Pahlawan, Gelar untuk Siapa?

Oleh 10 Nov 2016, 22:33:27 WIBOpini

Pahlawan, Gelar untuk Siapa?

Cahyani Eka Putri


Pertempuran berdarah di Surabaya 10 november 1945 yang memakan ribuan korban jiwa selalu diperingati sebagai hari pahlawan. Upacara dan prosesi ceremonial yang dilakukan disetiap sekolah dengan aneka spanduk terpajang di setiap instansi di seluruh Indonesia. Namun, apakah hal tersebut menginspirasi masyarakat untuk menjadi pahlawan masa kini ataukah itu hanya sekedar rutinitas tahunan belaka? sebuah PR besar yang harus kita selesaikan. Seharusnya peringatan hari pahlawan bukan hanya menjadi sebuah  ritual formalias melainkan dapat menjadi refeksi untuk melakukan hal lebih baik dari sosok para pahlawan yang telah gugur mendahului kita.

Siapakah pahlawan?

Kita sepakat, pahlawan adalah orang yang berjuang dimasa penjajahan, sejak kecil orang tua maupun guru juga sering mengatakan bahwa pahlawan adalah orang yang telah berjuang mengusir penjajah untuk merebut kemerdekaan. Sebut saja Pattimura dan Pangeran Diponegoro adalah contoh pahlawan yang sering ditemui pada buku-buku sejarah. Tidak bisa dipungkiri memang, mereka adalah orang yang sangat berjasa dalam sejarah kemerdekaan bangsa dan sangat patas mendapat gelar pahlawan. Kemudian muncul pertanyaan siapakah pahlawan sebenarnya? apakah hanya orang yang berperang di medan perang atau semua orang yang yang berjuang bisa dikatakan sebagai pahlawan?

Tri mumpuni wiyanto dan suaminya Iskandar Kuntoaji yang telah menerangi lebih dari 60 desa pedalaman dengan pembangkit listrik mini bertenaga air (mikrohodro) atau para TKI yang telah menghasilkan banyak devisa untuk Indonesia, dan para ibu yang rela mati demi anak yang dikandungnya serta para guru yang rela mengajar di pedalaman negeri demi mencerdaskan anak bangsa tidak dapat disebut sbagai pahlawan?

Bedasarkan pasal 1 angka 4 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2009 tentang gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan (UU No.20/2009), pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal demi membela bangsa dan negara atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara republik indonesia.

Apakah gelar pahlawan hanya untuk mereka yang sudah meninggal?

Dalam Undang-Undang tersebut dijelaskan bahwa pahlawan adalah orang yang telah meninggal untuk berjuang demi bangsa indonesia. lalu apakah harus mati dulu kemudian dapat disebut dan mendapat sebagai pahlawan? Dalam hal tersebut penulis gagal paham mengapa terjadi karena menurut penulis banyak orang masih hidup yang memberikan banyak kontribusi terhadap dunia pendidikan, olahraga maupun seni yang menurut penulis pantas mendapatkan gelar pahlawaan. Karena mereka juga berjuang demi memajukan bangsa dan negara.

Contoh saja Allyas Pical, atlet tinju Indonesia yang telah berjuang mengharumkan nama Indonesia, ia telah meraih juara IBF kelas Bantar Junior (kelas super terbang) semasa produktif ia diagung-agungkan, namun setelah masa keemasanya berakhir ia beralih profesi menjadi petugas keamanan. Penulis sangat  miris ketika melihat hal tersebut. Mengapa hanya orang yang berperang lalu meninggal yang mendapatkan gelar pahlawan? apakah kita hanya menghargai jasanya dan tidak menghargai orang yang berjasa?

Pahlawan Kehidupan

Setiap orang berbeda –beda dalam mendefinisikan sosok pahlawan yakni memiliki standar tertentu dalam mendefinisikan sosok tersebut. Bisa jadi itu pejuang kemerdekaan, ataupun sesosok orang yang dapat menginspirasi hidup suatu kaum. Begitu pula dengan penulis hanya Bapak dan mamak (Ibu)  lah yang menjadi pahlawan dalam hidup, meski penulis hafal nama-nama pahlawan nasional yang tercantum dalam setiap buku-buku sejarah dan sangat faham akan besarnya jasa-jasa mereka untuk negara, namun kesohoran, kekuatan dan besarnya jasa mereka semua belum dapat menandingi sosok yang sangat luar biasa yang ada dalam hidup yaitu Bapak dan Mamak, Mamak rela bertaruh nyawa demi anak yang belum tentu mempertaruhkan nyawa untuknya, Bapak senantiasa membating tulang dan tidak pernah mengeluh akan panasnya terik matahari yang senantiasa membakar kulit.

Siapapun nama pahlawan yang ada dalam hidup kita. Kita harus merasa bangga karena banyak pahlawan yang berjuang untuk bangsa ini, tanpa mereka kita tidak dapat menikmati kemerdekaan. Semoga akan lebih banyak lagi pahlawan yang muncul sehingga dapat memajukan tanah air tercinta dan setiap kita adalah salah satunya.

Tak ada penghargaan tanpa pengorbanan,

Tak ada kemenagan tanpa pejuangan,

Selamat hari pahlawan para pejuang bangsa.

Penulis : Cahyani Eka Putri (Mahasiswa IAIN Jurai Siwo Metro)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Puaskah anda terhadap Pembangunan Lampung timur saat ini?
  masih perlu banyak pembenahan
  puas
  Tidak Puas
  sangat tidak Puas
  Tidak Tau

Komentar Terakhir

  • Jasa Bangun Rumah

    Infonya sangat berguna bagi kami, Thank you. https://jasaseo.website | ...

    View Article
  • Poe Dameron The Last Jedi Jacket

    Thanks a lot for the kind of perfect topic I have not a lot of information about ...

    View Article
  • Eka octalia

    Thanks Simaknews.com .. semakin Jaya ...

    View Article
  • Justice League Jacket in Cheap Price

    Thanks for sharing this wonderful information. I definitely need to inform you that I ...

    View Article