir, tapi aku tunda keinginan itu. Aku berpikir, alangkah kasihannya anak muda itu.

 

Aku duga, orang bernama Isabella itu pasti sangat berarti baginya. Mungkin, sesuatu sudah menimpanya, sehingga Isabella memutuskan tidak mau lagi menjalin hubungan dengan dirinya. Atau, Isabella sengaja mengunci pintu apartemen dan menutup semua nomor teleponnya, sehingga si anak muda yang ingin masuk ke dalam aprtemen memutuskan untuk meneriaki Isabella dari luar.

 

Tapi, entahlah, apapun bisa saja terjadi. Melihat betapa seriusnya anak muda itu, aku pikir ia layak untuk dibantu.  Maka aku bangkit dari kursi dan menemui mereka. Bercakap-cakap sebentar tentang cara paling moncer untuk memaksa Isabella menglongokkan kepalanya lewat jendela tingkat dua apartemen itu.  Kami pun berdiskusi, lalu dibuat satu kesimpulan, bahwa kami akan berteriak bersama-sama.

 

“Bagaimana kalau hal itu pun tidak didengar Isabella,” tanyaku.

 

Kami saling pandang. “Kita coba terus,” kata anak muda itu. “Ia pasti akan mendengarnya.”

 

“Baikalah kalau begitu. Pada hitungan ketiga, kita sama-sama berteriak,” kataku, lalu menghitung sampai angka tiga. Kami berteriak. Suara kami bulat dan panjang. Orang-orang memperhatikan kami, lalu menatap ke atas.

 

Seorang perempuan separoh baya mendekati kami. Perempuan berambut kriting dan mengenakan kaca mata minus itu berkata: “Dari tadi aku perhatikan Kalian berteriak ke atas, ke arah jendela lantai dua apartemen ini, dan memanggil-manggil Isabella. Sebetulnya, Isabella itu tinggal di sebelah mana?”

 

“Di lantai dua itu, Nyonya,” kataku. “Tepat di jendela itu.” Aku menunjuk arah jendela yang aku bayangkan. “Isabella di situ, dan seharusnya dia sudah mendengar teriakan kami dari tadi.”

 

“Seharusnya.” Nyonya itu tersenyum, “kalau memang Isabella tinggal di situ.”

 

“Apa maksud, Nyonya?” tanya laki-laki yang berteriak bersamaku. “Apakah Nyonya ingin mengatakan kalau Isabella tidak tinggal di tempat itu?”

 

“Aku yang tinggal di tempat itu, dan tidak ada orang yang bernama Isabella di sana,” katanya.

 

Aku menatap anak muda yang berteriak pertama kali. “Benar apa yang dikatakan Nyonya ini?” tanyaku. “Kalau Isabella tidak tinggal di sana, lantas dimana sebenarnya Isabella?”

 

Anak muda itu malah mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu.”

 

Salah seorang yang berteriak bersamaku mendekati anak muda itu. “Apa maksudmu tidak tahu?”

 

“Ya, apa maksudmu?” tanya yang lain.

 

“Aku hanya ingin berteriak memanggil Isabella. Hanya itu yang ingin aku lakukan, lalu Kalian datang mau membantuku berteriak. Aku tidak mungkin menolak bantuan orang lain.”

 

*

ORANG itu menghentikan ceritanya setelah menebarkan tatapan ke setiap sudut ruangan. Mata kami beradu, lalu orang itu kembali ke kursi semula.

 

“Hanya begitu?” tanya Husin.

 

Orang itu mengangguk.

 

Husin tergelak. “Kau hebat,” katanya. “Kau berhasil menipu kami untuk mendengarkan cerita tentang bagaimana kau ditipu orang.”

 

 

Saya tertawa, yang lain juga tertawa. Baru sekali itu aku melihat orang itu tersenyum. Saya tertawa karena ingat pernah membaca cerita itu, entah dimana, tapi saya tahu pernah membacanya.*****

 

 



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

  1. Best essay writing service reviews 08 Jul 2017, 12:33:25 WIB

    The readers can get the importance on this specific subject matter and they will get mote points from this publish. Here I can summarize this put up or subject matter vicinity with a better and clean understandings. Sure this put up will help me o make a studies on it.

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Puaskah anda terhadap Pembangunan Lampung timur saat ini?
  masih perlu banyak pembenahan
  puas
  Tidak Puas
  sangat tidak Puas
  Tidak Tau

Komentar Terakhir

  • Reginemowl

    GTA 5 ?? Android .???? ???????? Java - ?????? ??? Android . ??? ???? ??????????? ...

    View Article
  • GilSquich

    [03:36] GTA 4 Final Mod - ?????????? ???. [03:30]Dj ZIG - Formbana (ost Gta San ...

    View Article
  • Eboniecrer

    ?????????????? ?????????? ??????? ? ????????????? ??????? ???????????. Hitman ?? ????? ...

    View Article
  • BenitoQuoxy

    ??????, ???? ???? ????????????, ???????? ?? ???????? ? ????, gta 5 ???? ?????? pc ?? ...

    View Article